Kompas.com - 22/09/2021, 18:30 WIB
Ilustrasi gantung diri, bunuh diri. Peneliti kesehatan mental mengatakan bunuh diri bisa menular. SHUTTERSTOCKIlustrasi gantung diri, bunuh diri. Peneliti kesehatan mental mengatakan bunuh diri bisa menular.

KOMPAS.com - Prevalensi kejadian bunuh masih tinggi di banyak negara, termasuk Indonesia. Banyak faktor risiko atau penyebab seseorang, serta tipe orang yang rentan melakukan bunuh diri.

Menurut Asosiasi Internasional untuk Pencegahan Bunuh Diri, setiap 40 detik, seseorang melakukan bunuh diri di seluruh dunia.

Hal ini sama dengan sekitar 800.000 kejadian bunuh diri setiap tahunnya.

Baca juga: Bunuh Diri Bisa Menular, Ini Penjelasan Peneliti Kesehatan Mental

Lebih dari 75 persen kasus bunuh diri terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah (IASP 2021).

Sementara itu, berdasarkan data Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza (P2MKJN) 2019, Kementerian Kesehatan RI menyatakan, di Indonesia terdapat lebih dari 16.000 kasus bunuh diri setiap tahunnya.

Ini artinya, pada tahun tersebut, ada 2,6 kasus bunuh diri per 100.000 orang, dan tingkat bunuh diri pria 3 kali lebih banyak dari wanita.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Siapa saja yang berisiko melakukan bunuh diri?

Ketua Umum Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia, Dr Indria Laksmi Gamayanti, MSi.,Psikolog mengatakan, bunuh diri bisa terjadi di mana saja dan oleh siapa pun.

Akan tetapi, memang ada kecenderungan orang-orang yang sangat berisiko melakukan bunuh diri.

"Individu yang mengalami masalah psikologi berat atau gangguan jiwa, jelas sangat berisiko melakukan bunuh diri," kata Indria dalam diskusi daring bertajuk  Menciptakan Harapan Melalui Aksi Nyata, Sabtu (11/9/2021).

Seseorang yang memiliki masalah psikologi berat atau gangguan jiwa akan dengan mudah mengalami depresi.

Depresi itu pun bisa berasal dari berbagai kondisi yang mengguncangkan jiwa mereka, dan orang tersebut umumnya cenderung sering mengalami beberapa hal berikut dalam hidupnya.

1. Ada predisposisi kerentanan

Orang pertama yang berisiko melakukan bunuh diri adalah mereka yang memiliki predisposisi kerentanan.

Prediposisi kerentanan yang dimaksudkan adalah kondisi tubuh yang rawan atau mudah terjangkit penyakit, dalam kasus ini adalah kecenderungan seseorang untuk menerima atau menolak sesuatu berdasarkan pengalaman dan norma yang dimilikinya tentang bunuh diri.

Orang-orang dengan kerentanan ini, cenderung melihat bunuh diri menjadi suatu hal yang ringan atau sangat mudah untuk dilakukan.

Terlebih hanya dengan melihat, membaca atau menonton perilaku bunuh diri tersebut yang seolah merupakan hal yang biasa saja untuk dilakukan.

2. Deprivasi maternal

Indria melanjutkan, orang-orang berikutnya yang memiliki risiko lebih tinggi untuk melakukan bunuh diri adalah mereka yang memiliki masalah hubungan awal yang tidak harmonis atau deprivasi maternal.

Deprivasi maternal adalah suatu efek yang disebabkan, karena terpisahnya anak dari sosok ibunya sejak bayi atau kecil.

"Anak yang mengalami deprivasi maternal ini karena kurangnya kasih sayang dari ibunya," kata dia.

Akan tetapi, bukan berarti setiap anak yang terpaksa berpisah dengan ibu kandungnya sejak bayi akan melakukan tindakan bunuh diri.

Sebab, bahkan seorang anak yang masih bersama dengan orangtuanya terutama ibunya, juga bisa mengalami deprivasi maternal, jika tidak diberikan perhatian yang baik dalam pengasuhannya.

Baca juga: Ahli Sebut Kasus Bunuh Diri di Indonesia Bagaikan Fenomena Gunung Es

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.