Kompas.com - 17/09/2021, 16:25 WIB
Banjir menggenangi kawasan permukiman dan perekonomian di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Selasa (10/2/2015). Jakarta menghadapi masalah penurunan muka tanah. Kondisi itu diperparah oleh semakin minimnya daerah resapan air yang diganti dengan hunian dan gedung-gedung pencakar langit. KOMPAS.com / FIKRIA HIDAYATBanjir menggenangi kawasan permukiman dan perekonomian di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Selasa (10/2/2015). Jakarta menghadapi masalah penurunan muka tanah. Kondisi itu diperparah oleh semakin minimnya daerah resapan air yang diganti dengan hunian dan gedung-gedung pencakar langit.

KOMPAS.com - Fenomena penurunan muka tanah (land subsidence) terjadi di 112 kabupaten/kota di pesisir Indonesia, yang terparah adalah di Pekalongan, Jawa Tengah.

Fakta ini disampaikan oleh Kepala Laboratorium Geodesi Institut Teknologi Bandung Heri Andreas.

"Penurunan tanah di Indonesia terjadi di 112 kabupaten Kabupaten dan Kota pesisir di Indonesia. Itu berdasarkan hasil riset kita ya," kata Heri kepada Kompas.com, Jumat (17/9/2021).

"Mungkin bisa lebih banyak dari itu, tapi sampai saat ini temuan kita 112 kabupaten/kota pesisir," imbuhnya.

Baca juga: Jakarta Diprediksi Tenggelam pada 2050, Begini Solusinya Menurut Ahli

Dia mengatakan, ada beberapa daerah seperti Bandung yang sebenarnya permukaan tanahnya juga turun. Namun karena letaknya yang bukan di pesisir, kota tersebut tidak dimasukkan ke dalam daftar tersebut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kabupaten atau kota pesisir yang dimaksud Heri dalam studinya berada di pesisir utara Jawa, pesisir timur Sumatera, pesisir Kalimantan, sebagian pesisir Sulawesi, dan sebagian pesisir Papua.

Nah, penurunan muka tanah di 112 kabupaten dan kota pesisir ini bervariasi kedalamannya, mulai dari 1-20 sentimeter per tahun.

"Hingga saat ini, yang penurunan muka tanahnya paling tajam atau paling cepat lajunya ada di Pekalongan, Semarang, dan Demak. Baru kemudian Jakarta," ungkap Heri.

Dalam hasil studinya, penurunan muka tanah di Pekalongan ada yang 15 sentimeter per tahun dan beberapa spot bahkan mencapai 20 sentimeter per tahun.

Sementara di Jakarta, beberapa tahun lalu memang wilayah Muara Baru, Jakarta Utara dan Pantai Mutiara, Pluit memang pernah mengalami penurunan muka tanah hingga 20 sentimeter per tahun.

Namun saat ini, trennya cenderung lebih lambat, hanya 10 sentimeter per tahun.

Baca juga: Penurunan Muka Tanah Ancam 19 Persen Populasi Bumi pada 2040

Penurunan muka tanah di Pekalongan

Dengan kecepatan penurunan muka tanah di Pekalongan yang mencapai 15-20 sentimeter per tahun, ada kemungkinan Pekalongan tenggelam lebih cepat dibanding Jakarta.

"Berdasarkan proyeksi saat ini, 10-15 tahun lagi, 80 persen kota Pekalongan ada di bawah laut," jelas Heri.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.