BRIN

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) adalah lembaga pemerintah yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia. BRIN memiliki tugas menjalankan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan, serta invensi dan inovasi yang terintegrasi.

Mengenal Foraminifera, Organisme Kecil di Laut Perekam Perubahan Suhu Bumi

Kompas.com - 04/10/2021, 19:00 WIB
Foram bentos ShutterstockForam bentos

Oleh: Marfasran Hendrizan

PERUBAHAN iklim merupakan fenomena global yang melanda bumi ditandai oleh pemanasan global yang menyebabkan pencairan es, perubahan muka laut, perubahan tingkat curah hujan, kenaikan suhu ekstrem dan lain sebagainya.

Menurut laporan Panel Antarpemerintah Tentang Perubahan Iklim (IPCC) tahun 2021, pemanasan global saat ini telah mengalami kenaikan sebesar 1,1°C sejak 1850 dan diperkirakan akan mencapai 1,5°C dalam 20 tahun ke depan. Dampak pemanasan global tersebut menyebabkan kerugian ekonomi yang besar di berbagai sektor seperti pertanian, perikanan, pariwisata, hingga kesehatan.

Hal ini membutuhkan perhatian yang besar dari berbagai pihak untuk siap siaga dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

Salah satu hal penting yang sangat dibutuhkan adalah informasi sejarah pemanasan global di masa lalu yang berguna untuk mendukung upaya adaptasi dan mitigasi dampak pemanasan tersebut di masa kini maupun kesiapsiagaan di masa depan.

Baca juga: Catatan Karang tentang Perubahan Iklim dari Abad Pertengahan dan Masa Kini

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Informasi perubahan suhu bumi yang diperoleh dari hasil pengukuran dengan instrumen sangat terbatas sehingga dibutuhkan metode lain selain dari pengukuran.

Organisme perekam informasi suhu bumi

Salah satu objek yang menyimpan informasi perubahan suhu bumi yaitu organisme kecil di lautan, khususnya foraminifera. Organisme ini merekam informasi suhu laut pada saat perkembangannya sehingga pada saat organisme ini mati dan terkubur di dalam sedimen laut, maka rekaman suhu dalam foraminifera tersebut tetap tersimpan di dalam sedimen laut.

Foraminifera atau dikenal foram merupakan organisme bersel satu dari kelompok Protista yang memiliki cangkang untuk melindungi bagian tubuh lunaknya. Foram ditemukan di semua kolom air laut dari bagian intertidal hingga laut dalam dan dari lautan tropis hingga lautan di wilayah kutub. Foram sangat melimpah sebagai fosil sejak 540 juta tahun lalu.

Cangkang foram sendiri terbagi menjadi beberapa kamar yang semakin bertambah selama perkembangannya. Komposisi cangkang foram terbentuk oleh senyawa organik, butiran pasir, maupun kristal karbonat (CaCO3) baik kalsit ataupun aragonit.

Foram juga berukuran sangat kecil berkisar antara 100 mikrometer hingga 20 cm. Ia mengambil makanan di laut menggunakan jaringan halus dinamakan pseupodia yang kemudian memasukkan makanan tersebut ke mulut foraminifera. Makanan foram berupa molekul organik, alga, bakteri, diatom, dan binatang kecil atau copepod.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.