Kompas.com - 01/08/2021, 11:03 WIB
Ilustrasi asteroid 3905 Doppler Loretta KuoIlustrasi asteroid 3905 Doppler

2. Aspek astrobiologis

Dari perspektif astrobiologi, kata Andi, pencarian asteroid dapat memberikan data ilmiah untuk pencarian kecerdasan luar angkasa (Search for Extraterrestrial Intelligence, SETI).

"Jika peradaban luar angkasa yang maju sudah sejak lama menggunakan penambangan asteroid, tanda-tanda aktivitas ini mungkin dapat dideteksi," ujarnya.

Sementara, asteoid sendiri diketahui umumnya terdiri dari tiga tipe yakni:

- Tipe C (berkarbon), mengandung air yang berlimpah, juga karbon organik, fosfor, dan bahan utama pupuk lainnya.

- Tipe S (mineral silikat), mengandung sedikit air, tapi banyak logam, nikel, kobalt, emas, platinum dan rodium.

- Tipe M (moderat), mengandung logam 10 kali lebih banyak dibandingkan tipe-S.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Mirip Batu Bara, Ilmuwan Rilis Foto Sampel Material Asteroid Ryugu

Misi penambangan asteroid yang berjalan 

Disampaikan Andi, beberapa misi telah diakukan dengan membawa kembali sampel asteroid ke Bumi.

Seperti Hayabusa dan Hayabusa2 yang digagas oleh Badan Eksplorasi Antariksa Jepang, JAXA.

Selain itu, yang saat ini masih berlangsung adalah OSIRIS-Rex yang digagas oleh NASA untuk mengambil sampel asteroid 101955 Bennu yang direncanakan seberat 60 gram.

Sebagai informasi, ada empat pilihan untuk menambang asteroid, di antaranya sebagai berikut:

1. Manufaktur ruang angkasa (In-space manufacturing ISM), yang dapat diaktifkan dengan biomining (penambangan secara biologis).

2. Membawa bahan asteroid mentah ke bumi untuk digunakan.

3. Memprosesnya di tempat untuk membawa kembali bahan yang telah diproses, dan dapat memproduksi propelan untuk perjalanan pulang.

4. Mengangkut asteroid ke orbit yang aman di sekitar bulan atau bumi atau ke stasiun luar angkasa internasional (ISS). Secara hipotesis, dapat memungkinkan sebagian besar bahan terpakai dan tidak terbuang sia-sia.

Tantangan penambangan asteroid

Kendati, sangat memungkinkan asteroid ditambang dan dijadikan pelengkap kebutuhan mineral di bumi, tetapi jelas banyak sekali tantangan dalam pelaksanaannya nanti.

Di antaranya seperti biaya penerbangan luar angkasa yang tidak murah.

Kemudian, tantangan mengenai identifikasi asteroid yang belum dapat diandalkan ketika akan ditambang.

Serta, terakhir adalah ekstraksi biji logam yang menemui tantangannya sendiri.

"Itulah mengapa hingga saat ini, pertambangan di Bumi masih menjadi satu-satunya cara untuk memperoleh bahan baku mineral," ujarnya.

Namun, observatorium Kerck di tahun 2006 mengumumkan, bahwa asteroid Trojan Jupiter seperti 617 Patroclus dan asteroid Trojan lainnya diduga merupakan keluarga komet yang telah punah dan tersusun atas air dalam wujud padat atau es.

Termasuk juga komet keluarga Jupiter (JFC, Jupiter-family Comets) dan asteroid dekat Bumi (Near Earth Asteroids) yang juga mengandung air.

Secara hipotesis, air yang diproses dari es dapat mengisi bahan bakar depot propelan yang mengobit.

"Hal ini menghemat biaya yang dibutuhkan selama stasiun luar angkasa beroperasi," kata dia.

Baca juga: NASA: Asteroid Apophis Tak akan Tabrak Bumi dalam 100 Tahun ke Depan

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.