Kompas.com - 13/06/2021, 10:05 WIB
Ilustrasi antibiotik ShutterstockIlustrasi antibiotik

KOMPAS.com - Antibiotik adalah obat untuk mematikan atau menghambat pertumbuhan bakteri.

Dengan begitu, Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Konsultan Penyakit Tropik dan Infeksi RSUD Dr. Soetomo, Dr dr Erwin Astha Triyono Sp.PD, K-PTI mengatakan, antibiotik tidak bisa mematikan virus, jamur atau parasit.

Hal ini disampaikannya dalam diskusi daring bertajuk Kemitraan Sektor Swasta dan Peran Masyarakat Dalam Mempromosikan Penggunaan Antibiotik Secara Rasional dan Tuntas, Kamis (10/6/2021).

Baca juga: Peneliti Ungkap Bahaya Antibiotik untuk Anak di Bawah Usia 2 Tahun

Dalam ekosistem di alam, tidak semua bakteri adalah musuh bagi tubuh manusia, karena ada bakteri baik selain bakteri jahat.

Bakteri baik dapat membersihkan polusi, menghancurkan sampah, melindungi tanaman dari bakteri jahat, dan menyediakan zat gizi untuk makanan.

Sementara, bakteri baik di saluran cerna kita dapat mengubah makanan menjadi zat gizi, membuat vit B dan K, menjaga usus tetap sehat, membuat buang air besar lancar, serta melindungi tubuh dari bakteri jahat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sementara, bakteri jahat dapat membuat kita sakit. Di antaranya seperti disentri, typhus, dan tuberkulosis (TBC).

Sehingga, kata Erwin, antibiotik ini diciptakan untuk melawan bakteri hidup yang jahat dan menyerang tubuh kita.

"Kalau terinfeksi virus, maka tidak butuh antibiotik," kata Erwin.

Efek samping antibiotik

Dalam pemaparannya Erwin menjelaskan, meskipun antibiotik memang sangat baik dalam pengobatan infeksi bakteri, jika Anda mengonsumsinya tidak habis saat terinfeksi bakteri, atau mengonsumsinya saat terinfeksi virus, maka itu akan memicu efek samping yang sangat beragam.

Pertama, toksisitas yang akan mengakibatkan terjadinya gangguan ginjal dan gangguan hati.

Kedua, jika antibiotik dikonsumsi sembarangan tanpa resep dokter, maka ada kemungkinan terjadi interaksi dengan obat lain. 

Hal ini jelas dapat mempengaruhi ataupun dipengaruhi efek obat lain tersebut.

Alhasil, jika Anda memiliki penyakit parah lainnya dan diharuskan mengonsumsi suatu obat utama selain antibiotik, maka bisa jadi obat utama itu tidak berfungsi secara optimal. Begitu juga sebaliknya.

Kemungkinan efek samping berikutnya adalah reaksi hipersensitivitas seperti reaksi anafilaksis (syok yang disebabkan oleh reaksi alergi yang berat), dan steven johnson syndrome (gangguan kulit dan selaput lendir yang langka dan serius).

Begitupun jika dikonsumsi secara tidak bijak bagi ibu hamil, maka dapat menyebabkan gangguan kehamilan atau janin, termasuk gangguan hati pada wanita hamil.

Antibiotik juga dapat menyebabkan bakteri resisten, sehingga akan menimbulkan superbugs.

Dengan berbagai efek samping tersebut, maka ini juga dapat meningkatkan risiko morbiditas (kematian), mortalitas (kesakitan), lama rawat inap, dan biaya yang meningkat.

Baca juga: Antibiotik Bukan untuk Semua Penyakit, apalagi Batuk Pilek dan Diare

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X