Kompas.com - 12/07/2021, 20:30 WIB
ilustrasi gunung berapi bbc.comilustrasi gunung berapi

KOMPAS.com - Indonesia menjadi salah satu rumah bagi gunung berapi berbahaya di dunia.

Beberapa letusan dahyat pun pernah terjadi, contohnya saja Krakatau pada 1883, Gunung Tambora pada 1815, dan Toba yang pernah mengalami letusan super masif sekitar 72.000 tahun yang lalu.

Pertanyaannya adalah mengapa hal itu bisa terjadi?

Kini studi kolaborasi Universitas Uppsala, Museum Sejarah Alam Swedia di Stockholm, Universitas Freiburg di Jerman, dan Vrije Universiteit Amsterdam di Belanda, menemukan petunjuknya.

Peneliti menyebut ada hubungan antara mantel bumi dengan letusan gunung berapi.

Baca juga: Gunung Berapi Super di Mantel Bumi Membuat Lempeng Kerak Bumi Berotasi

Dalam penelitian tersebut, peneliti pun melakukan analisis kimia mineral pada lava dari Bali dan Jawa untuk lebih memahami bagaimana mantel bumi terbentuk di wilayah tertentu dan bagaimana magma berubah sebelum letusan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hasil penelitian ini pun dapat meningkatkan pemahaman tentang bagaimana vulkanisme di kepulauan Indonesia bekerja.

"Magma terbentuk di mantel dan komposisi mantel di bawah Indonesia dulu hanya diketahui sebagian," ungkap Frances Deegan, salah satu penulis studi dan peneliti di Departemen Ilmu Bumi Universitas Uppsala, seperti dikutip dari Phys, Senin (12/7/2021).

Menurutnya, memiliki pengetahuan yang lebih baik tentang mantel bumi juga memungkinkan untuk membuat model yang lebih dapat diandalkan untuk perubahan kimia dalam magma ketika menembus kerak yang tebalnya 20 hingga 30 kilometer yang sebelum akhirnya erupsi.

Komposisi magma sendiri sangat bervariasi dari satu lingkungan geologi ke lingkungan geologi lainnya dan memiliki pengaruh pada jenis letusan gunung berapi yang terjadi.

Misalnya saja, kepulauan Indonesia terbentuk oleh vulkanisme yang disebabkan oleh dua lempeng tektonik benua Bumi yang bertabrakan di sana.

Dalam tumbukan ini, lempeng Indo-Australia meluncur di bawah lempeng Eurasia dengan kecepatan sekitar 7 cm per tahun.

Proses ini, yang dikenal sebagai subduksi, dapat menyebabkan gempa bumi yang kuat.

Bencana tsunami tahun 2004, misalnya, disebabkan oleh pergerakan di sepanjang batas lempeng ini.

Baca juga: Bukti Kedahsyatan Gunung Berapi 2000 Tahun Lalu, Paksa Orang Mesir Kuno Mengungsi

Halaman:


Sumber PHYSORG
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.