Kompas.com - 16/09/2021, 13:02 WIB
Ilustrasi perubahan iklim dari emisi karbon dapat menjadi pandemi baru bagi penduduk dunia. SHUTTERSTOCK/Reinhard TiburzyIlustrasi perubahan iklim dari emisi karbon dapat menjadi pandemi baru bagi penduduk dunia.

KOMPAS.com - Seiring bertambahnya populasi dunia, makin banyak pula pangan manusia yang harus diproduksi. Hal tersebut tanpa disadari turut memberi dampak pada planet ini.

Sebuah studi baru yang dipublikasikan di Nature Food mengungkapkan bahwa produksi pangan rupanya menyumbang sekitar 37 persen dari emisi gas rumah kaca global yang dapat memengaruhi perubahan iklim.

Menariknya pula, dalam studi tersebut peneliti menemukan, produksi makanan hewani menghasilkan sekitar dua kali lipat emisi yang dihasilkan dari produksi pangan nabati.

Baca juga: Perubahan Iklim Bikin Fisik Hewan Berubah, Kok Bisa?

"Penelitian ini yang pertama dalam mengukur emisi secara eksplesit dari produksi nabati dan produksi hewani dalam skala global," ungkap Atul Jain, peneliti dari University of Illinois, seperti dikutip dari New Scientist, Rabu (15/9/2021).

Jain dan rekan-rekannya menggunakan data dari lebih dari 200 negara untuk memperkirakan emisi yang dihasilkan dari produksi pangan. Mereka melihat karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida dari produksi 171 tanaman berbeda dan 16 produk hewani.

Hasilnya peneliti memperkirakan produksi pangan global menyumbang sekitar 17,3 miliar metrik ton setara karbon dioksida perta tahun. Jumlah tersebut hampir 19 kali lipat jumlah dari industri penerbangan komesial.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dari emisi ini, 57 persen terkait dengan produksi makanan hewani sedangkan produksi makanan nabati menyumbang 29 persen.

Peneliti juga menemukan bahwa produksi beras memiliki emisi rumah kaca tertinggi sementara produksi daging sapi berkontribusi paling besar terhadap emisi.

Lebih lanjut, studi tersebut juga mengungkap bahwa Asia Selatan dan Tenggara menyumbang emisi tertinggi yang berasal dari produksi makanan nabati. Lalu, Amerika Selatan memiliki emisi terkait makanan hewani tertinggi.

"Beberapa daerah menunjukkan emisi yang jauh lebih tinggi. Bukan hanya dari sisi konsumsi tapi juga dari sisi produksi. Mengubah jenis pupuk yang digunakan di lahan untuk produksi pangan nabati dapat membantu mengurangi emisi produksi," ungkap Jain.

Baca juga: Komodo Terancam Punah karena Perubahan Iklim, Ini Penjelasan Peneliti LIPI

Kedepannya, ia pun berharap bisa memasukkan lebih banyak data terperinci tentang tren konsumsi di seluruh dunia yang memungkinkan orang dapat menghitung jejak karbon berbasis makanan mereka sendiri.

"Anda dapat mengidentifikasi apa saja yang Anda makan, berapa banyak, dan menghitung jejak karbon Anda sendiri," tambahnya seperti dikutip dari Science Alert.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.