Kompas.com - 07/08/2021, 17:02 WIB
Ilustrasi kekeringan akibat El Nino freepikIlustrasi kekeringan akibat El Nino

KOMPAS.comEl Nino dan La Nina adalah pola iklim yang terjadi di Samudera Pasifik, namun bisa mempengaruhi cuaca di berbagai negara. Berikut penjelasannya.

Dalam kondisi normal di Samudera Pasifik, angin akan bertiup ke arah barat, membawa air yang hangat dari Amerika Selatan ke Asia. Untuk menggantikan air hangat tersebut, air dengan suhu yang lebih dingin akan naik dari lautan yang lebih dalam.

El Nino dan La Nina merupakan dua proses yang bertolak belakang yang memutus kondisi normal ini. Keduanya terjadi dalam jangka waktu tertentu sehingga para ilmuwan menyebutnya dengan El Nino Southern Oscillation (ENSO).

Episode terjadinya El Nino dan La Nina bisa bertahan hingga 12 bulan. Keduanya terjadi sekitar dua sampai tujuh tahun sekali. Mereka tidak memiliki siklus khusus, namun, El Nino terjadi lebih sering dibandingkan La Nina.

Baca juga: Apa Itu El Nino, Fenomena yang Menyebabkan Panas di Indonesia

El Nino

El Nino berasal dari bahasa Spanyol yang artinya anak laki-laki atau Yesus. Nama ini diberikan karena fenomena ini muncul pada sekitar hari Natal di akhir Desember.

Dilansir dari Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), El Nino adalah fenomena pemanasan Suhu Muka Laut (SML) di atas kondisi normal di tengah Samudera Pasifik. Pemanasan ini meningkatkan potensi terbentuknya awan di area tersebut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dampak dari El Nino terhadap cuaca di Indonesia adalah mengurangi curah hujan. Selain itu, kondisi ini juga bisa memicu kondisi kekeringan di wilayah Indonesia.

Kondisi ini jelas mengkhawatirkan. Kekeringan atau kemarau panjang bisa menyebabkan masalah, contohnya pada sektor pertanian yang mungkin mengalami gagal panen. Maka dari itu penting mengantisipasi dengan menyusun kebijakan yang mengantisipasi jika fenomena ini terjadi.

Baca juga: Fenomena La Nina Picu Potensi Musim Kemarau Basah 2021

La Nina

La Nina juga merupakan nama dari bahasa Spanyol yang berarti anak perempuan, La Nina adalah kejadian yang berkebalikan dari El Nino.

Ini merupakan kondisi dimana suhu SML mengalami penurunan atau pendinginan. Dampaknya, pembentukan awan di Samudera Pasifik minim, dan meningkatkan curah hujan di Indonesia.

Jika fenomena ini terjadi, penduduk Indonesia harus waspada karena ini akan memicu hujan lebat. Kondisi ini dapat menyebabkan bencana banjir dan longsor.

Penyebab terjadinya El Nino dan La Nina

Kedua fenomena ini terjadi akibat dampak pemanasan global yang mengganggu keseimbangan iklim. Dilansir dari Acaps, beberapa faktor yang menyebabkan fenomena ini adalah sebagai berikut:

Baca juga: Proses Terjadinya Hujan dan Penjelasannya Menurut Sains

  • Anomali suhu di perairan Samudera Pasifik
  • Melemahnya angin passat (trade winds)
  • Kenaikan daya tampung lapisan atmosfer yang disebabkan pemanasan dari perairan yang panas di bawahnya

Itu dia penjelasan fenomena El Nino dan La Nina dan pengaruhnya terhadap iklim di Indonesia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.