Kompas.com - 10/11/2021, 19:01 WIB

KOMPAS.com - Perhitungan ahli di pembahasan iklim COP26 menunjukkan bahwa komitmen yang dijanjikan sejauh ini belum menunjukkan hasil signifikan.

Climate Action Tracker (CAT) telah merilis analisis janji nasional yang dibuat di COP26 sejauh ini dan membandingkannya dengan yang diajukan tahun lalu.

Temuan utamanya, target jangka pendek pada 2030 tidak terpenuhi. Ahli memprediksi suhu bumi naik 2,4 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri.

Dari analisis apa yang telah dilakukan negara-negara – bukan proposal yang diajukan – analisis baru menunjukkan suhu global bumi bisa naik 2,7 derajat Celsius pada tahun 2100.

Baca juga: Studi Baru Ungkap Tanaman Pangan Bakal Terdampak Perubahan Iklim

Padahal, target yang diinginkan untuk membatasi pemanasan global adalah 1,5 derajat Celsius.

Setiap kenaikan suhu di atas 2 derajat Celsius akan mengakibatkan peningkatan dampak perubahan iklim.

"Perhitungan baru ini seperti teleskop yang menangkap pergerakan asteroid menuju Bumi," kata Jennifer Morgan, Direktur Eksekutif Greenpeace Internasional dalam sebuah pernyataan.

“Hasil ini mengkhawatirkan. Semua pemimpin negara yang saat ini ada di Glasgow harus mengesampingkan perbedaan pendapat dan kita harus bekerja keras demi menyelamatkan masa depan," imbuhnya seperti dilansir IFL Science, Selasa (9/11/2021).

“Kami memiliki waktu hingga akhir pekan untuk membalikkan keadaan ini."

Tepat sebelum COP26, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merilis sebuah laporan yang menemukan bahwa janji 2030 akan menghasilkan kenaikan suhu global sebesar 2,7 derajat Celsius pada tahun 2100.

Jadi, meskipun ada sedikit kemajuan di masa lalu, para pemimpin dunia masih memiliki banyak kekurangan untuk mencegah bencana perubahan iklim.

Di luar target 2030, lebih dari 140 pemimpin negara di seluruh dunia mengumumkan target net zero, yang mencakup 90 persen emisi global.

Namun, tidak jelas bagaimana sebagian besar negara akan mencapai ini.

Analisis CAT menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil dari negara-negara ini yang memiliki rencana yang layak untuk mencapai emisi nol bersih.

Sementara implementasi penuh dari janji-janji ini berpotensi mengurangi pemanasan global 1,8 derajat Celsius pada tahun 2100.

Mereka menyebut ini sebagai optimisme yang naif mengingat kurangnya rencana yang ada.

Baca juga: Minggu Kedua COP26, Indonesia Pastikan Janji-janji Pendanaan Iklim

COP26 berakhir pada 12 November, yang berarti para delegasi memiliki sedikit waktu untuk membangun janji mereka dengan menutup kesenjangan besar antara kebijakan mereka saat ini dan tujuan bersih nol mereka. Tidak semua orang optimis ini akan tercapai dalam beberapa hari lagi.

“Sebagian besar tindakan dan target 2030 tidak konsisten dengan tujuan net zero. Ada kesenjangan hampir satu derajat antara kebijakan pemerintah saat ini dan tujuan nol bersih mereka,” Bill Hare, CEO Climate Analytics, organisasi mitra CAT, mengatakan dalam sebuah penyataan.

“Para pemimpin perlu dimintai pertanggungjawaban atas kesenjangan besar-besaran tahun 2030 ini. Jika kita menunggu lima tahun lagi dan hanya membahas komitmen 2035, batas 1,5 derajat Celsius mungkin hilang,” Profesor Niklas Höhne dari NewClimate Institute, organisasi mitra CAT lainnya, menambahkan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.