Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 18/08/2021, 19:45 WIB
Nadia Faradiba

Penulis

KOMPAS.comLa Nina adalah fenomena alam yang menyebabkan udara terasa lebih dingin atau mengalami curah hujan yang lebih tinggi. La Nina menjadi salah satu faktor yang menyebabkan musim hujan di Indonesia terjadi, selain angin muson.

Nama La Nina diambil dari bahasa Spanyol yang berarti gadis kecil. Fenomena ini merupakan keblaikan dari fenomena El Nino yang menyebabkan panas di Indonesia.

Baca juga: Apa Itu El Nino, Fenomena yang Menyebabkan Panas di Indonesia

Terjadinya La Nina

Dilansir dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ketika terjadinya fenomena ini, Suhu Muka Laut (SML) di Samudera Pasifik bagian tengah mengalami pendinginan hingga di bawah suhu normal.

Pendinginan ini berpotensi mengurangi pertumbuhan awan di Samudera Pasifik tengah. Selain itu, angin pasat (trade winds) berembus lebih kuat dari biasanya di sepanjang Samudera Pasifik dari Amerika Selatan ke Indonesia. Hal ini menyebabkan massa air hangat terbawa ke arah Pasifik Barat.

Karena massa air hangat berpindah tempat, maka air yang lebih dingin di bawah laut Pasifik akan naik ke permukaan untuk mengganti massa air hangat yang berpindah tadi. Hal ini disebut upwelling dan membuat SML turun.

Kondisi ini akan meningkatkan curah hujan di wilayah Indonesia, serta membuat musim hujan terjadi lebih lama.

Baca juga: Dampak Fenomena El Nino dan La Nina bagi Iklim di Indonesia

Mengukur La Nina

Fenomena La Nina bisa diukur dan di kelompokkan menjadi beberapa macam. Dua cara yang bisa digunakan untuk mengukur La Nina adalah dengan sea surface temperature (SST) dan southern oscilation index (SOI).

Pembagian pertama dengan cara SST akan mengelompokkan fenomena ini sebagai berikut:

  1. La Nina lemah, jika SST bernilai lebih besar dari -0,5 dan berlangsung selama 3 bulan berturut-turut.
  2. La Nina sedang, jika SST menunjukkan nilai -0,5 sampai -1 dan berlangsung minimal tiga bulan berturut-turut.
  3. La Nina kuat, jika nilai SST lebih kecil dari -1 selama setidaknya tiga bulan berturun-turut.

Cara kedua adalah dengan SOI. SOI mencatat perbedaan tekanan udara permukaan di daerah Pasifik Timur dengan tekanan udara permukaan daerah Indo-Australia. Cara ini bisa mengukur La Nina dan El Nino sekaligus tergantung hasil perhitungannya.

SOI diukur lebih lama dari SST, SOI diukur selama enam bulan. Jika angkanya +5 sampai +10 maka tahun tersebut akan disebut dengan tahun La Nina.

Baca juga: Laporan PBB: 2017 adalah Tahun Terpanas Tanpa El Nino dalam Satu Abad

Dampak La Nina terhadap Indonesia

Sesuai pembahasan di atas, La Nina menyebabkan curah hujan di Indonesia meningkat. Seberapa dahsyat dampaknya bergantung dari derajat fenomena itu, apakah lemah, sedang, atau berat.

Pada kondisi berat, fenomena ini bisa memicu berbagai bencana alam seperti banjir, banjir bandang, dan longsor. Maka dari itu, masyarakat perlu lebih waspada jika La Nina terjadi.

Namun, perlu diketahui bahwa fenomena ini mungkin tidak terjadi di semua bagian di Indonesia. Biasanya kejadian ini hanya akan berdampak pada beberapa wilayah saja.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Berapa Suhu Ideal untuk Kehidupan di Bumi, Ini Kata Peneliti

Berapa Suhu Ideal untuk Kehidupan di Bumi, Ini Kata Peneliti

Kita
Apa yang Terjadi jika Tidak Ada Tahun Kabisat?

Apa yang Terjadi jika Tidak Ada Tahun Kabisat?

Oh Begitu
5 Camilan Lezat dan Sehat yang Baik untuk Jantung

5 Camilan Lezat dan Sehat yang Baik untuk Jantung

Oh Begitu
Apa Efek Tidur Telanjang bagi Kesehatan?

Apa Efek Tidur Telanjang bagi Kesehatan?

Oh Begitu
Kenapa Tulang Dinosaurus Bisa Bertahan hingga Jutaan Tahun?

Kenapa Tulang Dinosaurus Bisa Bertahan hingga Jutaan Tahun?

Oh Begitu
Kenapa Spesies Ular Sangat Banyak?

Kenapa Spesies Ular Sangat Banyak?

Oh Begitu
Bagaimana Cara Kuda Laut Jantan Bisa Hamil?

Bagaimana Cara Kuda Laut Jantan Bisa Hamil?

Oh Begitu
Benarkah Vape Bisa Menurunkan Berat Badan?

Benarkah Vape Bisa Menurunkan Berat Badan?

Oh Begitu
Kenapa Ada Bagian yang Botak di Telinga Kucing?

Kenapa Ada Bagian yang Botak di Telinga Kucing?

Oh Begitu
Apa yang Terjadi pada Tubuh jika Makan Daging Ayam Mentah?

Apa yang Terjadi pada Tubuh jika Makan Daging Ayam Mentah?

Oh Begitu
Kenapa Kucing Senang Masuk ke Tempat Semput?

Kenapa Kucing Senang Masuk ke Tempat Semput?

Oh Begitu
Apakah Manusia Bisa Alergi terhadap Listrik?

Apakah Manusia Bisa Alergi terhadap Listrik?

Oh Begitu
Kapan Matahari Terbentuk?

Kapan Matahari Terbentuk?

Oh Begitu
Studi Temukan Pola Makan yang Bisa Atasi Kebiasaan Ngorok saat Tidur

Studi Temukan Pola Makan yang Bisa Atasi Kebiasaan Ngorok saat Tidur

Oh Begitu
Apa yang Terjadi pada Tubuh jika Tidak Tidur Selama 2 Hari?

Apa yang Terjadi pada Tubuh jika Tidak Tidur Selama 2 Hari?

Kita
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com