BRIN

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) adalah lembaga pemerintah yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia. BRIN memiliki tugas menjalankan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan, serta invensi dan inovasi yang terintegrasi.

Psychic Unsecure, Mengingkari Adanya Covid-19 dan Berprasangka pada Vaksin

Kompas.com - 19/08/2021, 10:05 WIB
Ilustrasi virus corona SHUTTERSTOCK/RUKSUTAKARN studioIlustrasi virus corona

Oleh: Dr Andy Ahmad Zaelany

Ketika manusia berhadapan dengan kedahsyatan alam semesta maupun berhadapan dengan teknologi yang sangat maju, maka respons pertama yang muncul adalah rasa psychic unsecure (Yuniar, 2020), yakni rendah diri yang menumbuhkan rasa cemas akan bencana yang mungkin ditimbulkan dari alam yang mahadahsyat maupun dari teknologi yang tidak dipahaminya.

Kabarnya, bermula dari perasaan seperti itu manusia mengembangkan berbagai religi atau agama.

Ekspresi dari rasa psychic unsecure seringkali tidak tunggal.

Manusia mungkin akan menunjukkan sikap rasa diri yang kecil, dibandingkan kekuatan alam dan keampuhan teknologi.

Baca juga: 12 Cara Pencegahan Covid-19, Strategi Sederhana Lindungi Diri dari Virus

Ekspresi lain, mungkin juga orang akan menihilkan atau penuh prasangka terhadap kedua hal tersebut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Satu setengah tahun ini kehidupan kita dipenuhi dengan masalah pandemi Covid-19.

Keberadaan virus Corona bagi sebagian orang sungguh membuat cemas dan telah merenggut banyak nyawa.

Teknologi medis seperti vaksin yang diharapkan akan menjadi penangkal ampuh dihadapi oleh sebagian orang dengan prasangka, di antaranya “konspirasi” maupun “komersialisasi”.

Pengingkaran Covid-19

Sebenarnya Januari 2020 publik mulai berbicara tentang kemungkinan virus corona sudah masuk ke Indonesia.

Namun, entah kenapa banyak orang yang tidak percaya virus corona bisa masuk ke Indonesia.

Pengingkaran paling awal terhadap Covid-19 ini, disertai dengan berbagai pernyataan yang menunjukkan pengetahuan yang minimal tentang virus tersebut di berbagai lapisan masyarakat, termasuk di kalangan akademisinya.

Proses labeling dalam menerima serbuan virus corona terjadi dan dalam banyak versi, diantaranya virus corona akan mati bila memasuki daerah tropis, tentara Allah untuk menghukum manusia, konspirasi, sejenis penyakit sesak napas, dan lain-lain.

Ini menandakan, minimalnya pengetahuan yang dimiliki berbagai lapisan masyarakat tentang Covid-19.

Pengingkaran tentang keberadaan virus corona sebagaimana yang terjadi di Madura belakangan ini, telah menimbulkan lonjakan angka kematian maupun angka kasus positif Covid-19.

Begitu juga hari-hari libur yang diisi dengan berdarmawisata dengan kurang mengindahkan protokol kesehatan, seringkali selalu disertai dengan lonjakan infeksi Covid-19.

Baca juga: Epidemiolog: Indonesia Bisa Jadi Negara Terakhir yang Keluar dari Krisis Covid-19

Halaman:
Kompas.com Berita Vaksinasi

Kita bisa akhiri pandemi Covid-19 jika kita bersatu melawannya. Sejarah membuktikan, vaksin beberapa kali telah menyelamatkan dunia dari pandemi.

Vaksin adalah salah satu temuan berharga dunia sains. Jangan ragu dan jangan takut ikut vaksinasi. Cek update vaksinasi.

Mari bantu tenaga kesehatan dan sesama kita yang terkena Covid-19. Klik di sini untuk donasi via Kitabisa.

Kita peduli, pandemi berakhir!



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.