Kompas.com - 21/09/2021, 21:01 WIB
Ilustrasi Asteroid 2021 PH27. Asteroid baru yang ditemukan Agustus 2021 lalu. ShutterstockIlustrasi Asteroid 2021 PH27. Asteroid baru yang ditemukan Agustus 2021 lalu.

KOMPAS.com - Ilmuwan menyebutkan, ada asteorid yang memiliki periode orbit tercepat di tata surya. Asteroid tersebut adalah 2021 PH27.

Asteroid 2021 PH27 adalah asteroid yang pertama kali ditemukan pada 13 Agustus 2021. 

Peneliti di Pusat Sains Antariksa BRIN, Andi Pangerang dalam keterangan tertulisnya mengatakan, astreoid ini termasuk dalam keluarga asteroid Atira, yaitu asteroid yang orbitnya berada di dalam orbit Bumi

Baca juga: Jangan Lewatkan 4 Fenomena Langit Hari Ini, Ada Asteroid 2021 AF8 Lewat Dekat Bumi

Keluarga asteroid Atira juga disebut sebagai Objek Dalam Orbit Bumi atau Interior Earth Object. 

Penyebutan itu dikarenakan jarak aphelion atau titik terjauh objek terhadap Matahari asteroid lebih kecil, dibandingkan jarak aphelion Bumi dengan jarak 0.983 sa atau 147,1 juta km.

Asteroid 2021 PH27 memiliki jarak aphelion sebesar 117.983.472 km, sedangkan jarak perihelion titik terdekat objek terhadap matahari, yaitu 20.067.388 kilometer.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Berdasarkan dari data JPL Small-Body Database Browser (SBDB) NASA mengungkap, asteroid 2021 PH27 mengorbitkan Matahari dengan periode yang lebih kecil atau cepat dibandingkan dengan objek manapun, kecuali Planet Merkurius. 

Asteroid 2021 PH27 mengorbit Matahari dengan kemiringan orbit sebesar 31,66 derajat terhadap ekliptika.

"Asteroid 2021 PH27 mengorbit Matahari selama 114,48 hari; lebih kecil dibandingkan objek manapun yang mengorbit Matahari di tata surya kita, tetapi masih lebih besar dibandingkan dengan Merkurius yang mengorbit Matahari selama 88 hari,"  jelasnya.

Untuk diketahui, Merkurius pada dasarnya akan mengorbit Matahari selama 88 hari, atau dalam 1 tahun Bumi. Sehingga, Merkurius mengorbit Matahari sebanyak empat kali dalam setahun.

Baca juga: Mungkinkah Penambangan Asteroid Dilakukan? Ini Penjelasan Ahli

 

Selain memiliki periode orbit tercepat di tata surya dibandingkan objek manapun, planet yang ditemukan oleh astronom yang bekerja di Carnigie for Science (CIS) menggunakan instrumen Dark Energy Camera (DEC) ini, juga memiliki keunikan orbit lainnya dibandingkan dengan Merkurius.

Orbit asteroid 2021 PH27 ternyata jauh lebih lonjong dibandingkan dengan Merkurius.

Kelonjongan orbit asteroid 2021 PH27 sebesar 0,71, sementara orbit Merkurius sebsar 0,21 atau hampir 3,5 kali lebih kecil dari orbit 2021 PH27.

Andi menjelaskan, asteroid 2021 PH27 mengorbit Matahari dengan kemiringan orbit sebesar 31,66 derajat terhadap ekliptika.

Sehingga, asteroid ini diperkirakan akan mencapai perihelion pada 7 Oktober mendatang.

Serta, ia akan mendekati planet Venus pada 17 Maret dan 26 Oktober 2022, 7 Juni 2023, serta 18 Januari 2024.

Sementara itu, asteroid ini baru akan melintas dekat Bumi dengan aman pada 20 Mei 2024, 8 Mei 2025, 28 April 2026, dan 1 Mei 2031.

Baca juga: Pada 2182, Ada Kemungkinan Asteroid Bennu Tabrak Bumi

Jarak terdekat perlintasan asteroid 2021 PH27 dengan bumi ini adalah sekitar 37.242.414 kilometer dari Bumi.

Kendati menjadi objek dengan periode orbit tercepat di tata surya, Andi menegaskan bahwa Asteroid 2021 PH27 ini tidak termasuk dalam golongan benda langit berbahaya.

Asteroid baru ini diperkirakan berukuran 1 kilometer.

Adapun, prakiraan ukuran ini diperoleh dari magnitudo atau skala kecerlangan mutlaknya sebesar 17,73 dan memantulkan kembali cahaya Matahari 15 persen dari cahaya yang diterima asteroid tersebut.

"Meskipun berukuran 1 kilometer, asteroid 2021 PH27 tidak termasuk ke dalam kelompok Objek Berpotensi Berbahaya (Potential Hazardous Object/HPO),"  jelasnya.

Asteroid 2021 PH27 tidak tergolong objek berpotensi berbahaya, dikarenakan jarak perpotongan orbit minimum atau Minimum Orbit Intersection Distance (MOID) jika diukur dari Bumi sebesar 0.227 sa atau sekitar 34 juta kilometer.

Ini artinya lebih besar dibandingkan dengan MOID Bumi minimum untuk PHO yakni sebesar 0,05 sa atau 7,5 juta kilometer.

Baca juga: Ada Tumbukan Asteroid terhadap Jupiter, Apa Dampaknya ke Bumi?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Misteri Hilangnya Peradaban Kuno di China 4.000 Tahun Lalu Terungkap, Seperti Apa?

Misteri Hilangnya Peradaban Kuno di China 4.000 Tahun Lalu Terungkap, Seperti Apa?

Oh Begitu
Varian Beta dan Omicron dari Satu Negara, Mengapa Afrika Rawan Munculnya Varian Baru Covid-19?

Varian Beta dan Omicron dari Satu Negara, Mengapa Afrika Rawan Munculnya Varian Baru Covid-19?

Oh Begitu
Pecahkan Rekor, Wahana Antariksa Parker Ada di Jarak Terdekat dengan Matahari

Pecahkan Rekor, Wahana Antariksa Parker Ada di Jarak Terdekat dengan Matahari

Oh Begitu
BMKG: Bibit Siklon Tropis 94W di Perairan Kamboja Pengaruhi Cuaca Indonesia

BMKG: Bibit Siklon Tropis 94W di Perairan Kamboja Pengaruhi Cuaca Indonesia

Fenomena
Nikel Indonesia Guncang Dunia, Ini Tanaman Penambang Nikel di Sorowako Sulsel

Nikel Indonesia Guncang Dunia, Ini Tanaman Penambang Nikel di Sorowako Sulsel

Oh Begitu
Ada Varian Baru Omicron, Akankah Gelombang 3 Pandemi Terjadi Akhir Tahun Ini?

Ada Varian Baru Omicron, Akankah Gelombang 3 Pandemi Terjadi Akhir Tahun Ini?

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Apa Itu Pneumonia yang Dialami Ameer Azzikra | Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

[POPULER SAINS] Apa Itu Pneumonia yang Dialami Ameer Azzikra | Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

Oh Begitu
Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

Oh Begitu
Apa Itu Sarkoma Jantung, Kanker yang Diidap Virgil Abloh Sebelum Meninggal Dunia?

Apa Itu Sarkoma Jantung, Kanker yang Diidap Virgil Abloh Sebelum Meninggal Dunia?

Oh Begitu
Varian Baru Omicron 500 Persen Lebih Menular, Perhatikan 6 Hal Ini Sebelum Bepergian Saat Nataru

Varian Baru Omicron 500 Persen Lebih Menular, Perhatikan 6 Hal Ini Sebelum Bepergian Saat Nataru

Oh Begitu
Akibat Es Laut Arktik Mencair, Beruang Kutub Kejar dan Mangsa Rusa

Akibat Es Laut Arktik Mencair, Beruang Kutub Kejar dan Mangsa Rusa

Fenomena
Ameer Azzikra Meninggal karena Pneumonia, Begini Kaitan Pneumonia dan Infeksi Ginjal

Ameer Azzikra Meninggal karena Pneumonia, Begini Kaitan Pneumonia dan Infeksi Ginjal

Oh Begitu
Jejak Dinosaurus di Texas Tampak Aneh, Peneliti Menduga Jejak Kaki Depan Sauropoda

Jejak Dinosaurus di Texas Tampak Aneh, Peneliti Menduga Jejak Kaki Depan Sauropoda

Fenomena
5 Minuman yang Baik untuk Asam Lambung

5 Minuman yang Baik untuk Asam Lambung

Kita
Ikan Nila Mengandung Mikroplastik, Ikan di Pulau Jawa Tak Layak Dikonsumsi

Ikan Nila Mengandung Mikroplastik, Ikan di Pulau Jawa Tak Layak Dikonsumsi

Fenomena
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.