Kompas.com - 08/12/2021, 16:32 WIB
Puncak gunung berapi tipe Strato-volcano Merapi menjulang dengan ketinggian 2.978 meter di kawasan Provinsi DI Yogyakarta dan Jawa Tengah, Minggu (21/4/2013). Meskipun memiliki risiko bencana alam, jutaan warga terus bertahan bermukim di kaki gunung itu antara lain karena kesuburuan tanah vulkaniknya yang memungkinkan mereka hidup dengan bercocok tanam. KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKOPuncak gunung berapi tipe Strato-volcano Merapi menjulang dengan ketinggian 2.978 meter di kawasan Provinsi DI Yogyakarta dan Jawa Tengah, Minggu (21/4/2013). Meskipun memiliki risiko bencana alam, jutaan warga terus bertahan bermukim di kaki gunung itu antara lain karena kesuburuan tanah vulkaniknya yang memungkinkan mereka hidup dengan bercocok tanam.
Penulis Lulu Lukyani
|

KOMPAS.com – Masyarakat yang tinggal di dekat gunung berapi, terutama yang masih aktif, memang rentan akan potensi bencana akibat erupsi.

Namun, lingkungan vulkanik dapat menjadi lokasi yang baik untuk bertani. Pasalnya, tanah vulkanik adalah tanah yang subur untuk bercocok tanam.

Dilansir dari British Geological Survey (BGS), endapan vulkanik diperkaya dengan unsur-unsur seperti magnesium dan kalium.

Saat abu dan batuan vulkanik lapuk, unsur magnesium dan kalium akan dilepaskan dan menghasilkan tanah yang sangat subur.

Lapisan tipis abu dapat bertindak sebagai pupuk alami yang mampu menghasilkan peningkatan panen pada tahun-tahun setelah letusan.

Baca juga: Letusan Gunung Semeru dan Jaminan Kesuburan untuk Masa Depan

Merespons lingkungan gunung berapi, petani di sekitar pun tentu sudah menyesuaikan tanaman yang ditanam agar sesuai dengan berbagai jenis abu.

Endapan vulkanik (terutama abu) juga cukup berpori sehingga dapat mempertahankan kelembapan lebih lama daripada tanah non-vulkanik.

Akibatnya, tanah yang dekat dengan gunung berapi seringkali cocok untuk dijadikan lahan pertanian.

Di samping itu, lingkungan gunung berapi juga dapat menghasilkan mineral yang kaya atau deposit bijih logam ketika batuan “dimasak” dalam air yang sangat panas dalam proses alterasi hidrotermal.

Tembaga terbentuk di bagian kerak Bumi yang telah terdorong ke atas. Dahulu kala, air laut bersirkulasi melalui kerak samudera vulkanik dan dipanaskan hingga 350 derajat celcius.

Air panas ini menjadi asam dan merusak batu yang dilaluinya, menjadi kaya akan unsur-unsur seperti tembaga.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.