Kompas.com - 22/08/2021, 12:02 WIB
Ilustrasi virus corona SHUTTERSTOCK/ker_viiIlustrasi virus corona

KOMPAS.com - Artikel ini akan membahas ringkasan dari beberapa penelitian terbaru tentang Covid-19.

Ini termasuk penelitian yang memerlukan studi lebih lanjut untuk menguatkan temuan dan yang belum disertifikasi oleh peer review.

Berikut rangkumannya:

Temuan gerbang glycans yang membantu virus corona menginfeksi sel tubuh

Peneliti menemukan adanya "gerbang" khusus yang membantu virus corona menginfeksi sel tubuh. Jika kita bisa menutup gerbang ini, kita mungkin bisa mencegah infeksi Covid-19.

Baca juga: Terungkap, Ilmuwan Temukan Gerbang Masuknya Virus Corona ke Sel Manusia

Dalam laporan yang terbit di jurnal Nature Chemistry pada Kamis (19/8/2021), para peneliti menemukan adanya residu gula pada protein spike virus corona baru.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Seperti diketahui, protein spike atau protein lonjakan virus corona adalah senjata virus saat memasuki dan menginfeksi sel tubuh, yang kemudian menyebabkan penyakit Covid-19.

Protein spike tersebar di permukaan virus corona, bentuknya seperti paku.

Dilansir dari Reuters, Sabtu (21/8/2021), molekul yang membentuk residu glukosa atau disebut glycans ada di sekitar tepi protein spike. Glycans ini membantu virus masuk ke dalam sel dan menginfeksi tubuh.

Dengan kata lain, glycans ini bertindak sebagai "gerbang" yang terbuka untuk membiarkan domain pengikat reseptor spike menempel pada sel.

"Tanpa gerbang ini, domain pengikat reseptor tidak dapat mengambil bentuk yang dibutuhkan untuk masuk ke dalam sel," kata Rommie Amaro dari University of California San Diego yang ikut menulis studi tersebut.

Peneliti melanjutkan, jika ada obat yang bisa mengunci gerbang glycans agar tertutup, mungkin kita bisa mencegah virus corona menginfeksi sel.

Pasien Covid-19 berusia muda di awal 2021 vs akhir 2020

Peneliti dari sistem kesehatan Pennsylvania menemukan, jumlah pasien Covid-19 berusia muda (di bawah 50 tahun) yang dirawat di rumah sakit di awal 2021 lebih banyak dibanding akhir 2020.

 

Sejumlah pasien Covid-19 yang dirawat di Rumah Sakit Lapangan Tembak Surabaya melambaikan tangan saat mendengarkan arahan dan dorongan semangat dari Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi beberapa waktu lalu.DOK. PEMKOT SURABAYA Sejumlah pasien Covid-19 yang dirawat di Rumah Sakit Lapangan Tembak Surabaya melambaikan tangan saat mendengarkan arahan dan dorongan semangat dari Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi beberapa waktu lalu.

Mereka menganalisis data dari hampir 39.000 pasien Covid-19, termasuk 7.774 yang dirawat di rumah sakit.

Orang di bawah 50 tahun yang dites positif pada Maret dan April 2021, ketika varian Alpha dari virus corona beredar di Pennsylvania, lebih kecil kemungkinan meninggalnya dibandingkan dengan mereka yang didiagnosis antara November 2020 dan Januari 2021.

Kendati demikian, pasien di bawah 50 tahun yang dites positif Covid-19 pada musim semi 2021, tiga kali lebih mungkin dirawat di rumah sakit dan dua kali lebih mungkin memerlukan ventilator mekanis dan masuk ICU, dibandingkan pada musim dingin sebelum varian Alpha beredar luas.

Temuan ini ditayangkan di medRxiv pada Rabu (18/8/2021) menjelang tinjauan sejawat.

“Ini artinya keefektifan vaksin yang sudah disuntik ke banyak orang menjanjikan. Tetapi infeksi dan kematian akibat Covid-19 masih terus berlanjut. Dinamika ini mengkhawatirkan mengingat terus munculnya varian baru SARS-CoV-2,” tulis peneliti.

Perlindungan vaksin berkurang seiring waktu

Dokter yang mengimunisasi 120 penghuni panti jompo dengan vaksin Covid-19 mRNA Pfizer/BioNTech menemukan, perlindungan antibodi menurun hingga 28 persen setelah enam bulan disuntik.

Sementara setelah mendapat dua dosis vaksin, perlindungan mencapai 84 persen.

Penelitian yang dipublikasikan di medRxiv sebelum tinjauan sejawat, menambah bukti yang menunjukkan bahwa perlindungan dari vaksin berkurang seiring waktu.

Baca juga: WHO Khawatir Ketimpangan Vaksinasi Covid-19 di Indonesia Terus Terjadi

"Yang tidak mengejutkan, kemanjuran vaksinasi mengalami penurunan signifikan dari waktu ke waktu," kata para peneliti melaporkan.

Mengingat bahwa perlindungan antibodi menurun cepat dan adanya varian Delta yang menyebar lebih cepat, ahli menyimpulkan bahwa vaksin booster mungkin diperlukan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Kompas.com Berita Vaksinasi

Kita bisa akhiri pandemi Covid-19 jika kita bersatu melawannya. Sejarah membuktikan, vaksin beberapa kali telah menyelamatkan dunia dari pandemi.

Vaksin adalah salah satu temuan berharga dunia sains. Jangan ragu dan jangan takut ikut vaksinasi. Cek update vaksinasi.

Mari bantu tenaga kesehatan dan sesama kita yang terkena Covid-19. Klik di sini untuk donasi via Kitabisa.

Kita peduli, pandemi berakhir!



Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.