Kompas.com - 09/11/2021, 10:05 WIB
Ilustrasi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan industri menyebabkan suhu global meningkat. Ancaman perubahan iklim semakin nyata. SHUTTERSTOCK/Victor LauerIlustrasi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan industri menyebabkan suhu global meningkat. Ancaman perubahan iklim semakin nyata.

KOMPAS.com - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merilis laporan terbarunya di tengah KTT iklim COP26 Glasglow di Skotlandia.

Dalam laporan berjudul The Adaptation Gap Report 2021: The Gathering Storm yang disusun oleh United Nations Environment Programme (UNEP), organisasi ini meminta negara di dunia untuk meningkatkan pembiayaaan dan implementasi tindakan yang dirancang untuk beradaptasi dengan dampak perubahan iklim yang makin meningkat.

Sebelumnya Perjanjian Paris menunjukkan pemanasan global sebesar 2,7 derajat Celcius akan terjadi pada akhir abad ini.

Baca juga: Perubahan Iklim, Harga Pangan Cetak Rekor Tertinggi 10 Tahun Terakhir

Meski dunia membatasi pemanasan hingga 1,5 derajat Celcius seperti disepakati dalam perjanjian, banyak risiko yang tetap terjadi dan dampak perubahan iklim masih ada selama beberapa dekade yang akan datang.

Mitigasi yang kuat adalah cara terbaik untuk menurunkan dampak dan biaya jangka panjang. Itu mengapa perlu langkah perubahan adaptasi dalam hal pendanaan dan implementasi untuk mengurangi kerusakan dan kerugian dari perubahan iklim.

"Saat dunia berupaya meningkatkan upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca, dunia juga harus meningkatkan upaya untuk beradaptasi dengan perubahan iklim," kata Inger Andersen, direktur eksekutif Program Lingkungan PBB seperti dikutip dari Phys, Senin (8/11/2021).

Namun Dr. Alistair Hunt, salah satu penulis utama laporan tersebut mengungkapkan bahwa kebijakan dan perencanaan untuk adaptasi perubahan iklim yang dibuat tak seimbang dengan pembiayaan dan implementasinya.

Baca juga: COP26: Afrika dapat Menyelamatkan Dunia dari Perubahan Iklim, Ini Alasannya

Misalnya saja laporan tersebut menyoroti meski ada program adaptasi yang berlangsung di negara berkembang tetapi jumlah pendanaan masih kurang.

Laporan menemukan bahwa biaya adaptasi untuk negara berkembang kemungkinan besar akan lebih tinggi dari perkiraan yakni $140-300 miliar (sekitar Rp 1,9 triliun - Rp 4,2 triliun) per tahun pada tahun 2030 dan $280-500 miliar (sekitar Rp 3,9 triliun - Rp 7,1 triliun) per tahun pada 2050.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber PHYSORG
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.