Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - Diperbarui 26/12/2022, 08:53 WIB
Nadia Faradiba

Penulis

KOMPAS.com - Bagaimana alam semesta ini pertama kali terbentuk? Apakah langsung ada begitu saja?

Para ahli astronomi hingga saat ini masih berkutat mencari tahu mengenai cara terbentuknya jagat raya. 

Mereka telah merumuskan berbagai teori untuk menjelaskan berbagai kejadian alam semesta. Terdapat beberapa teori yang dirumuskan.

Baca juga: Apakah Ada Bintang Tertua di Alam Semesta?

Teori terbentuknya alam semesta

1. Teori Big Bang

Teori pembentukan alam semesta yang terbaik dan banyak didukung para ahli sampai sekarang adalah Teori Big Bang. Teori ini meyakini bahwa terbentuknya alam semesta berasal dari dentuman yang dahsyat. Teori Big Bang dikemukakan oleh Abbe Lemaitre pada tahun 1920-an.

Teori ini meyakini bahwa alam semesta berasal dari gumpalan atom yang sangat besar. Suhu gumpalan atom ini diperkirakan berkisar antara 10 milyar sampai 1 triliun derajat Celcius.

Gumpalan atom tersebut meledak 15 milyar tahun yang lalu. Sisa-sisa ledakan inilah yang menyebar dan menjadi awan hidrogen. Awan ini membentuk bintang-bintang yang kemudian membuat bintang berpusat membentuk galaksi.

2. Teori keadaan tetap

Teori keadaan tetap dirumuskan oleh H. Bondi, T. Gold, dan F. Hoyle pada tahun 1948. Menurut mereka, alam semesta ini tidak memiliki awal dan tidak memiliki akhir. Tidak ada galaksi yang diawali dari ledakan bola kosmik dan yang semisalnya.

Alam semesta terdiri dari galaksi yang datang saling menggantikan. Galaksi yang tergantikan akan menjauhi galaksi lainnya dalam ekspansinya.

Baca juga: Mengenal Galaksi Andromeda, Galaksi yang Akan Menabrak Bumi

3. Teori osilasi

Teori osilasi memiliki keyakinan yang sama dengan teori keadaan tetap. Namun, teori meyakini adanya ledakan besar.

Teori ini meyakini nanti akan ada gravitasi yang menyedot kembali semua galaksi yang telah ekspansi. Hal ini akan menyebabkan alam semesta menyempit dan memadat, kemudian meledak seperti teori Big Bang.

Hal ini akan terus berulang dan diyakini bahwa alam semesta tidak memiliki akhir.

4. Teori nebula

Setelah adanya teleskop, William Herschel menemukan adanya nebula yang awalnya dianggap sebagai kumpulan gas yang gagal menjadi bintang.

Namun, kemudian dia menemukan bintang dengan halo yang terang di sekitarnya. Halo adalah berkas cahaya yang terang yang muncul di sekitar bintang.

Baca juga: Apa Bintang Paling Besar di Alam Semesta?

Herschel mengambil kesimpulan bahwa bintang itu terbentuk dari nebula, sedangkan halo merupakan sisa dari nebula.

Teori nebula semakin mantap setelah Pierre Laplace menyatakan bahwa awan gas dan debu yang berputar secara perlahan akan menjadi padu akibat gravitasi.

Putaran ini akan semakin cepat. Materi yang di tengah akan menjadi matahari, sedangkan materi yang terlepas akan membentuk sejumlah cincin yang kelak akan menjadi planet.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com