Kompas.com - 04/12/2021, 09:01 WIB
Ilustrasi varian baru virus corona ditemukan di Botswana, Afrika Selatan. Ilmuwan setempat memperingatkan varian baru Covid-19 yang disebut B.1.1.529 dapat menghindari kekebalan dan berpotensi meningkatkan penularan. Varian Omicron ini telah dilaporkan ke WHO, dan menunjukkan penyebaran sangat cepat di Afrika Selatan. SHUTTERSTOCK/LightspringIlustrasi varian baru virus corona ditemukan di Botswana, Afrika Selatan. Ilmuwan setempat memperingatkan varian baru Covid-19 yang disebut B.1.1.529 dapat menghindari kekebalan dan berpotensi meningkatkan penularan. Varian Omicron ini telah dilaporkan ke WHO, dan menunjukkan penyebaran sangat cepat di Afrika Selatan.


KOMPAS.com - Sejak dilaporkan akhir November lalu, varian Omicron terus dipelajari, terutama kekhawatiran dunia menyangkut mutasi virus di dalamnya. Sebuah teori baru menduga bahwa varian Omicron mungkin telah berevolusi pada tikus.

Varian baru virus corona asal Afrika Selatan, varian Omicron diidentifikasi kemungkinan telah berevolusi pada spesies hewan dan bukan manusia.

Salah satu kemungkinan yang diungkapkan ilmuwan yakni berevolusi pada hewan pengerat, yakni tikus.

Menurut teori ini, seperti dilansir dari Live Science yang dikutip dari STAT, Jumat (3/12/2021), seekor hewan mungkin telah terinfeksi virus SARS-CoV-2, virus penyebab Covid-19, sekitar pertengahan tahun 2020.

Ilmuwan berasumsi, setelah mengumpulkan banyak mutasi virus pada hewan, virus corona yang diubah kemudian membuat lompatan kembali dengan menulari manusia.

Rantai kejadian ini dapat digambarkan sebagai reverse zoonosis, di mana patogen berpindah dari manusia ke hewan, diikuti oleh zoonosis, yang mana kuman berpindah dari hewan ke manusia.

Baca juga: Virus Corona Varian Omicron Terdeteksi di Malaysia dan Singapura

Salah satu bukti kunci untuk mendukung teori varian Omicron berevolusi pada tikus, adalah bahwa varian B.1.1.529 Omicron telah menyimpang sangat jauh dari virus aslinya, SARS-CoV-2.

Hal itu disampaikan Kristian Andersen, seorang ahli imunologi di Scripps Research Institute.

Menurut Andersen, dibandingkan dengan teori lain tentang asal-usul varian Omicron, yang disebut berkembang pada orang dengan gangguan kekebalan atau pada populasi manusia dengan pengawasan virus yang buruk, teori evolusi varian Omicron pada tikus adalah yang paling mungkin.

"Mengingat bukti yang tersedia dari cabang (genetik varian Omicron) yang sangat dalam, yang berarti pemisahan awal varian virus corona lainnya, kemudian mutasi itu sendiri, karena beberapa (mutasi virus varian Omicron) di antaranya tidak biasa," jelas Andersen.

Seperti dilaporkan ilmuwan Afrika Selatan saat pertama kali varian baru Omicron muncul, varian virus corona tersebut membawa tujuh mutasi virus.

Mutasi virus varian Omicron yang tinggi ini, menurut Robert Garry, profesor mikrobiologi dan imunologi di Tulane Medical School, memungkinkannya menginfeksi hewan pengerat, seperti tikus.

Baca juga: Varian Omicron Terdeteksi dalam Limbah di Spanyol, Ini Penjelasannya

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.