Kompas.com - 02/08/2021, 11:05 WIB
Ilustrasi vaksinasi. KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMOIlustrasi vaksinasi.

KOMPAS.com - Hampir semua Negara di dunia sedang menggalakkan program vaksinasi Covid-19, sebagai upaya mencegah penyebaran virus corona dan mengakhiri pandemi.

Namun demikian, para ilmuwan memperingatkan, bahwa vaksinasi saja tidak cukup untuk menghentikan munculnya varian baru virus corona. Apalagi, hingga saat ini pemberian vaksinasi Covid-19 belum merata dan menyeluruh.

Jumat lalu (30/7/2021), Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengubah panduannya terkait penggunaan masker. Sebelumnya di awal tahun, CDC mengatakan bahwa orang-orang yang telah divaksinasi dosis lengkap boleh tidak memakai masker di berbagai situasi.

Baca juga: Sakit dan Harus Menunda Vaksinasi Dosis Kedua, Apakah Pengaruhi Efektivitas Vaksin?

Namun kini, CDC menarik aturan tersebut dan menyatakan bahwa orang-orang yang telah divaksinasi lengkap harus tetap memakai masker di ruangan tertutup di area dengan transmisi tinggi.

Hal itu karena, orang-orang yang telah divaksin tetap memiliki kemungkinan terinfeksi varian Delta dan bisa menularkannya kepada orang lain.

Senada dengan hal tersebut, sebuah penelitian terbaru juga menyebutkan, semua orang perlu memakai masker dan melakukan langkah lain untuk mencegah penyebaran virus corona sampai hampir semua orang dalam suatu populasi telah divaksinasi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Melansir CNN, temuan yang telah diterbitkan dalam Nature Scientific Reports ini menemukan, bahwa tingkat vaksinasi yang cepat, akan mengurangi kemungkinan munculnya strain baru yang resisten.

Sebaliknya, ketika intervensi non-farmasi melonggar pada saat sebagian besar individu dalam suatu populasi telah divaksinasi, kemungkinan munculnya strain resisten justru sangat meningkat.

Simon Rella dari Institut Sains dan Teknologi Austria, yang mengerjakan penelitian itu mengatakan, hasil studi mereka menunjukkan, bahwa pembuat kebijakan dan individu harus mempertimbangkan mempertahankan intervensi non-farasi dan perilaku yang dapat menekan penularan selama seluruh periode vaksinasi.

"Ketika kebanyakan orang divaksinasi, galur atau lini yang kebal vaksin memiliki keunggulan dibandingkan galur asli," ujarnya.

"Ini berarti, strain yang resistan terhadap vaksin menyebar ke seluruh populasi lebih cepat pada saat kebanyakan orang divaksinasi," lanjut Rella.

Baca juga: Saran untuk Vaksin Merah Putih dari Indra Rudiansyah, Peneliti Muda di Balik Vaksin AstraZeneca

Halaman:
Kompas.com Berita Vaksinasi

Kita bisa akhiri pandemi Covid-19 jika kita bersatu melawannya. Sejarah membuktikan, vaksin beberapa kali telah menyelamatkan dunia dari pandemi.

Vaksin adalah salah satu temuan berharga dunia sains. Jangan ragu dan jangan takut ikut vaksinasi. Cek update vaksinasi.

Mari bantu tenaga kesehatan dan sesama kita yang terkena Covid-19. Klik di sini untuk donasi via Kitabisa.

Kita peduli, pandemi berakhir!



Sumber CNN
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.