Mengenal Potensi Tsunami Selat Sunda dan Letusan Gunung Krakatau di Masa Lalu

Kompas.com - 28/08/2021, 09:03 WIB
Foto dirilis 3 Januari 2019, menunjukkan aktivitas Gunung Anak Krakatau mengeluarkan material vulkanik di perairan Selat Sunda. KRI Torani 860 yang merupakan kapal perang jajaran Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) mengemban misi memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau dan mengirim bantuan ke warga Pulau Sebuku pasca-bencana tsunami Selat Sunda. ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJAFoto dirilis 3 Januari 2019, menunjukkan aktivitas Gunung Anak Krakatau mengeluarkan material vulkanik di perairan Selat Sunda. KRI Torani 860 yang merupakan kapal perang jajaran Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) mengemban misi memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau dan mengirim bantuan ke warga Pulau Sebuku pasca-bencana tsunami Selat Sunda.


KOMPAS.com - Bencana tsunami tidak hanya dipicu oleh aktivitas gempa bumi besar. Potensi tsunami di Selat Sunda juga dapat disebabkan oleh aktivitas Gunung Anak Krakatau, bahkan di masa lalu pernah dipicu oleh letusan dahsyat Gunung Krakatau.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam webinar edukasi kebencanaan untuk mengajak masyarakat belajar dari sejarah bencana tsunami dan dampak letusan Gunung Anak Krakatau.

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan bahwa pengurangan risiko bencana menjadi kunci dalam mencegah maupun menghindari dampak bencana di kawasan pesisir Selat Sunda.

Tak hanya dampak bencana dari letusan Gunung Anak Krakatau, tetapi juga potensi gempa dari segmen tektonik di sebelah barat-selatan Selat Sunda.

Sejarah tsunami Selat Sunda

Dalam webinar Disaster, Decision dan Development: Tsunami Krakatau 1883 dan 2018 serta Pembelajarannya untuk Mitigasi ke Depan, BNPB menghadirkan sejumlah narasumber yang menyampaikan pengetahuan mitigasi dan sejarah bencana tsunami dan erupsi Gunung Anak Krakatau.

Peneliti Indonesia di GNS Science New Zealand Dr. Aditya Gusman menjelaskan tentang kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana geologi di masa yang akan datang.

Baca juga: Tsunami Selat Sunda, Sebuah Pembelajaran untuk Mitigasi Bencana

 

Ia menekankan pentingnya mengambil pembelajaran dari bencana tsunami Selat Sunda yang dipicu oleh aktivitas vulkanik dari letusan Gunung Krakatau yang terjadi pada tahun 1883 dan letusan Gunung Anak Krakatau pada tahun 2018 lalu. Sebab, potensi tsunami di kawasan ini dapat terjadi kapan saja.

Gelombang tsunami, kata Aditya, dapat terjadi karena caldera collapse dan pyroclastic flow.

Dalam sejarah letusan Gunung Krakatau pada tahun 1883, tsunami di kawasan Selat Sunda kala itu rendamannya mencapai jarak 5 km ke daratan di wilayah Pandeglang dan 800 meter di Cianyer.

Akibat peristiwa itu, Ujung Kulon harus terpisah dari bagian Pulau Jawa, akibat rendaman tsunami.

Jejak nyata dari dampak tsunami di Sungai Cianyer masih bisa dilihat hingga saat ini, dari bagian menara mercusuar yang terbawa oleh tsunami Gunung Krakatau di sungai tersebut.

"Bagian dari menara mercusuar yang hancur dihantam tsunami dan coral ini masih bisa terlihat hingga kini, coral boulder yang terbawa dari laut oleh tsunami pun masih ada sampai sekarang," ujar Aditya dalam webinar saat memaparkan tentang potensi tsunami Selat Sunda yang dipicu oleh letusan Gunung Krakatau di masa lalu, Kamis (26/8/2021).

Baca juga: Pasca Tsunami Selat Sunda, Begini Rencana Pemerintah Terkait Mitigasi

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.