Kompas.com - 27/06/2021, 19:02 WIB
Komet Bernardinelli-Bernstein membutuhkan 5,5 juta tahun untuk menyelesaikan orbitnya. Mega komet yang juga bernama 2014 UN271 saat ini sedang menyelam dari luar tata surya. Pada jarak terdekatnya dengan matahari kita, ia akan mendekati orbit planet terluar Saturnus pada tahun 2031. NASA JPLKomet Bernardinelli-Bernstein membutuhkan 5,5 juta tahun untuk menyelesaikan orbitnya. Mega komet yang juga bernama 2014 UN271 saat ini sedang menyelam dari luar tata surya. Pada jarak terdekatnya dengan matahari kita, ia akan mendekati orbit planet terluar Saturnus pada tahun 2031.

KOMPAS.com - Astronom Amatir Indonesia, Marufin Sudibyo mengabarkan bahwa sebuah komet raksasa (megakomet) sedang bergerak memasuki tata surya bagian dalam dan menghebohkan jagat astronomi.

"Sebuah komet raksasa (megakomet) yang datang dari tepian tata surya kita sedang bergerak  memasuki tata surya bagian dalam dan menghebohkan jagat astronomi," kata Marufin kepada Kompas.com, Sabtu (26/6/2021).

Berikut beberapa fakta yang diketahui mengenai komet raksasa ini:

Baca juga: Studi Sebut Komet yang Tabrak Bumi Bantu Memicu Lahirnya Peradaban

1. Bernama Bernardinelli-Bernstein

Megakomet atau komet raksasa yang dimaksud Marufin dinamai komet Bernardinelli-Bernstein (2014 UN271).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Foto dari observatorium SkyGems Remote Telescope (Namibia) ini meperlihatkan wajah komet Bernardinelli-Bernstein (C/2014 UN271), begitu namanya pada saat ini untuk benda langit 2014 UN271," jelasnya.

Dinamakan demikian sesuai dengan nama dua penemunya yakni Bernardinelli & Bernstein.

Mereka adalah sepasang cendekiawan di balik Dark Energy Survey (DES) yang bersenjatakan fasilitas teleskop raksasa Cerro-Tololo (Chile) guna memetakan langit.

Selama 6 tahun penuh, DES bekerja memetakan 300 juta galaksi dalam area seluas 5.000 derajat persegi.

Dalam upaya tersebut DES mendeteksi 16 miliar sumber cahaya titik mirip bintang dengan 800 di antaranya dipastikan merupakan obyek transneptunik.

Obyek transneptunik adalah sejenis asteroid besar dengan komposisi mirip intikomet yang bergentayangan di antara orbit Neptunus hingga ke tepian tata surya.

Satu di antara 800 obyek tersebut adalah C/2014 UN271. Dengan diameter 100 - 200 kilometer, inilah intikomet terbesar yang pernah disaksikan umat manusia sepanjang sejarahnya.

Citra SkyGems ini menunjukkan dengan jelas betapa pada jarak 20,18 Satuan Astronomi (SA) dari Matahari, C/2014 UN271 telah memperlihatkan tanda-tanda khas komet berupa coma (atmosfer komet).

Diameter coma tersebut diperkirakan sebesar 200.000 km, atau jauh lebih besar ketimbang dimensi Bumi kita.

Mega komet Bernardinelli-Bernstein atau 2014 UN271. Diagram orbit 2014 UN271 terhadap planet-planet kerdil tata Surya kita dan citra 2014 UN217 sebagai komet raksasa. Penampakan ini diambil dari Observatorium SkyGems Remote Telescope, Namibia.Marufin Sudibyo Mega komet Bernardinelli-Bernstein atau 2014 UN271. Diagram orbit 2014 UN271 terhadap planet-planet kerdil tata Surya kita dan citra 2014 UN217 sebagai komet raksasa. Penampakan ini diambil dari Observatorium SkyGems Remote Telescope, Namibia.

2. Karakteristik komet Bernardinelli-Bernstein

Dijelaskan Marufin, komet 2014 UN271 ini memiliki orbit sangat lonjong mendekati parabola dan dapat dipastikan berasal dari awan komet Opik-Oort.

Yakni wilayah dingin membekukan yang berjarak 2.000 sampai dengan 50.000 Satuan Astronomi (SA) dari Matahari dan menjadi tapal batas terluar tata surya kita.

"Identitas 2014 UN271 terungkap melalui analisis citra-citra Dark Energy Survey," kata Marufin.

3. Periode rotasi

Komet raksasa yang satu ini diketahui mengelilingi Matahari dengan periode sangat panjang (sekitar 3 juta tahun), aphelion 40.000 SA, dan perihelion hanya 10,95 SA.

Sementara, magnitudo mutlaknya +7,8 sehingga 2014 UN271 berdiameter 100 s/d 200 km.

Obyek dari awan komet Opik-Oort pada dasarnya adalah sebuah kometisimal (bakal intikomet), sehingga 2014 UN271 merupakan salah satu intikomet terbesar.

Mungkin setara atau bahkan lebih besar dari intikomet Sarabat (C/1729 P1) yang ~100 km.

4. Tak berpotensi tabrakan

Disampaikan Marufin, saat ini 2014 UN271 masih lebih jauh ketimbang Uranus, namun sudah memperlihatkan tanda-tanda aktivitas komet yang khas.

Satu dekade ke depan, 2014 UN271 akan tiba di titik perihelionnya yang setara dengan jarak Matahari-Saturnus.

"Tak ada potensi tumbukan dengan planet apapun," ucap dia.

Baca juga: Ramai Lintang Kemukus di Tuban, Apa Itu Komet dan Kenapa Ada Ekornya?

5. Ketampakannya sangat redup

Lebih lanjut, meskipun saat ini sedang dalam perjalanan memasuki tata Surya bagian dalam, tetapi Komet 2014 UN271 juga bakal sangat redup.

Bahkan, kecerlangannya hanya seterang Pluto sehingga butuh teleskop berdiameter minimal 200 mm untuk mengamatinya.

Namun bagi jagat astronomi, kata dia, tibanya 2014 UN271 di titik perihelion menyajikan kesempatan emas guna mengeksplorasi benda langit purba yang masih mengandung jejak-jejak tumbuh kembangnya tata surya kita sedari awal.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.