Profesor UGM Adi Utarini Ilmuwan Peneliti Wolbachia Masuk dalam Daftar 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia

Kompas.com - 18/09/2021, 19:02 WIB
Peneliti UGM Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc, MPH, Ph.D. Peneliti Wolbachia, Website UGMPeneliti UGM Prof. dr. Adi Utarini, M.Sc, MPH, Ph.D. Peneliti Wolbachia,


KOMPAS.com - Program Wolbachia Nyamuk Aman Cegah DBD yang dijalankan di Sleman, sukses membawa nama Profesor dr. Adi Utarini, M.Sc, MPH, Ph.d, seorang akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) masuk daftar 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia 2021 versi majalah Time.

Program World Mosquito Program (WMP) Yogyakarta yang dirintis Prof Uut, demikian dia disapa, bersama timnya sejak tahun 2011 telah memberikan dampak positif yang sangat besar dalam upaya pengendalian penyakit demam berdarah dengue (DBD).

Prof Uut adalah peneliti utama dalam program yang digalakkan dengan nama Si Wolly Nyaman bersama dengan Dinas Kesehatan Sleman.

Seperti diberitakan Kompas.com, Jumat (17/9/2021), Prof Adi Utarini masuk dalam kategori Pionir dalam daftar 100 Orang Paling Berpengaruh di Dunia 2021, bersanding dengan sejumlah tokoh, antara lain penyanyi Billie Eilish dan atlet senam Sunisa Lee.

"Bersyukur, itu buat sayakan artinya apa yang dirintis oleh seluruh tim WMP Yogyakarta sejak 2011 sampai dengan saat ini diapresiasi, dihargai dan disemangati oleh berbagai pihak," ucap Prof Uut, Kamis (16/9/2021).

Nyamuk ber-Wolbachia cegah DBD

World Mosquito Program adalah program yang dijalankan bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, DIY, melalui program Si Wolly Nyaman atau Wolbachia Nyamuk Aman Cegah DBD di Sleman.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Studi: Penyebaran Nyamuk ber-Wolbachia Terbukti Efektif Menurunkan Kasus DBD

 

"Program yang sedang berlangsung, kami menitipkan telur nyamuk ber-Wolbachia di rumah orangtua asuh dan fasilitas umum," ujar Prof Adi Utarini.

Prof Uut menjelaskan bahwa uji efikasi Wolbachia telah selasai pada Agustus 2020 dan selanjutnya, program tersebut fokus dalam penerapan teknologi Wolbachia di Kabupaten Sleman.

Dalam program ini,nyamuk ber-Wolbachia diganti setiap dua minggu sekali dalam periode enam bulan.

Setelah penitipan nyamuk-nyamuk ber-Wolbachia, diharapkan persentase Wolbachia mencapai 60 persen atau lebih, sehingga dapat memproteksi dari ancaman demam beradarah dengue (DBD).

Sebelumnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut bahwa demam berdarah dengue sebagai salah satu dari 10 ancaman teratas kesehatan global.

Penyakit demam berdarah dengue adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Gigitan nyamuk ini telah menginfeksi sedikitnya 390 juta orang setiap tahunnya dan membunuh sekitar 25.000 orang.

Lantas, bagaimana teknologi Wolbachia yang diteliti Prof Adi Utarini dan timnya dapat mengendalikan penyakit DBD?

Baca juga: Bakteri Wolbachia Sukses Tekan DBD, Bisakah Diterapkan di Seluruh Indonesia?

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.