Kompas.com - 21/08/2021, 17:02 WIB

KOMPAS.comAurora adalah cahaya berwarna-warni yang terbentuk secara alami di langit. Cahayanya bisa berwarna biru, merah, kuning, hijau, dan jingga. Cahayanya tidak statis, namun bergerak seperti tirai yang tertiup angin.

Aurora hanya bisa diamati dekat Kutub Utara dan Kutub Selatan Bumi. Di Kutub Utara fenomena ini dinamakan aurora borealis, sedangkan di Kutub Selatan dinamakan aurora australis.

Baca juga: Aurora, Cahaya Cantik yang Mempesona di Langit Kutub

Proses terbentuknya aurora

Fenomena ini dimulai dari Matahari. Matahari mengeluarkan gas yang sangat panas dan dibawa oleh partikel ion di sekitar Matahari. Ion panas ini akan terbawa ke seluruh bagian galaksi, salah satunya mendekati Bumi. Ion panas ini dinamakan solar wind.

Ketika mendekati Bumi, solar wind bertemu medan magnetik yang ada di atmosfer Bumi. Area magnetik ini adalah lapisan terluar Bumi yang disebut magnetosphere. Lapisan ini menjaga agar partikel panas dari Matahari tidak mengenai Bumi dan membunuh kehidupan.

Sebagian besar solar wind mampu dipantulkan kembali ke luar angkasa. Namun, sebagian kecil masih akan masuk ke lapisan atmosfer berikutnya. Fenomena aurora terjadi pada lapisan ionosfer yang berada di kedua kutub Bumi. Lapisan ini berada di ketinggian 97 sampai 1.000 kilometer di atas permukaan Bumi.

Pada lapisan ini, sisa partikel panas tadi bertabrakan dengan atom oksigen dan nitrogen. Energi yang dihasilkan dari tabrakan inilah yang akan menghasilkan cahaya berwarna-warni.

Baca juga: Aurora Bercahaya di Planet Mars Tertangkap Wahana Antariksa Hope

Warna-warni aurora

Perbedaan warna aurora yang dihasilkan bervariasi berdasarkan ketinggian dan atom udara yang terlibat. Jika ion bertabrakan dengan oksigen yang berasa lebih tinggi, warna yang dihasilkan akan berwarna merah.

Sedangkan umumnya, warna hijau kekuningan dihasilkan dari oksigen yang berada di ketinggian yang lebih rendah. Warna lain adalah merah kebiruan yang muncul akibat ion yang bertabrakan dengan nitrogen.

Warna terakhir adalah warna biru dan ungu yang muncul dari pertemuan sisa solar wind dengan gas hidrogen dan helium.

Apakah aurora hanya terjadi di Bumi?

Jawabannya adalah tidak, aurora juga terjadi di planet lain. Selama planet itu memiliki atmosfer dan medan magnet, maka akan terjadi aurora. Dilansir dari Space Place by NASA, peneliti telah berhasil mengamati aurora di planet Jupiter dan Saturnus.

Baca juga: Misteri Aurora Sinar-X Jupiter Akhirnya Terpecahkan Setelah 40 Tahun

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.