BRIN

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) adalah lembaga pemerintah yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia. BRIN memiliki tugas menjalankan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan, serta invensi dan inovasi yang terintegrasi.

Penelusuran Jejak Keberadaan Tumbuhan Langka di Gunung Ungaran

Kompas.com - 23/09/2021, 17:05 WIB
Puncak Ungaran via Jalur Promasan dok. PribadiPuncak Ungaran via Jalur Promasan

Oleh: Rizmoon Nurul Zulkarnaen, S.Hut., M.Si.

Salah satu acuan dalam menentukan tumbuhan yang masuk dalam jenis langka dan terancam, adalah menggunakan databased Redlist IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources).

Tiga kategori utama tumbuhan terancam meliputi Rawan (Vulnerable), Genting (Endangered), dan Kritis (Critically Endangered).

Hingga tulisan ini dibuat total tumbuhan Indonesia yang masuk dalam Redlist IUCN berjumlah 856 jenis.

Baca juga: Wisata Cerdas, Menikmati Keindahan Tumbuhan Langka Indonesia Tanpa Harus ke Hutan Belantara

Jumlah ini diprediksi juga akan meningkat seiring dengan kegiatan assessment (penilaian) yang dilakukan oleh stakeholder terkait, seperti LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) yang bekerja sama dengan BGCI (Botanic Gardens Conservation International) dan stakeholder lainnya.

Fakta Indonesia menjadi negara megadiversity dengan tingkat hotspot diversity loss yang tinggi, merupakan kondisi yang tidak bisa dipungkiri.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dalam laporan BGCI, state of the world’s trees (September 2021) juga menyebutkan, bahwa Indonesia termasuk dalam satu negara yang mempunyai persentase jenis tumbuhan terancam yang cukup tinggi dengan komposisi jenis tumbuhan endemik yang tinggi pula.

Tumbuhan langka Gunung Ungaran
Dalam assessment tumbuhan terancam terkini (2021), ada jenis tumbuhan yang kemungkinan menjadi endemik dan hanya diketahui keberadaannya di Gunung Ungaran, Jawa Tengah.

Jenis tersebut adalah Beilschmiedia lancifolia yang termasuk dalam grup famili Lauraceae. Status konservasi terkininya adalah Kritis (Critically Endangered).

Kondisi tersebut menjelaskan, bahwa jenis tersebut perlu segera untuk dikonservasi dan diselamatkan populasinya.

Oleh karena itu, kegiatan penelitian konservasi terhadap jenis itu perlu segera untuk dilakukan.

Sebelumnya, perlu diketahui juga bahwa pengelolaan Kawasan Gunung Ungaran dilakukan oleh Perum Perhutani.

Dalam hal ini, upaya penelurusan keberadaan jenis tersebut telah dilakukan secara menyeluruh di kawasan Gunung Ungaran oleh Tim LIPI (Rizmoon Nurul Zulkarnaen, Hendra Helmanto, dan Wihermanto dari Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya) yang bekerja sama dengan stakeholder terkait (Perum Perhutani Divre 1, KPH Kedu Utara, BKPH Ambarawa).

Baca juga: 8 Spesies Baru Tumbuhan Unik Ditemukan di Hutan Indonesia Selama Pandemi

Hasil penelusuran menunjukkan, bahwa keberadaan populasi jenis Beilschmiedia lancifolia tidak ditemukan di berbagai sisi Gunung Ungaran.

Ada beberapa kemungkinan, kenapa jenis tersebut tidak ditemukan kembali Gunung Ungaran.

Pertama, kemungkinan jenis ini sudah punah. Catatan dokumentasi terakhir terkait jenis tersebut hanya ada 1 dokumen, yaitu pada protolog pertama di tahun 1850an oleh Junghun.

Oleh karena itu, penelusuran yang dilakukan saat ini mempunyai tantangan yang tinggi. Jadi, ada kemungkinan ada perubahan yang tinggi dari kondisi bentang lahan atau habitat sangatlah mungkin terjadi (habitat loss).

Kedua, jangkauan assessment di lapangan yang terbatas. Meski sudah dilakukan perwakilan wilayah dari setiap lereng (lereng utara, barat, timur dan selatan), kemungkinan ada wilayah yang belum terjangkau tetap mungkin saja terjadi.

Misalnya di area tebing curam dan tinggi yang tidak mungkin dijangkau. Segala kemungkinan tetap bisa terjadi. Oleh karena itu, jika ingin dilakukan penelusuran kembali, maka perlu memperhatikan wilayah-wilayah sebelumnya.

Tantangan konservasi tumbuhan di Indonesia

Secara umum, potensi ancaman terbesar kepunahan tumbuhan di dunia diakibatkan adanya habitat loss (kehilangan habitat) dan eksploitasi.

Konversi lahan menjadi lahan pertanian dan perkebunan menjadi penyumbang terbesar akan kerusakan habitat.

Ancaman terbesar kedua adalah dari ekploitasi berlebihan, khususnya untuk komoditas kayu.

Belum lagi, dengan isu perubahan iklim yang tidak menentu juga ke depan pasti akan menjadi ancaman yang serius terhadap kelangsungan hidup regenerasi tumbuhan.

Kondisi yang sama juga terjadi di kawasan-kawasan hutan Indonesia. Keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) dengan luasan hutan menjadi faktor klasik dalam pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA).

Selain itu, ancaman kebakaran lahan hutan juga menjadi permasalahan serius setiap tahunnya, di dalam kawasan hutan-hutan Indonesia.

Oleh karena itu, Pemerintah perlu mengupayakan secara serius dalam kegiatan konservasi tumbuhan.

Tidak lain tujuan mulianya yaitu, mempertahankan dan menyelamatkan tumbuhan asli Indonesia.

Baca juga: 11 Spesies Baru Tumbuhan Baru Indonesia, dari Anggrek hingga Kantong Semar

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.