Kompas.com - 06/12/2021, 12:01 WIB
Ilustrasi varian Omicron. Varian baru Covid-19 Omicron (B.1.1.529) telah dilaporkan 40 negara hingga Minggu (5/12/2021). Tidak ada laporan kematian karena Omicron. SHUTTERSTOCK/angellodecoIlustrasi varian Omicron. Varian baru Covid-19 Omicron (B.1.1.529) telah dilaporkan 40 negara hingga Minggu (5/12/2021). Tidak ada laporan kematian karena Omicron.

KOMPAS.com - Hingga Minggu (5/12/2021), varian Omicron telah diidentifikasi di 40 negara dan tidak ada kematian yang dilaporkan karena Omicron. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) jumlah ini akan terus bertambah.

WHO telah mengatakan, perlu waktu beberapa minggu untuk lebih memahami varian Omicron. Ini termasuk mengetahui seberapa menular Omicron, apakah menyebabkan penyakit lebih parah, dan seberapa efektif vaksin untuk melawannya.

Salah satu yang ditemukan peneliti Afrika Selatan belum lama ini, varian Omicron tiga kali lebih mungkin menginfeksi ulang penyintas Covid-19 dibanding varian Delta dan Beta.

Kendati demikian, ada temuan lain yang melegakan. Pada Jumat (3/12/2021), WHO mengatakan bahwa sejauh ini tidak ada kematian yang dilaporkan terkait varian Omicron.

Baca juga: Studi: Varian Omicron Lebih Mudah Menginfeksi Ulang Penyintas Covid-19

Namun di sisi lain, WHO mengatakan munculnya Omicron dapat menyebabkan kenaikan lebih dari setengah kasus Covid-19 di Eropa dalam beberapa bulan ke depan.

Menurut kepala Palang Merah Francesco Rocca, munculnya Omicron adalah bukti nyata dari bahaya tingkat vaksinasi global yang tidak merata.

"Komunitas ilmiah sudah memperingatkan munculnya varian baru di kawasan dengan tingkat vaksinasi sangat rendah," kata Rocca dikutip dari The Guardian, Sabtu (4/12/2021).

"Sulit dipercaya, kita masih belum menyadari bahwa kita saling berhubungan. Inilah mengapa saya menyebut varian Omicron sebagai bukti pamungkas, bukti nyata," imbuh dia.

Dilansir dari Aljazeera, Jumat (3/12/2021), Kepala ilmuwan WHO Soumya Swaminathan mendesak semua orang untuk tidak panik atas munculnya varian Omicron.

Dia berkata, masih terlalu dini untuk mengetahui apakah vaksin Covid-19 harus dimodifikasi untuk melawan varian Omicron.

Sebaliknya, respons yang tepat saat ini adalah selalu bersiap, berhati-hati, dan tidak panik dalam menghadapi Omicron.

"Seharusnya seberapa khawatir kita? Kita harus siap dan hati-hati, jangan panik. karena situasi saat ini berbeda dengan tahun lalu," ungkap Swaminathan dalam konferensi pers.

Swaminathan mengatakan, munculnya Omicron memang tidak diharapkan tapi saat ini dunia sudah jauh lebih siap menghadapinya mengingat sudah cukup banyak yang diketahui tentang virus corona SARS-CoV-2 dan kita punya vaksin.

Baca juga: Varian Omicron Mungkin Mengambil Gen Virus Flu Biasa, Peneliti Jelaskan

Sementara itu, direktur kedaruratan WHO Mike Ryan mengatakan dunia saat ini memiliki vaksin yang sangat efektif melawan Covid-19.

"Dan fokus kita harus pada mendistribusikan vaksin secara lebih luas," ungkap Mike Ryan dikutip dari BBC News, Sabtu (4/12/2021).

Negara-negara di seluruh dunia telah mengumumkan larangan perjalanan terhadap negara-negara Afrika selatan setelah deteksi pertama Omicron.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.