Kompas.com - 01/09/2021, 18:01 WIB
Colour lithograph of the eruption of Krakatoa (Krakatau) volcano, Indonesia, 1883; from the Royal Society, The Eruption of Krakatoa and Subsequent Phenomena (1888). Royal SocietyColour lithograph of the eruption of Krakatoa (Krakatau) volcano, Indonesia, 1883; from the Royal Society, The Eruption of Krakatoa and Subsequent Phenomena (1888).

KOMPAS.com - Sejarah mencatat, erupsi Gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883 atau 138 tahun silam memicu tsunami besar.

Kemudian 3 tahun lalu, tepatnya pada 22 Desember 2018, tsunami juga muncul di Selat Sunda.

Kejadian tsunami ini seakan membuka memori masyarakat Sebesi dengan kekhawatiran dan kecemasan. Beragam kecemasan masyarakat Sebesi membayangkan terjadinya kembali tsunami yang lebih besar, Anak Krakatau meletus kembali, serta gempa besar yang memicu tsunami.

Apa yang perlu ditingkatkan dan dilakukan sebagai upaya pengurangan risiko bencana di Selat Sunda?

Baca juga: Mengenal Potensi Tsunami Selat Sunda dan Letusan Gunung Krakatau di Masa Lalu

Kepala Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, Herry Jogaswara mengatakan, edukasi masyarakat pada pengayaan pengetahuan lokal, dalam hal ini khususnya terkait Gunung Krakatau, adalah hal penting untuk memperkaya pengetahuan bagi masyarakat lokal.

Hal ini nantinya penting sebagai upaya pengurangan risiko bencana di masa depan.

“Kondisi geografis menjadikan Indonesia berpotensi sekaligus rawan bencana seperti letusan gunung berapi, gempa bumi, tsunami, banjir, dan tanah longsor,” tutur Herry dalam acara webinar bertajuk Mengenang Letusan Krakatau 1883: Pengetahuan Lokal dan Upaya Pengurangan Resiko Bencana di Selat Sunda yang diadakan Jumat (27/8/2021).

Herry menyatakan, pengelolaan bencana harus berbasis struktural dan non struktural.

Pengelolaan bencana berbasis struktural antara lain teknologi peringatan dini, alat pendeteksi bencana.

Sementara pengelolaan bencana non struktural merupakan suatu pendidikan kebencanaan yang memberikan pertolongan pertama kali saat bencana itu terjadi.

Menurut Herry, masyarakat Indonesia yang berada di wilayah rawan bencana harus diedukasi dan diberikan materi yang berkaitan dengan kebencanaan.

“Pendidikan bencana ini juga sifatnya kontekstual dan harus selalu diperbarui,” tegasnya.

Berdasarkan studi LIPI di masyarakat pulau Sebesi, peneliti Pusat Penelitian Kewilayahan LIPI Devi Riskianingrum telah menyelesaikan penelitian dengan topik ‘Krakatau dalam Pandangan Masyarakat Sebesi: Antara Berkah dan Bencana’.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.