Kompas.com - 16/06/2021, 13:00 WIB
Ilustrasi COVID-19 varian delta ShutterstockIlustrasi COVID-19 varian delta

KOMPAS.comCOVID-19 varian delta, yang sebelumnya disebut varian India, saat ini telah menyebar di Kudus dan di beberapa wilayah di Indonesia. Varian ini tidak hanya menyebar lebih cepat, namun juga menyebabkan gejala yang lebih parah.

Gejala

Virus corona varian delta menyebabkan gejala muncul lebih cepat dibandingkan varian lainnya. Hanya dalam 3 sampai 4 hari setelah terinfeksi virus ini, akan timbul gejala pada tubuh.

Gejala yang paling banyak dikeluhkan adalah sakit kepala, sakit tenggorokan, dan pilek. Pada orang yang masih muda, ini terlihat seperti flu biasa, namun ini jelas merupakan fase dimana ia bisa menularkan virus corona ke orang-orang di sekitarnya.

Namun, pada orang tua dan orang-orang yang memiliki komorbid, infeksi ini akan mengakibatkan gejala yang lebih serius, sehingga membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Baca juga: Ahli Jelaskan Bagaimana Varian Delta Virus Corona Sebabkan Lonjakan Kasus Covid-19

Seberapa menular virus corona varian delta?

Dilansir dari BBC (15/6/2021), sebanyak 43% penduduk Inggris telah divaksin, namun varian delta menjadi penyebab utama 90 persen kasus baru di Inggris. Lebih dari 70 negara telah terinfeksi virus varian baru ini.

Sekretasi Kesehatan Inggris, Matt Hancock, menyebutkan bahwa varian delta lebih mudah menular hingga 40% dibandingkan varian alpha. Selain itu, varian ini juga menyebabkan gejala yang lebih parah sehingga angka pasien yang perlu di rawat di rumah sakit meningkat pesat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dilansir dari John Hopkins Medicine, varian B.1.1.7 ini telah bermutasi. Salah satu mutasi yang terjadi adalah adanya lapisan protein pada bagian luar virus SARS-CoV-2 yang menyebabkan virus lebih mudah menempel kuat pada bagian tubuh manusia, seperti hidung dan paru-paru. Lapisan protein ini yang menyebabkan virus ini lebih cepat menular pada manusia.

Baca juga: Varian Delta yang Menyebar di Kudus Disebut Super Strain, Ini Penjelasan Ahli

Apakah vaksin COVID-19 bisa mencegah varian baru ini?

Penelitian yang membuktikan proteksi vaksin terhadap varian baru ini masih sangat terbatas. Namun data vaksin Pfizer dan Astrazeneca menunjukkan adanya proteksi walau tidak sebesar proteksi terhadap varian alpha.

Orang yang paling beresiko terkena varian delta adalah orang yang yang belum divaksin dan orang yang baru mendapatkan satu dosis vaksin.

Benarkah varian delta lebih banyak menyerang anak-anak?

Tidak ada data yang menyebutkan bahwa varian ini menyerang lebih banyak anak-anak. Kedua jenis varian menginfeksi anak-anak dengan tingkat yang sama.

Baca juga: Virus Corona Terus Bermutasi, Apakah Akan Muncul Varian Mahakuat?

Bagaimana menyikapi varian baru?

Langkah paling penting adalah tetap menerapkan protokol kesehatan. Gunakan masker dan sering mencuci tangan. Selain itu, Anda harus tetap menjaga jarak dan menghindari keramaian.

Jika Anda sudah mendapatkan kesempatan untuk vaksin, segera ambil kesempatan tersebut untuk menambah proteksi terhadap tubuh Anda.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X