Kompas.com - 20/08/2021, 21:05 WIB

KOMPAS.com - Sekitar 66 juta tahun yang lalu, sebuah asteroid yang diperkirakan selebar 9,6 kilometer menabrak Bumi.

Kejadian itu memicu serangkaian peristiwa dahsyat yang mengakibatkan kematian dinosaurus. Tapi, dari mana sebenarnya objek itu berasal?

Berdasarkan penelitian baru, benda antariksa itu merupakan asteroid primitif gelap raksasa dari bagian terluar sabuk asteroid utama tata surya yang terletak di antara Mars dan Jupiter.

Wilayah itu merupakan rumah bagi banyak asteroid gelap atau batuan luar angkasa dengan susunan kimiawi yang membuatnya tampak lebih gelap (memantulkan sangat sedikit cahaya) dibandingkan dengan jenis asteroid lainnya.

Baca juga: Pada 2182, Ada Kemungkinan Asteroid Bennu Tabrak Bumi

"Saya memiliki kecurigaan bahwa asteroid primitif gelap berada di bagian luar sabuk asteroid dan merupakan sumber penting yang menabrak Bumi," kata David Nesvorny, seorang peneliti dari Southwest Research Institute di Colorado, yang memimpin studi baru, seperti dikutip dari Live Science, Jumat (20/8/2021).

Petunjuk tentang objek yang mengakhiri kehidupan dinosaurus sendiri sebelumnya telah ditemukan terkubur di kawah Chicxulub.

Kawah selebar 145 km di Semenanjung Yucatan Meksiko tersebut merupakan bekas yang ditinggalkan tubrukan asteroid.

Analisis geokimia kawah telah menunjukkan, bahwa objek yang terkena dampak adalah bagian dari kelas chondrites berkarbon, kelompok primitif meteorit yang memiliki rasio karbon yang relatif tinggi dan kemungkinan dibuat sangat awal dalam sejarah tata surya.

Berdasarkan informasi itu, peneliti sudah mencoba untuk menentukan asal asteroid tersebut. Namun masih belum mendapat hasil yang tepat.

Sementara itu dalam studi baru yang diterbitkan dalam jurnal Icarus, peneliti mengembangkan model komputer untuk melihat seberapa sering asteroid sabuk utama terlontar ke Bumi dan apakah memang dapat bertanggung jawab atas peristiwa kepunahan dinosaurus.

Simulasi menunjukkan gaya termal dan tarikan gravitasi dari planet secara berkala melontarkan asteroid besar keluar dari sabuk.

Peneliti menemukan, rata-rata sebuah asteroid dengan lebar lebih dari 4 km dari tepi luar sabuk terlempar ke jalur tabrakan dengan Bumi setiap 250 juta tahun sekali.

Baca juga: Jika Asteroid Tidak Menghantam Bumi, Apa Dinosaurus Tetap Ada?

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.