Kompas.com - 22/10/2021, 18:02 WIB
Sejumlah petugas kepolisian, Koramil, Pemerintah Kecamatan setempat dan BPBD Kabupaten Bogor telah melakukan penanganan dan evakuasi terhadap para korban terdampak bencana hidrometeorologi di 8 kecamatan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada Senin (8/2/2021) Dok. IstimewaSejumlah petugas kepolisian, Koramil, Pemerintah Kecamatan setempat dan BPBD Kabupaten Bogor telah melakukan penanganan dan evakuasi terhadap para korban terdampak bencana hidrometeorologi di 8 kecamatan di Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada Senin (8/2/2021)
Penulis Lulu Lukyani
|

KOMPAS.com – Fenomena La Nina dikaitkan dengan dampak yang bersifat global, yakni peningkatan curah hujan di wilayah Pasifik Barat, termasuk Indonesia.

Meski berdampak pada peningkatan curah hujan di sejumlah negara, La Nina juga menyebabkan penurunan curah hujan di sebagian pantai timur Asia, bagian tengah Afrika, dan sebagian Amerika bagian tengah.

La Nina juga dapat memicu terjadinya bencana hidrometeorologi yang merupakan bencana menahun yang kerap terjadi pada musim hujan, transisi, atau musim kemarau.

Mitigasi bencana akibat La Nina

Pada musim hujan, bencana hidrometeorologi yang dapat dipicu oleh La Nina adalah banjir, tanah longsor, dan banjir bandang.

Sementara itu, di masa transisi, bencana hidrometeorologi yang biasanya terjadi adalah angin kencang hingga hujan es.

Baca juga: BMKG Tegaskan Fenomena La Nina Bukan Badai Tropis, Lalu Apa Itu?

Sedangkan di musim kemarau, potensi bencana hidrometeorologi yang dihadapi adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta gelombang tinggi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dilansir dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), dalam menghadapi berbagai potensi bencana akibat La Nina, perlu sinergi mulai dari hulu dengan informasi kesiapsiagaan hingga ikut serta dalam operasi TMC untuk penanganan karhutla.

Berikut adalah beberapa langkah yang dilakukan sebagai mitigasi bencana akibat La Nina:

1. Pembuatan informasi cuaca oleh BMKG

BMKG menggunakan berbagai sumber data untuk membuat informasi cuaca, mulai dari data pengamatan dengan menggunakan satelit, 42 radar cuaca, ribuan peralatan observasi secara digital yang terhubung dengan Internet of Things (IoT), dan memperhatikan fenomena atmosfer global dan lokal.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.