Kompas.com - 26/11/2021, 07:31 WIB
OSIRIS-REx akan menjadi misi Amerika Serikat pertama yang membawa sampel dari asteroid kembali ke Bumi. Pada 2019, OSIRIS-Rex NASA mendekati asteroid 1999 RQ36, atau asteroid Bennu, dan mulai memetakan permukaan asteroid yang berbatu untuk mengambil sampel. Setelah mengumpulkan sampel, pesawat ruang angkasa OSIRIS-Rex akan kembali ke Bumi pada tahun 2023. NASAOSIRIS-REx akan menjadi misi Amerika Serikat pertama yang membawa sampel dari asteroid kembali ke Bumi. Pada 2019, OSIRIS-Rex NASA mendekati asteroid 1999 RQ36, atau asteroid Bennu, dan mulai memetakan permukaan asteroid yang berbatu untuk mengambil sampel. Setelah mengumpulkan sampel, pesawat ruang angkasa OSIRIS-Rex akan kembali ke Bumi pada tahun 2023.


KOMPAS.com - Asteroid merupakan benda berbatu yang mengorbit matahari. Sebuah misi yang dikirim ke asteroid Bennu mengungkapkan mengapa permukaan benda langit yang mengorbit Matahari ini cenderung tampak berbatu.

Tak hanya mengelilingi matahari, asteroid juga ditemukan di jalur orbit planet lain termasuk Bumi. Asteroid adalah sisa-sisa batuan tanpa udara yang berasal dari proses terbentuknya Tata Surya.

Sebagian besar asteroid memiliki regolith yang terbentuk dari debu, pecahan batu, serta material lainnya.

Para peneliti awalnya menduga salah satu asteroid yang pada saat itu diteliti, yaitu Asteroid Bennu memiliki permukaan seperti pantai berpasir halus dan kerikil di sekitarnya.

Pengamatan teleskopik juga membuktikan adanya permukaan seperti petak besar berbutir halus atau regolith halus di sana, seperti dilansir Tech Explorist, Sabtu (23/10/2021).

Namun, ketika misi OSIRIS-REx yang dilakukan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) tiba di asteroid Bennu pada tahun 2018.

Baca juga: Pada 2182, Ada Kemungkinan Asteroid Bennu Tabrak Bumi

 

Misi ini memperlihatkan permukaan asteroid Bennu yang berbatu, tertutup batu-batu besar, dan hanya ada sedikit regolith halus.

Kemudian para peneliti yang melakukan misi tersebut mengamati proses di mana batu-batu besar digiling menjadi regolith halus.

Penelitian inilah yang membuka jalan bagi mereka untuk menjawab penyebab mengapa asteroid tampak berbatu.

Salah satu penulis studi sekaligus peneliti utama OSIRIS-REx NASA, Dante Lauretta menjelaskan bahwa kata REx dalam misi OSIRIS-REx adalah singkatan dari Regolith Explorer.

Artinya, tujuan utama misi tersebut adalah memetakan dan mengarakterisasi permukaan asteroid.

“Pesawat ruang angkasa mengumpulkan data dengan resolusi sangat tinggi di seluruh permukaan (asteroid) Bennu, yang (resolusinya) turun hingga 3 milimeter per piksel di beberapa lokasi. Di luar alasan ilmiah, kurangnya regolith menjadi tantangan bagi misi itu sendiri karena pesawat ruang angkasa dirancang untuk mengumpulkan material tersebut,” ujar Lauretta.

Baca juga: Wahana NASA Mendarat di Asteroid Bennu, Selidiki Penciptaan Tata Surya

Ilustrasi asteroid Bennu dengan wahana antariksa OSIRIS-REx.NASA Ilustrasi asteroid Bennu dengan wahana antariksa OSIRIS-REx.

Selanjutnya, Saverio Cambioni, seorang peneliti dari University of Arizona, menggunakan mesin pembelajaran dan data suhu permukaan asteroid untuk memecahkan misteri ini. Penelitian tahun 2021 tersebut telah dipublikasikan di jurnal Nature.

Cambioni dan timnya meneliti di Lunar and Planetary Laboratory, dan akhirnya menemukan bahwa permukaan asteroid Bennu memiliki batuan yang sangat berpori. Batuan ini yang mengakibatkan sedikitnya regolith halus di permukaan asteroid.

Dia memaparkan, ketika melihat foto pertama asteroid Bennu, para ilmuwan mencatat beberapa area di mana resolusinya tidak cukup tinggi untuk melihat apakah ada bebatuan kecil atau regolith halus.

"Kami mulai menggunakan pendekatan pembelajaran mesin untuk membedakan regolith halus dari batu menggunakan data emisi termal (inframerah),” jelasnya. 

Menurut dia, hanya mesin yang secara efisien dapat menjelajahi keseluruhan data.

Setelah menyelesaikan analisis data, para peneliti menemukan sesuatu yang dinilai aneh, yaitu regolith halus tidak disebarkan secara acak di asteroid Bennu, tetapi tersebar di bagian batuan tidak berpori dengan jumlah yang sangat sedikit.

"Pada dasarnya, sebagian besar energi tumbukan digunakan untuk menghancurkan pori-pori yang membatasi fragmentasi batuan dan produksi dari regolith halus baru," ungkap Chrysa Avdellidou, peneliti di Pusat Penelitian Ilmiah Nasional Perancis (CNRS).

Baca juga: Wahana NASA Mendarat di Asteroid Bennu, Selidiki Penciptaan Tata Surya

Ditemukan juga bahwa retakan di permukaan disebabkan oleh proses pemanasan dan pendinginan batuan asteroid Bennu.

Sederhananya, saat sebuah asteroid berotasi sepanjang siang dan malam, kemudian bergerak lebih lambat di bagian batuan berpori dibandingkan saat bergerak di batuan yang lebih padat, maka produksi regolith halus pun berkurang.

"Ketika OSIRIS-REx mengirimkan sampel Bennu (ke Bumi) pada September 2023, para ilmuwan dapat mempelajari sampel secara detail. Termasuk menguji sifat fisik batuan untuk memverifikasi penelitian," kata Jason Dworkin, salah satu ilmuwan OSIRIS-REx.

Tim peneliti berpikir bahwa keberadaan petak besar regolith halus ini tidak biasanya terjadi pada asteroid berkarbon. Sebaliknya, bagian permukaan yang banyak memiliki regolith halus umumnya terdapat di asteroid tipe S.

Menurut Cambioni, penelitian ini adalah bagian penting dalam teka-teki untuk menjawab keragaman permukaan asteroid.

Sebab, asteroid telah dianggap sebagai sisa-sisa pembentukan Tata Surya. Jadi bagi para peneliti mendalami evolusi yang telah dialaminya sangat penting dilakukan seiring dengan pemahaman tentang bagaimana Tata Surya terbentuk dan berevolusi.

"Sekarang setelah kita mengetahui perbedaan mendasar antara asteroid berkarbon dan asteroid tipe S, tim (peneliti) di masa depan dapat mempersiapkan misi pengumpulan sampel dengan lebih baik tergantung pada sifat asteroid yang dituju,” jelas Cambioni.

Baca juga: Asteroid Bennu Jauh Lebih Aktif dari Perkiraan Sebelumnya

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Penyakit Tifus: Penyebab, Gejala, dan Jenis-jenisnya

Penyakit Tifus: Penyebab, Gejala, dan Jenis-jenisnya

Kita
Kabar Baik, Populasi Jerapah Meningkat 20 Persen, Ini Kata Ilmuwan

Kabar Baik, Populasi Jerapah Meningkat 20 Persen, Ini Kata Ilmuwan

Fenomena
[POPULER SAINS]: Penyebab Letusan Gunung Krakatau 1883 | Karbon Purba Mars | Fenomena Aphelion | Gunung Merapi Semburkan Awan Panas

[POPULER SAINS]: Penyebab Letusan Gunung Krakatau 1883 | Karbon Purba Mars | Fenomena Aphelion | Gunung Merapi Semburkan Awan Panas

Oh Begitu
Hasil Tes Covid dari Alat RT-LAMP BRIN Diklaim Bisa Keluar Kurang dari Satu Jam

Hasil Tes Covid dari Alat RT-LAMP BRIN Diklaim Bisa Keluar Kurang dari Satu Jam

Oh Begitu
Roket Falcon 9 SpaceX Berhasil Luncurkan 49 Satelit Internet Starlink ke Luar Angkasa

Roket Falcon 9 SpaceX Berhasil Luncurkan 49 Satelit Internet Starlink ke Luar Angkasa

Fenomena
Gunung Merapi Semburkan Awan Panas, Waspada Radius 5 KM dari Puncak

Gunung Merapi Semburkan Awan Panas, Waspada Radius 5 KM dari Puncak

Fenomena
Penyebab Kanker Limpa dan Faktor Risikonya

Penyebab Kanker Limpa dan Faktor Risikonya

Kita
Atom yang Mendapatkan atau Melepas Elektron untuk Pembentukan Ion

Atom yang Mendapatkan atau Melepas Elektron untuk Pembentukan Ion

Prof Cilik
Inti Sel: Pengertian, Fungsi, dan Bagian-bagiannya

Inti Sel: Pengertian, Fungsi, dan Bagian-bagiannya

Kita
Matahari akan Terbenam Lebih Lambat di Indonesia Akhir Januari 2022, Ada Apa?

Matahari akan Terbenam Lebih Lambat di Indonesia Akhir Januari 2022, Ada Apa?

Fenomena
Fenomena Ekuiluks Terjadi di Indonesia Sebulan ke Depan, Apa Dampaknya?

Fenomena Ekuiluks Terjadi di Indonesia Sebulan ke Depan, Apa Dampaknya?

Fenomena
Fenomena Salju di Gurun Sahara, Ahli Jelaskan Penyebabnya

Fenomena Salju di Gurun Sahara, Ahli Jelaskan Penyebabnya

Fenomena
Mengenal Barometer, Alat untuk Mengukur Tekanan Udara

Mengenal Barometer, Alat untuk Mengukur Tekanan Udara

Oh Begitu
Mantan Menkes Siti Fadilah Sebut Omicron Bisa Dilawan dengan Obat, Benarkah Efektif?

Mantan Menkes Siti Fadilah Sebut Omicron Bisa Dilawan dengan Obat, Benarkah Efektif?

Oh Begitu
Pengertian Medan Magnet dan Penerapannya dalam Kehidupan Sehari-hari

Pengertian Medan Magnet dan Penerapannya dalam Kehidupan Sehari-hari

Oh Begitu
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.