Kompas.com - 08/12/2021, 13:01 WIB
Ilustrasi malaria, obat malaria, penyakit malaria, pengobatan malaria. SHUTTERSTOCK/Green AppleIlustrasi malaria, obat malaria, penyakit malaria, pengobatan malaria.

KOMPAS.com - Pandemi Covid-19 berdampak ke banyak hal, termasuk gangguan perawatan kesehatan di seluruh dunia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), terpuruknya fasilitas kesehatan ini meningkatkan jumlah kematian akibat malaria.

Dikatakan WHO, Senin (6/12/2021), malaria membunuh 69.000 lebih banyak orang pada 2020 dibanding tahun sebelumnya.

Secara total, pada 2020 ada lebih dari 627.000 orang di seluruh dunia - kebanyakan dari mereka adalah bayi di bagian termiskin Afrika - tewas akibat malaria. Sebagai perbandingan, pada 2019 tercatat ada 558.000 kematian akibat malaria.

Jumlah tersebut melampaui 224.000 orang yang dilaporkan telah meninggal akibat virus corona di Afrika sejak awal pandemi.

Baca juga: Panduan Terbaru WHO, Terapi Plasma Konvalesen Tidak untuk Covid-19

Dikutip dari Reuters, Senin (6/12/2021), WHO mengungkap bahwa meningkatkan korban meninggal akibat malaria pada 2020 disebabkan oleh kebijakan pencegahan Covid-19 yang mengganggu diagnosis dan pengobatan malaria.

Di tahun 2020, WHO memperingatkan bahwa gangguan layanan kesehatan di Afrika Sub-Sahara mungkin akan membuat korban kematian akibat malaria naik dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

Namun data yang dimiliki WHO, ternyata jumlah kematian akibat malaria di kawasan itu naik 12 persen dibanding tahun 2019.

"Berkat upaya mendesak dan berat, kami dapat mengklaim bahwa dunia telah berhasil mencegah skenario terburuk kematian akibat malaria," kata Pedro Alonso, direktur program malaria global WHO.

Baca juga: Peneliti Ungkap Parasit Malaria Mampu Bersembunyi di Organ Limpa

Para ahli berharap perang melawan malaria mungkin mendapatkan landasan yang cukup besar setelah rekomendasi WHO pada bulan Oktober bahwa RTS,S atau Mosquirix, vaksin yang dikembangkan oleh pembuat obat Inggris GlaxoSmithKline (GSK.L) harus diberikan secara luas kepada anak-anak di Afrika.

“Dengan peningkatan pendanaan, akses ke alat penyelamat jiwa, dan inovasi yang kuat dalam alat baru untuk tetap berada di depan nyamuk dan parasit yang berkembang, kami dapat mempercepat tindakan transformatif dan mengakhiri malaria dalam satu generasi,” kata Abdourahmane Diallo, kepala eksekutif RBM Kemitraan untuk Mengakhiri Kelompok Advokasi Malaria.

"Kita sekarang berada pada titik kritis, dan saya mendesak para pemimpin global untuk memperbarui komitmen dan investasi," katanya dalam sebuah pernyataan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.