Kompas.com - 05/10/2021, 22:01 WIB

KOMPAS.com - Memasuki tahun kedua pandemi Covid-19, berbagai penelitian terkait penyakit ini masih terus dilakukan.

Salah satu penelitian baru mengungkap alasan mengapa beberapa orang kurang memiliki pertahanan terhadap Covid-19 dibanding sebagian orang lainnya.

Dalam makalah yang diterbitkan di jurnal Science, kelompok tim peneliti yang berafiliasi dengan sejumlah institusi di Inggris dan Brasil menjelaskan tentang sistem interferon dan perannya dalam memerangi virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.

Baca juga: Nyeri Dada Bisa Jadi Gejala Covid-19, Kok Bisa? Ini Penjelasan Ahli

Melansir Medical Xpress, selama pandemi Covid-19, tampak jelas bahwa beberapa orang memiliki gejala yang jauh lebih serius ketika teinfeksi Covid-19 daripada yang lain.

Beberapa orang ditemukan tidak menunjukkan gejala sama sekali, sementara yang lain menjadi sangat sakit hingga menyebabka mereka meninggal.

Dalam upaya baru ini, para peneliti melakukan skrining ekspresi gen terstimulasi interferon yang ekstensif, untuk mengisolasi kemungkinan enzim yang terlibat dalam memperingatkan sistem kekebalan terhadap infeksi.

Interferon adalah sinyal protein yang memperingatkan tubuh, ketika entitas invasif seperti bakteri dan virus terdeteksi.

Penelitian ini membawa para peneliti mendeteksi OAS1, enzim yang bereaksi terhadap sinyal interferon dengan meminta respons imun ketika virus SARS-CoV-2 terdeteksi.

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan, bahwa OAS1 menempel pada membran menggunakan gugus prenyl sebagai bagian dari proses pensinyalan.

Penelitian sebelumnya juga menunjukkan, bahwa pensinyalan ini dapat menghambat replikasi virus SARS-CoV-2.

Baca juga: Obat dan Vitamin untuk Covid-19 Tanpa Gejala Menurut Dokter

Memperhatikan nilainya dalam melindungi orang dari Covid-19, para peneliti melihat transkriptom dari 500 pasien Covid-19 yang telah mengalami berbagai gejala dan menemukan bahwa mereka yang tidak memiliki OAS1 terprenilasi mengalami gejala yang jauh lebih parah.

Mengapa beberapa orang dilahirkan tanpa enzim tersebut masih menjadi misteri, tetapi pekerjaan tim peneliti dapat membantu menghasilkan jenis vaksin baru untuk melawan Covid-19 dan jenis infeksi lainnya.

Para peneliti kemudian memerhatikan mamalia lain yang mungkin terlibat dalam pandemi—kelelawar tapal kuda.

Mereka menemukan, bahwa binatang tersebut tidak memiliki bentuk OAS1 terprenilasi yang melindungi manusia dari virus. Hal ini membantu menjelaskan, mengapa virus itu sangat mematikan bagi spesies itu.

Namun, temuan ini juga dapat membantu menjelaskan mengapa kelelawar merupakan inang yang sangat produktif bagi berbagai virus.

Baca juga: Banyak Anak Terinfeksi Covid-19 Tanpa Gejala, Mengapa Tetap Terserang Sindrom Peradangan?

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang
 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.