Kompas.com - 21/06/2021, 19:01 WIB
Petugas pemakaman membawa peti jenazah pasien suspect virus corona atau Covid-19 di TPU Pondok Rangon, Jakarta Timur, Kamis (9/9/2020). Petugas administrasi TPU Pondok Ranggon mengatakan saat ini jumlah makam yang tersedia untuk jenazah dengan protokol COVID-19 tersisa 1.069 lubang makam, dan diperkirakan akan habis pada bulan Oktober apabila kasus kematian akibat COVID-19 terus meningkat. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPetugas pemakaman membawa peti jenazah pasien suspect virus corona atau Covid-19 di TPU Pondok Rangon, Jakarta Timur, Kamis (9/9/2020). Petugas administrasi TPU Pondok Ranggon mengatakan saat ini jumlah makam yang tersedia untuk jenazah dengan protokol COVID-19 tersisa 1.069 lubang makam, dan diperkirakan akan habis pada bulan Oktober apabila kasus kematian akibat COVID-19 terus meningkat.


KOMPAS.com - Sudah satu setengah tahun, dunia menghadapi pandemi virus corona, namun masih banyak orang yang tidak percaya Covid-19. Salah satunya aksi viral pemuda yang menantang akan pegang mayat pasien Covid-19.

Video pemuda asal Kuningan, Jawa Barat, berisinisial AS, tentang pernyataannya akan memegang mayat pasien Covid-19, viral di media sosial pada Jumat (18/6/2021).

Aksi tersebut dilakukannya untuk membuktikan bahwa Covid-19 itu ada atau tidak. Atas pernyataannya dalam video yang viral itu, AS ditangkap polisi dan diamankan di Polsek Ciwaru, Kuningan, Jawa Barat.

AS adalah salah satu dari sekian banyak masyarakat yang masih tidak percaya Covid-19 itu ada. Menanggapi hal ini Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Faturochman menjelaskan mengapa masih ada orang yang tidak percaya akan Covid-19.

"Dari pengamatan kami, (kondisi ini) dapat dijelaskan dengan dua konsep," kata Prof Faturochman saat dihubungi Kompas.com, Senin (21/6/2021).

Baca juga: Viral Seniman Surabaya akan Hirup Covid-19, Ahli Jelaskan Kenapa Orang Tidak Percaya Corona?

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

 

Konsep pertama, terkait dengan perilaku yang dipengaruhi oleh tiga hal, yakni pengetahuan atau kognisi, perasaan dan pengalaman.

Prof Faturochman mengungkapkan bahwa orang yang menentang adanya Covid-19 seperti itu, membutuhkan pengalaman langsung untuk bisa memercayai keberadaan penyakit ini.

"Dia kan, belum pernah pegang, akan percaya kalau sudah pegang. Jadi dia bukan model orang yang berperilaku karena pikiran atau perasaan, tetapi pakai pengalaman," jelas Prof Faturochman.

Sama halnya jika diibaratkan dengan orang yang belum pernah jatuh karena kebut-kebutan naik kendaraan bermotor.

"Hanya saja dalam menghadapi penyakit, kompleksitasnya berbeda," kata Prof Faturochman.

Lebih lanjut Prof Faturochman mengatakan bahwa selain tiga aspek perilaku tersebut, orang tidak percaya Covid-19 karena penyakit ini adalah sesuatu yang tidak terlihat.

Baca juga: Memakai Masker Dobel Lebih Efektif Cegah Covid-19, Benarkah?

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X