Kompas.com - 08/10/2021, 13:01 WIB

KOMPAS.com - Studi terbaru yang terbit di jurnal PLOS Medicine mengungkap dampak nyata polusi udara. Riset itu menemukan, polusi udara baik di luar maupun di dalam ruangan memicu kelahiran pramatur dan bayi lahir dengan berat badan kurang.

Penelitian ini dilakukan oleh para ilmuwan dari University of California, San Francisco dan University of Washington di Seattle.

Dilansir dari Medical News Today, Selasa (5/10/2021), studi itu menemukan bahwa polusi udara berkaitan dengan hampir 6 juta kelahiran prematur dan hampir 3 juta bayi lahir dengan berat badan kurang pada 2019.

Para peneliti mengklaim, ini adalah studi pertama yang menganalisis hasil perinatal karena efek polusi udara di luar dan di dalam ruangan, terutama dari pembakaran batu bara dan kayu di tungku.

Baca juga: Dampak dari Polusi Udara terhadap Kesehatan Manusia

Dalam penelitian itu, ahli menemukan polusi udara dalam ruangan bertanggung jawab pada sekitar dua pertiga kelahiran prematur dan bayi lahir dengan berat badan kurang.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa ada sekitar 15 juta bayi prematur lahir setiap tahun.

Komplikasi yang terkait dengan kelahiran prematur adalah penyebab utama kematian pada anak di bawah 5 tahun, yang mengakibatkan sekitar 1 juta kematian pada tahun 2015.

Berat badan lahir rendah juga memiliki hubungan dengan risiko penyakit di usia dewasa yang lebih besar.

Studi saat ini melihat hubungan antara polusi udara dan beberapa indikator kesehatan perinatal yang penting, termasuk kelahiran prematur, usia kehamilan saat lahir, berat badan lahir, dan berat badan lahir rendah.

Penelitian sebelumnya menyimpulkan bahwa udara yang mengandung kurang dari 2,5 mikrometer partikulat memiliki hubungan dengan hasil perinatal yang merugikan.

“Materi partikulat (PM) telah diidentifikasi sebagai komponen paling beracun berdasarkan sejumlah besar studi epidemiologi dan toksikologi,” kata Prof. K. Max Zhang dari Cornell University dalam email ke Medical News Today.

Dr Zhang mempelajari efek partikel udara tetapi tidak terlibat dalam penelitian ini.

Penulis utama studi Rakesh Ghosh, Ph.D. mengungkapkan, pengalaman kerjanya di pinggiran Kolkata, ibu kota Benggala Barat, negara Bagian India bagian timur adalah yang mendorongnya melakukan penelitian ini.

“Bayangan bayi-bayi yang sakit dan kekurangan gizi di desa-desa itu masih hidup bersama saya sampai hari ini. Itu yang mendorong saya melakukan penelitian ini.”

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.