Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU)

Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) adalah organ departementasi Nahdlatul Ulama yang berfungsi sebagai pelaksana kebijakan–kebijakan Nahdlatul Ulama dalam ranah falakiyah, yaitu ilmu astronomi yang ditujukan bagi pelaksanaan aspek–aspek ibadah Umat Islam. LFNU ada di tingkat pusat (PBNU), propinsi (PWNU) hingga kabupaten / kota (PCNU). Lembaga Falakiyah PBNU berkedudukan di Gedung PBNU lantai 4, Jl. Kramat Raya no. 164 Jakarta Pusat.

Fajar Semu, Fajar Nyata, dan Waktu Subuh Indonesia (4)

Kompas.com - 02/11/2021, 19:30 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Oleh: KH Salam Nawawi, KH Djawahir Fahrurrazi, KH Abdul Muid Zahid, KH Muhyidin Hasan, M. Basthoni, Ismail Fahmi, Eka Puspita Arumaningtyas, Nihayatur Rohmah, Imam Qustholaani, Rukman Nugraha, Suaidi Ahadi, KH Ahmad Yazid Fattah, KH Shofiyulloh, Djamhur Effendi, Khafid, Hendro Setyanto, Ahmad Junaidi, KH Imron Ismail, Mutoha Arkanuddin, Syifaul Anam, dan Muh. Ma’rufin Sudibyo

Pada tiga bagian sebelumnya, kita telah mempelajari bagaimana ragam pendapat tentang terbitnya cahaya fajar sebagai penanda awal waktu Subuh, yang menjadi fungsi dari sudut depresi Matahari (SDM).

Juga telah kita pelajari bagaimana Lembaga Falakiyah PBNU berpendapat yang dimaksud cahaya fajar–nyata adalah munculnya cahaya fajar–nyata samar, yakni berkas cahaya selain cahaya fajar–semu yang muncul tepat di kaki langit timur meskipun samar–samar.

Intensitas cahaya fajar–nyata samar demikian rendah, sehingga kita belum bisa mengenali wajah orang lain yang berdiri di samping kita, karena masih terasa gelap.

Dan telah pula kita pelajari pentingnya kedudukan cahaya fajar–semu sebagai upaya memahami persoalan ini dengan komprehensif.

Baca juga: Fajar Semu, Fajar Nyata, dan Waktu Subuh Indonesia (1)

Tim Kajian Awal Waktu Subuh Lembaga Falakiyah PBNU beranggotakan 8 (delapan) peneliti cahaya fajar, yang telah berkecimpung di bidangnya dalam sedasawarsa terakhir.

Diantaranya Dr. Nihayatur Rohmah, salah satu ahli falak perempuan pertama di Indonesia, sekaligus perintis penelitian empirik cahaya fajar.

Penelitian multilokasinya sepanjang 2010–2013 menjadi bahan disertasi yang berhasil dipertahankannya dengan baik.

Lalu ada Ir. KH Djawahir Fahrurrazi, M.Sc, peneliti geodesi yang turut terjun dalam penelitian cahaya fajar di 2012.

Lantas ada Imam Qustholaani, yang berhasil mempertahankan tesisnya tentang cahaya fajar di 2018 dan memelopori penggunaan SQM.

Kemudian ada Dr. (cand) HM Basthoni yang bekerja sama dengan tim Lembaga Falakiyah PCNU Gresik (Jawa Timur) di bawah komando duo KH Muhyidin Hasan dan KH Abul Moeid Zahid.

Penelitian mereka berlangsung sejak 2018 hingga sekarang dan menyedot perhatian besar pada komunitas periset cahaya fajar.

Untuk riset–riset yang tak bertujuan publikasi akademik, terdapat Ismail Fahmi dengan penelitian multilokasinya di berbagai tempat di Indonesia sepanjang 2017 hingga 2020.

Juga terdapat Rukman Nugraha, M.Si dengan penelitian multilokasinya pula yang berbagi data bersama BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika).

Dan terdapat pula Hendro Setyanto, M.Si, astronom senior yang mengambil lokasi pemanen di Lembang (Jawa Barat) dan berperan menjadi sistem pendukung bagi aktivitas penelitian–penelitian di tempat lain.

Lembaga Falakiyah PBNU, 2021 Histogram data yang mengandung ketampakan cahaya fajar – semu (kiri) dan seluruh data yang telah dinyatakan valid dalam pengamatan cahaya fajar di periode 2010 – 2020 oleh para peneliti berlatar belak

Persyaratan Lokasi

Selain temuan signifikannya kedudukan cahaya fajar–semu, tim juga menemukan syarat–syarat lokasi bagi pengamatan cahaya fajar.

Pengamatan tidak bisa dilaksanakan di sembarang lokasi, sembarang waktu dan sembarang kondisi atmosfer.

Lokasi pengamatan harus benar–benar gelap, dengan skala Bortle maksimum 3.

Skala Bortle adalah pemeringkatan kecerlangan langit ke dalam 9 tingkatan terkait polusi cahaya akibat aktivitas manusia.

Pada skala Bortle maksimum 3, maka langit di lokasi harus benar–benar gelap sehingga bintang bermagnitudo +7,0 dapat terlihat mata dan detail struktur selempang Bima Sakti terlihat jelas.

Batasan ini menyebabkan tempat populer seperti Lembang, yang identik dengan balai peneropongan bintangnya, tereliminasi, karena terganggu polusi cahaya.

Lokasi pengamatan tidak boleh terganggu sumber cahaya alamiah dan buatan. Sumber cahaya seperti dari Bulan pada fase perbani, akhirnya membuat langit bertambah terang hingga 6 kali dibanding saat gelap sempurna.

Demikian halnya sumber cahaya buatan, baik yang bersifat permanen seperti penerangan kota dan pemukiman hingga yang bersifat temporer seperti lampu sorot kendaraan.

Dalam salah satu kesempatan pengambilan data, anggota tim memperoleh pengalaman bagaimana lampu sorot kendaraan bermotor yang melintas singkat menyebabkan instrumen mengira langit telah lebih terang meski SDM masih 24º.

Dan atmosfer pada lokasi pengamatan juga tidak boleh tertutupi serakan awan, baik yang statik maupun dinamik.

Kehadiran awan menyebabkan kecerlangan langit berubah–ubah secara dinamik dalam tempo singkat, sehingga kurvanya demikian bergelombang (wavy).

Apabila ketiga faktor tersebut hadir, baik sendiri–sendiri maupun secara bersama–sama, maka titik belok kurva yang dihasilkan instrumen deteksi kecerlangan langit akan bergeser cukup jauh terhadap kondisi sesungguhnya.

Dengan kata lain, bila ketiga faktor tersebut tidak diperhitungkan, maka kurva kecerlangan langit di lokasi tersebut akan menyajikan hasil yang mengecoh (false) dan bisa diikuti penafsiran yang keliru.

Para peneliti Nahdlatul Ulama menggunakan beragam metode guna menentukan titik belok fajar.

Mulai dari analisis gradien, analisis nilai modus, analisis visual, analisis solver hingga pendekatan fungsi linear.

Data juga dibersihkan terlebih dahulu melalui proses reduksi data yang menjadi standar dalam penelitian kuantitatif.

Sehingga data yang tak memenuhi syarat, baik dari aspek lokasi, gangguan cahaya maupun gangguan atmosfer, dieliminasi.

Maka dari seratusan data yang telah diperoleh, proses reduksi menyisakan 37 data yang tak terganggu.

Data–data tersebut memiliki titik belok kurva pada SDM lebih besar dari 18º. Distribusi lokasi pengamatan mulai dari pulau Jawa (Madiun, Klaten, Pati, Rembang, Banyuwangi), pulau Bawean hingga kepulauan Nusa Tenggara (Labuhan Bajo, Kolbano).

Baca juga: Fajar Semu, Fajar Nyata, dan Waktu Subuh Indonesia (2)

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.