Kompas.com - 17/10/2021, 19:30 WIB
Ilustrasi skabies, penyakit kudis, penyakit kulit. WIKIMEDIA COMMONSIlustrasi skabies, penyakit kudis, penyakit kulit.

KOMPAS.com - Epidermolisis Bulosa adalah kelompok penyakit herediter atau penyakit keturunan. Penyakit ini membuat penderitanya mengalami lepuh pada kulit, dan mudahnya mukosa (kulit halus) terpisah dengan jaringan di bawahnya.

Epidermolisis Bulosa termasuk ke dalam penyakit kulit langka dengan insidensi 20 per 1 juta kelahiran.

Kondisi ini dapat terjadi akibat trauma maupun gesekan ringan pada kulit.

Meski bisa diderita siapa saja, Epidermolisis Bulosa paling sering dijumpai pada bayi hingga anak-anak. Penyakit genetik langka ini menyebabkan penderitanya memiliki kulit serapuh sayap kupu-kupu.

Baca juga: 7 Penyakit Kulit yang Langka, Ada yang Sebabkan Kulit Keras dan Tebal

Cara Mencegah Lepuh pada Penderita Epidermolisis Bulosa

Dalam webinar yang digelar DEBRA Indonesia pada Minggu (17/10/2021), Ketua DEBRA Indonesia dr Inne Arline Diana, SpKK(K), FINSDV, FAADV mengatakan bahwa Epidermolisis Bulosatidak bisa disembuhkan, karena belum ada obatnya.

Namun, ia menambahkan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah lepuh pada penderita Epidermolisis Bulosa, di antaranya:

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

- Meminimalkan kontak langsung dengan bayi, dan selalu berhati-hati.

- Pertahankan suhu ruangan dan kelembapan yang dapat memicu munculnya lepuh atau bula.

- Gunakan pakaian dengan bahan lembut, untuk menhindari iritasi.

- Hindari menggunakan plester karena dapat menyebabkan kulit menjadi terluka.

- Gunakan bantalan lembut, dan alas mandi atau handuk yang tebal.

- Pada anak dengan Epidermolisis Bulosa, gunakan sepatu berbahan kanvas atau kain, serta gunakan sendal jelly yang ditaburi tepung jagung di atasnya.

- Beri pelembap agar kulit tidak kering dan mengurangi timbulnya lepuh.

Cara Merawat Luka Epidermolisis Bulosa

Disampaikan dr. Inne, sebelum melakukan tata laksana luka, harus dilihat lebih dulu bagaimana luas lukanya, kedalaman luka, dan banyaknya cairan.

"Kita lihat juga apakah merupakan luka yang akut atau yang kronis," tutur dr Inne.

Lebih lanjut ia menjelaskan, jika akan membalut luka, maka luka harus terlebih dahulu dibersihkan dengan NaCl 0,9 persen atau air bersih, kemudian menusuk lepuh untuk membatasi terjadinya perluasan luka dan pencegahan infeksi.

"Lesi akan lebih cepat sembuh dalam keadaan lembap, karena epitel (lapisan atas kulit dan selaput lendir) lebih aktif. Untuk lesi yang basah kita sebaiknya menggunakan dressing (balutan) yang dapat menyerap cairan," ujar dr. Inne.

"Untuk lesi yang kering kita dapat memberikan hidrogel. Sedangkan untuk lesi yang basah, kita melakukan absropsi dengan dressing," lanjutnya.

Baca juga: 3 Penyakit Kulit yang Muncul saat Musim Hujan, dari Kurap hingga Eksim

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.