Kompas.com - 26/09/2021, 18:11 WIB

KOMPAS.com - Pembelajaran tatap muka (PTM) sudah dilakukan di berbagai daerah.

Namun dalam prosesnya, terdapat syarat yang harus dilakukan agar tetap aman bagi warga yang bersekolah, terutama anak-anak.

Dalam konferensi pers yang diselenggarakan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dengan topik Update Kajian IDAI terkait Covid-19 pada anak, Prof. Dr. dr. Aman B. Pulungan, Sp.A(K), FAAP, FRCPI(Hon) selaku Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI menjelaskan hal ini.

"Kita ingin sekali sekolah tatap muka ini bisa segera (dilaksanakan), tapi tentu kita meminta sekolah tatap muka yang aman dan bisa menjamin kesehatan anak Indonesia," kata Prof. Arman.

Baca juga: Indonesia Bebas Zona Merah, Epidemiolog: Jangan Lengah, Awas Lonjakan Kasus karena Mobilitas

Melanjutkan pernyataannya, ia juga memberikan syarat atau rekomendasi yang harus dilakukan apabila PTM tetap dilaksanakan, yaitu:

1. PTM bisa dimulai dengan uji coba pada anak yang sudah diimuniasi terlebih dahulu.

2. Positivity rate (angka positivitas) di daerah yang akan melaksanakan PTM harus di bawah 8 persen.

3. Seluruh guru, keluarga murid hingga pegawai harus dipastikan sudah melakukan imunisasi atau vaksinasi.

4. Semua pihak khususnya pegawai sekolah wajib memastikan bahwa seluruh warga sekolah dan murid tetap menjalankan prokes. Salah satunya dengan tidak membuka masker dan makan di sekolah.

5. PTM sebaiknya hanya berlangsung selama 2 sampai 3 jam saja. "Coba dulu (PTM) 2 sampai 3 jam," kata Prof. Aman.

6. Perjalanan anak harus dipastikan hanya dari rumah ke sekolah dan kembali lagi ke rumah tanpa berhenti di tempat lain.

7.  Seluruh fasilitas sekolah harus memiliki sirkulasi udara yang baik dan jumlah murid yang menggunakannya di saat yang sama wajib dibatasi.

Baca juga: Epidemiolog: Puncak Gelombang Ketiga Covid-19 Mungkin Akhir Tahun 2021

Namun permasalahannya adalah, ada banyak laporan bahwa PTM dilaksanakan dengan tidak memperhatikan syarat tersebut, misalnya positivity rate yang belum di bawah 8 persen dan siswa-siswa yang membuka masker serta makan di sekolah.

"Banyak laporan ke kita bahwa ini dimulai dengan anak yang tidak diimunisasi," ujar Prof. Aman.

Prof. Aman mengungkapkan bahwa dalam seminggu terakhir ini, poliklinik mulai penuh dengan anak yang terpapar Covid-19.

Oleh karena itu, dia pun meminta kerja sama dari semua pihak untuk mengawal pembelajaran dan kesehatan anak bisa diperoleh secara bersamaan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.