Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Greenpeace Indonesia: Kualitas Udara di Jakarta Memburuk Selama PPKM Darurat Juli 2021

Kompas.com - 12/08/2021, 20:05 WIB
Ellyvon Pranita,
Bestari Kumala Dewi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat telah ditetapkan dan terus diperpanjang, tapi Greenpeace Indonesia justru menemukan kualitas udara memburuk di Jakarta.

Hal ini disampaikan oleh Juru Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Indonesia, Bondan Andriyanu dalam diskusi daring bertajuk Polusi Udara Jakarta Saat PPKM Darurat, Selasa (10/8/2021).

Bondan mengatakan, sebenarnya kualitas udara di Jakarta sempat membaik selama penerapan PPKM Mikro terutama pada bulan Juni 2021 lalu.

Baca juga: 6 Fakta Kualitas Udara Buruk Jakarta dan 3 Rekomendasi bagi Kita

Namun, setelah dibandingkan dengan catatan kualitas udara pada bulan Juli 2021, kualitas udara saat ini kembali memburuk.

"Data yang ada menunjukkan, kualitas udara Jakarta ini memang sempat membaik (Juni 2021), tapi menurun lagi saat PPKM Darurat Juli kemarin," kata Bondan.

Analisis Greenpeace soal Kualitas Udara Jakarta

Bondan dalam pemaparannya menyatakan, bahwa analisis ini diambil dari data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mengenai Baku Mutu Udara Ambien (BMUA) di tujuh stasiun pengukuran kualitas udara atau Sistem Prediksi Kualitas Udara (SPKU) di Jakarta.

Ketujuh stasiun yang dimaksud adalah stasiun Bundaran HI, Kelapa Gading, Jagakarsa, Lubang Buaya, Kebon Jeruk, Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan.

Selain BMUA, pernyataan Greenpeace ini juga merupakan analisis Indeks Standard Pencemaran Udara (ISPU).

1. Data BMUA Jakarta

Untuk diketahui, udara ambien adalah udara bebas di permukaan bumi pada lapisan troposfir yang berada di dalam wilayah yurisdiksi Republik Indonesia yang dibutuhkan dan berpengaruh terhadap kesehatan manusia, makhluk hidup, dan unsur lingkungan hidup lainnya.

Berdasarkan data LHK DKI Jakarta, jumlah hari di atas BMUA dengan PM 2.5 harian di Bulan Juni dan Juli 2021 atau sama dengan 55 mikrogram per meter kubik adalah sebagai berikut.

Pada bulan Juni 2021, jumlah hari di atas BMUA adalah 2 di stasiun Kelapa Gading, 6 di stasiun Jagakarsa, 12 di stasiun Lubang Buaya, 9 di stasiun Kebun Jeruk, 2 di Jakarta Pusat dan 5 di Jakarta Selatan.

Sementara, jumlah hari di atas BMUA pada bulan Juli 2021 adalag 6 di stasiun Bundaharn HI, 12 di stasiun Kelapa Gading, 16 di stasiun Jagakarsa, 22 di stasiun Lubang Buaya, 16 di stasiun Kebun Jeruk, 8 di Jakarta Pusat dan 14 di Jakarta Selatan.

Adapun, senyawa yang diukur sebagai parameter BMUA adalah sebagai berikut:

-Sulfur Dioksida (SO2)

- Karbon Monoksida (CO)

- Nitrogen Dioksida (NO2)

- Oksidan fotokimia (Ox) sebagai Ozon (O3)

- Hidrokarbon Non Metana (NMHC)

- Partikulat debu < 100 µm (TSP)

- Partikulat debu < 2,5 µm (PM 2.5)

- Timbal (Pb)

"Dari data ini kita tahu, jumlah hari di mana BMUA di atas ambang aman ini meningkat hingga 3 kali lipat, 94 hari," kata Bondang.

Dengan demikian, kata dia, jelas sekali bahwa data ini menunjukkan rata-rata di tiap lokasi pengukuran, tercatat 13,4 hari polusi udara terjadi melebihi ambang batas aman BMUA yang telah diatur yakni 55 mikrogram per meter kubik (µm/m3).

Baca juga: Kualitas Udara di Jakarta Masih Buruk, Waspada 2 Dampaknya bagi Kita

Polusi udara terlihat di langit Ibu Kota Jakarta, Selasa (8/6/2021). Melalui platform pengukur kualitas udara Iqair.com yang merilis kualitas udara, Jakarta masuk 10 besar kota dengan kualitas udara terburuk di dunia dengan menempati urutan ke 4.KOMPAS.com/GARRY LOTULUNG Polusi udara terlihat di langit Ibu Kota Jakarta, Selasa (8/6/2021). Melalui platform pengukur kualitas udara Iqair.com yang merilis kualitas udara, Jakarta masuk 10 besar kota dengan kualitas udara terburuk di dunia dengan menempati urutan ke 4.

2. Data ISPU Jakarta

Selain jumlah hari di mana polusi udara melebihi ambang batas aman BMUA yang meningkat, ternyata berdasarkan indikator ISPU kualitas udara cukup mengkhawatirkan.

Catatan DLH DKI Jakarta menunjukkan bahwa udara tidak sehat meningkat selama PPKM Darurat di bulan Juli 2021, dibandingkan dengan PPKM Mikro pada bulan Juni 2021.

"ISPU DKI Jakarta sebelum dan selama PPKM darurat juga mengalami peningkatan jumlah hari tidak sehat, hingga 2 kali lipat di bulan Juli (selama PPKM Darurat 2021)," ujarnya.

ISPU adalah angka atau laporan yang menggambarkan kondisi kualitas udara mengenai seberapa bersih atau tercemarnya kualitas udara kita, dan bagaimana dampaknya terhadap kesehatan setelah kita menghirup udara tersebut selama beberapa jam atau hari.

Baca juga: Terkenal Buruk, Begini Kualitas Udara Jakarta Selama Pandemi Covid-19

Data ISPU umumnya merupakan data pengukuran selama 24 jam terus-menerus. Semakin tinggi skornya, maka akan semakin berbahaya udara di suatu wilayah. Di mana skor ISPU yang paling baik adalah antara 0-50 (hijau), dan kategori sedang adalah skor 51-100 (biru).

Sehingga, jika skor indeks ISPU di atas 100 maka perlu diwaspadai karena masuk kategori kualitas udara tidak sehat (kuning/101-200), sangat tidak sehat (merah/201-300) dan berbahaya (hitam/di atas 301).

Bondan menjelaskan, dari hasil pengukuran ISPU tersebut menunjukkan, indeks udara tidak sehat di enam SPKU Jakarta ada sekitar 147 hari selama bulan Juni 2021.

"Artinya, rata-rata di setiap wilayah stasiun di Jakarta memiliki 24,5 hari dengan udara yang tidak sehat," tuturnya.

Buruknya lagi, kata dia, jumlah ini meningkat pada bulan Juli 2021 dengan rata-rata 44 hari memiliki udara tidak sehat di masing-masing dari enam stasiun yang diukur.

Sebagai informasi, 6 stasiun di Jakarta yang diukur dengan metode ISPU ini adalah Bundaran HI, Jagakarsa, Kelapa Gading, Lubang Buaya, Kebun Jeruk dan Jakarta Pusat.

Baca juga: 13 Negara dengan Kualitas Udara Terburuk Dunia dan Dampaknya pada Kesehatan

 

Kualitas udara saat pandemi Covid-19

Bondan menyampaikan, memang benar bahwa selama pandemi Covid-19, pencemaran udara di DKI Jakarta menurun dibandingkan dengan kondisi saat normal atau tidak ada pandemi.

Akan tetapi, dalam masa pandemi Covid-19 ini berlangsung, kualitas udara atau pencemaran udara masih sering mengalami peningkatan.

Hal ini dilihat dari pengukuran indeksi PM 2.5, yakni partikel udara yang berukuran lebih kecil dari 2.5 mikron (mikrometer), yang selalu menjadi perhatian.

Baca juga: 51 Persen Negara Tak Punya Akses Terbuka ke Data Kualitas Udara

Sebab, berbagai material yang terkandung dalam partikel udara PM 2.5 ini dapat menyebabkan berbagai gangguan saluran pernapasan seperti ISPA, kanker paru, kardiovaskular, kematian dini dan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK).

"PM 2.5 saat PPKM Darurat (3-20 Juli 2021) terlihat menurun di stasiun Bundaran HI bila dibandingkan dengan kondisi normal yakni pada 3-20 Juli 2019," ujarnya.

Namun, indeks ini masih lebih tinggi dibandingkan saat diberlakukannya PPKM Mikro, 3-20 Juni 2021 dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), 3-20 Juli 2020.

Oleh karena itu, Greenpeace Indonesia meminta agar pemerintah provinsi (Pemprov) Jakarta tidak abai dengan kondisi yang terjadi saat ini.

"Kita mendorong agar Pemprov DKI Jakarta melakukan berbagai upaya, untuk mengurangi pencemaran udara ini dan meningkatkan kualitas udara sehat untuk masyarakat," kata dia.

Untuk hasil yang lebih baik, Pemprov DKI Jakarta harus melakukan kolaborasi, transparansi data, memenuhi sarana dan prasarana mengurangi pencemaran, serta upayakan mengendalikan pencemaran udara lintas batas wilayah tentunya berbasis data saintifik.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com