Kompas.com - 31/07/2021, 11:02 WIB
Varian B.1.466.2 asal Indonesia masuk daftar pantauan WHO. ShutterstockVarian B.1.466.2 asal Indonesia masuk daftar pantauan WHO.

KOMPAS.com - Sebelum varian Delta masuk ke Indonesia, varian lokal asal Indonesia yang dinamai B.1.466.2 pernah mendominasi kasus Covid-19 di Indonesia.

Hal ini berdasarkan hasil riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) selama lebih dari setahun.

“Sebelum varian delta masuk ke Indonesia, varian lokal asal Indonesia ini pernah mendominasi kasus Covid-19 di Indonesia," kata Sugiyono Saputra yang merupakan peneliti sekaligus Ketua Tim WGS Sars-CoV-2 LIPI, dilansir dari keterangan pers di laman LIPI pada 16 Juli 2021,.

Namun setelah varian Delta masuk, dengan cepat varian yang pertama kali diidentifikasi di India ini mendominasi kasus Covid-19 di Tanah Air.

Kendati demikian, varian B.1.466.2 asal Indonesia ini masuk dalam kategori pemantauan lebih lanjut atau Alerts for Further Monitoring dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Baca juga: Waspada Kemungkinan Munculnya Varian Baru Corona Asal Indonesia

Varian B.1.466.2 masuk kategori Alerts for Further Monitoring WHO

Dilansir dari laman resmi WHO, yang termasuk kategori Alerts for Further Monitoring adalah varian SARS-CoV-2 dengan perubahan genetik yang diduga memengaruhi karakteristik virus dengan beberapa indikasi dapat menimbulkan risiko di masa depan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Namun karena bukti dampak fenotipik atau epidemiologis masih belum jelas, varian Covid-19 yang masuk kategori ini memerlukan pemantauan yang harus ditingkatkan dan penilaian ulang sembari menunggu bukti baru.

"Pemahaman kami tentang dampak varian ini diharapkan dapat berkembang dengan cepat, dan Peringatan Pemantauan Lebih Lanjut (Alerts for Further Monitoring) dapat segera ditambahkan atau dihapus. Oleh karena itu, label WHO tidak akan diberikan saat ini," tulis WHO.

Dari hal tersebut, Sugiyono mengatakan bahwa WHO telah memperingatkan Indonesia agar varian lokal terus dimonitor, karena secara genetik varian ini dimungkinkan tingkat penularan yang tinggi di masyarakat atau berpotensi menyebabkan penurunan efektifitas vaksin dan terapi obat.

Akan tetapi sampai saat ini, bukti ilmiah terkait efek secara epidemiologi atau bukti ilmiah yang menunjukan langsung efek dari mutasi yang terjadi belum ada.

WHO mengatakan, sampel B.1.466.2 asal Indonesia pertama kali didokumentasikan pada November 2020. Kemudian pada 28 April 2021, varian ini dimasukkan WHO dalam kategori Alerts for Further Monitoring.

"Varian lokal saat ini kasusnya tidak banyak dan sampai saat ini varian Delta lebih berbahaya dan lebih mendominasi,” jelas Sugiyono.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.