Kompas.com - 21/09/2021, 16:32 WIB
Uji coba sekolah tatap muka tahap dua di SDN Duri Kepa 03, Jakarta Barat, Rabu (9/6/2021).). Kompas.com/Sonya TeresaUji coba sekolah tatap muka tahap dua di SDN Duri Kepa 03, Jakarta Barat, Rabu (9/6/2021).).


KOMPAS.com - Pakar epidemiologi berikan penjelasan terkait desakan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Badan PBB untuk anak-anak (UNICEF) agar Indonesia dapat segera membuka sekolah tatap muka.

Seperti diberitakan Kompas.com, Selasa (21/9/2021), kedua organisasi dunia ini mendesak agar pembelajaran tatap muka dapat segera dilaksanakan kembali.

Bahkan, di daerah dengan tingkat kasus Covid-19 yang tinggi, WHO merekomendasikan agar sekolah dapat dibuka lagi.

Rekomendasi tersebut keluar setelah 18 bulan sekolah di Indonesia memberlakukan kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Kendati demikian, WHO dan UNICEF tetap meminta agar pembukaan sekolah tatap muka dapat tetap dilakukan secara aman, mengingat adanya penularan varian Delta yang tinggi.

"Jadi, penting bahwa ketika kami membuka sekolah, kami juga mengendalikan penularan di komunitas-komunitas itu," ujar Dr Paranietharan, Perwakilan WHO untuk Indonesia dalam keterangan tertulis sebagaimana disampaikan dalam laman resmi WHO, 16 September 2021.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Sekolah Tatap Muka Dimulai, Berikut 6 Tips Pemakaian Masker untuk Anak

 

Menanggapi desakan kepada Indonesia untuk membuka kembali sekolah tatap muka, pakar epidemiologi Griffith University Dicky Budiman kembali menegaskan bahwa sejak awal, strategi penanganan pandemi virus corona ini, bahkan sejak 100 tahun lalu tidak berubah.

"Sekolah itu amat vital dan strategis, karena perlu diingat, ada anak-anak dengan usia yang mana mereka tidak bisa kehilangan waktu emasnya," kata Dicky saat dihubungi Kompas.com, Selasa (21/9/2021).

Dicky menerangkan bahwa di masa tumbuh kembang anak yang berada di dalam masa emasnya, membutuhkan rangsangan multi sensorik, rangsangan untuk berinteraksi tatap muka, serta melakukan berbagai kegiatan fisik.

Kesemuanya itu hanya dapat dilakukan dengan interaksi langsung.

"Selain itu, dalam setiap pandemi, sekolah itulah yang paling akhir ditutup, dan ketika pandemi membaik, bukan mal atau lainnya yang dibuka pertama kali, tetapi sekolah," jelas Dicky.

WHO, dalam keterangannya juga menyampaikan bahwa dampak penutupan sekolah, seperti yang dilakukan di Indonesia, tidak hanya pada pembelajaran siswa. 

Baca juga: Ini Saran Epidemiolog jika Sekolah Tatap Muka Tetap Dimulai Juli 2021

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.