Kompas.com - 29/07/2021, 12:03 WIB
Ilustrasi sampah plastik yang menumpuk. Solusi pengelolaan sampah di Indonesia dengan waste credit. Freepik/jcompIlustrasi sampah plastik yang menumpuk. Solusi pengelolaan sampah di Indonesia dengan waste credit.


KOMPAS.com - Waste credit adalah upaya untuk mendukung usaha produsen dalam mendaur ulang lebih banyak sampah di lingkungan. Upaya ini diklaim dapat menjadi solusi penanganan sampah di Indonesia.

Menurut data Bappenas tahun 2019, jumlah tumpukan sampah multilayer plastic (MPL) packaging mencapai 1,4 ton per tahun dengan manajemen yang buruk.

Sebanyak 9 persen sampah MPL dibuang ke laut, 62 persen dibakar, 19 persen dibuang ke TPA dan hanya 12 persen yang didaur ulang.

Berkaca pada data tersebut, dibutuhkan solusi guna menyelamatkan lingkungan dari penumpukan sampah di tengah masyarakat yang belum mengerti cara pengelolaan sampah dengan benar.

Konsep yang dimiliki oleh waste credit ini hampir sama dengan konsep carbon credit. Pada carbon credit, karbon dioksida yang dihasilkan dari suatu kegiatan harus dibayar dengan menyerap kembali karbon tersebut.

Jika waste credit berfokus pada sampah, sedangkan carbon credit, bentuk upaya yang dilakukan adalah dengan membayar biaya penanaman satu pohon mangga yang bisa mengabsorbsi sebanyak 450 kg karbon dioksida (CO2) setelah menggunakan sepeda motor selama satu tahun yang setara dengan mengeluarkan 450 kg CO2.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Indonesia Hasilkan 64 Juta Ton Sampah, Bisakah Kapasitas Pengelolaan Tercapai Tahun 2025?

 

Dalam proses pengelolaan sampah dengan program waste credit juga dilakukan sesuai kesepakatan dengan klien. Sampah bisa diproses menjadi RDF yang berguna sebagai energi pada pabrik pembuatan semen.

Seluruh proses dilakukan dengan transparan dan jujur. Artinya, klien juga bisa mendapatkan waste journey report atau catatan perjalanan sampah yang diproses dan sertifikat.

“Kejujurannya adalah bagaimana kita mengelola ini dengan baik dan benar-benar dipastikan bahwa proses kita melakukan ini dengan standar yang tepat,” ujar Rizky Ambardi, selaku Head of Recycling Business Waste4Change dalam webinar Plastic Neutral for Sustainable Food Industry, Selasa (27/7/2021).  

Terdapat 2 tipe pelayanan waste credit yaitu material recovery dan water clean up. Pada material recovery, sampah dikumpulkan dari agen daur ulang atau komunitas.

Sampah lalu didaur ulang dengan pemilahan secara mendetail agar hasilnya optimal dan mengurangi potensi berakhirnya sampah di TPA.

 

Dengan solusi waste credit ini, sampah yang tidak dapat diproses akan dikembalikan ke TPA agar meminimalisir dampaknya pada lingkungan.

Baca juga: Sampah Plastik Saat PSBB dan WFH Meningkat, Ini 6 Hal yang Bisa Kita Lakukan

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.