Kompas.com - 31/07/2021, 20:02 WIB
Ilustrasi letusan Gunung Tambora Greg Harlin/Wood Ronsaville HarlinIlustrasi letusan Gunung Tambora

KOMPAS.com - Sejumlah catatan sejarah mengungkap cerita terkait kedahsyatan letusan Tambora yang terjadi pada April 1815. Salah satunya tertulis dalam Bo'Sangaji Kai atau catatan Kerajaan Bima.

Dalam catatan Bo'Sangaji Kai tertulis bagaimana situasi saat Gunung Tambora erupsi. Seperti ini bunyinya:

"Maka gelap berbalik lagi lebih daripada malam itu kemudian maka berbunyilah seperti bunyi meriam orang perang, kemudian maka turunlah kersik batu dan abu seperti dituang lamanya 3 hari 2 malam. Setalah itu maka teranglah hari maka melihat rumah dan tanaman sudah rusak semua. Demikianlah adanya itu yaitu pecah gunung Tambora menjadi habis mati orang Tambora dan Pekat...,"

Baca juga: Dahsyatnya Letusan Gunung Tambora, Hancurkan 3 Kerajaan di Sumbawa

Kesaksian seputar letusan Tambora juga ditulis oleh Gubernur Hindia Belanda Thomas Stamford Raffles yang saat itu berada di Batavia. Raffles bahkan menduga dentuman keras yang didengarnya merupakan serangan.

Terbatasnya informasi dan komunikasi, membuat Raffles memerintahkan tentaranya untuk bersiap-siap menghadapi serangan tersebut.

Ia kemudian segera menyadari bahwa dentuman itu bukanlah serangan musuh, tapi letusan gunung yang membuat langit siang menjadi gelap.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Apa yang diceritakan para saksi itu belumlah semuanya. Masih banyak dampak dramatis yang tercipta akibat letusan Gunung Tambora.

Dr. Ir. Igan Supriatman Sutawidjaja, Ahli Gunung api dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) menyebut, salah satu dampak nyata letusan Gunung Tambora yang bisa terlihat hingga saat ini adalah ketinggiannya yang berkurang. Akibat letusan dahsyat itu, Tambora hampir kehilangan separuh tingginya.

Dalam webinar bertajuk Jejak-Jejak Peradaban Tambora: Secercah Harapan di Balik Bencana, yang dikutip Kompas.com dari kanal YouTube Balar Bali, Jumat (30/7/2021), Igan menjelaskan, Tambora termasuk gunung tertinggi di Indonesia.

Sebelum erupsi, gunung tersebut tingginya 4.200 meter dan masih bisa terlihat dari Bali. Tetapi setelah meletus, tingginya hanya tersisa 2.700 meter.

Baca juga: Letusan Gunung Berapi Super, Perlu Banyak Penelitian untuk Memprediksi

Erupsi gunung berapi yang berada di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat ini juga memuntahkan abu sebesar 150 km kubik. Aerosol yang dikeluarkan pun mencapai 60 mega ton.

Letusan juga menimbulkan kaldera dengan diameter 7 km dan sedalam 1,1 km, menjadikannya sebagai kaldera terdalam di dunia.

Diperkirakan ada lebih dari 92.000 nyawa melayang akibat letusan yang terjadi April 1815.

Dampak pun juga turut dirasakan secara global ketika abu vulkanik menghalangi sinar matahari dan menyebabkan bagian utara Hemisfir mengalami penurunan suhu hingga 11 derajat Celsius, memicu terjadinya tahun tanpa musim panas di tahun 1816.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.