Kompas.com - 19/05/2021, 11:32 WIB
Ilustrasi bekerja, multitasking shutterstockIlustrasi bekerja, multitasking

KOMPAS.com - Bekerja berjam-jam membunuh ratusan ribu orang setiap tahun. Ironisnya, tren ini semakin meningkat karena pandemi Covid-19.

Ini merupakan hasil studi WHO yang disampaikan Senin (17/5/2021).

Dalam studi global pertama tentang hilangnya nyawa terkait jam kerja yang panjang, makalah di jurnal Environment International menunjukkan, 745.000 orang meninggal karena stroke dan penyakit jantung yang terkait dengan jam kerja panjang pada tahun 2016.

Jumlah tersebut meningkat hampir 30 persen dari tahun 2000.

Baca juga: WHO Sebut Tahun Kedua Pandemi Lebih Mematikan, Ini Alasannya

"Bekerja 55 jam atau lebih per minggu merupakan bahaya kesehatan yang serius," tegas Maria Neira, direktur Departemen Lingkungan, Perubahan Iklim, dan Kesehatan WHO.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Yang ingin kami lakukan dengan informasi ini adalah mempromosikan lebih banyak tindakan dan perlindungan untuk pekerja," katanya dilansir Reuters, Senin (17/5/2021).

Studi bersama yang dilakukan WHO dan Organisasi Perburuhan Internasional menunjukkan bahwa sebagian besar korban, sekitar 72 persen, adalah laki-laki dan berusia paruh baya. Penelitian ini mengambil data dari 194 negara.

Seringkali kematian terjadi jauh di kemudian hari, kadang-kadang beberapa dekade kemudian sejak seseorang bekerja dengan jumlah jam kerja yang panjang.

Studi WHO menunjukkan, orang yang tinggal di Asia Tenggara dan Pasifik Barat - terutama China, Jepang, dan Australia - adalah yang paling terpengaruh.

Secara keseluruhan, bekerja lebih dari 55 jam seminggu dikaitkan dengan risiko stroke 35 persen lebih tingi dan risiko kematian akibat penyakit jantung iskemik 17 persen lebih tinggi dibanding mereka yang bekerja 35-40 jam seminggu.

Halaman:


Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Apa yang Lalat Lakukan Ketika Hinggap di Makanan?

Apa yang Lalat Lakukan Ketika Hinggap di Makanan?

Prof Cilik
Ilmuwan: Matahari Bisa Jadi Sumber Misteri Asal-usul Air Bumi

Ilmuwan: Matahari Bisa Jadi Sumber Misteri Asal-usul Air Bumi

Fenomena
Monyet Salju Jepang Cari Makan dengan Memancing, Studi Jelaskan

Monyet Salju Jepang Cari Makan dengan Memancing, Studi Jelaskan

Fenomena
Varian Omicron Bisa Kalahkan Dominasi Varian Delta, Ini Kata Pakar Penyakit Afrika Selatan

Varian Omicron Bisa Kalahkan Dominasi Varian Delta, Ini Kata Pakar Penyakit Afrika Selatan

Oh Begitu
Komet Terbesar yang Pernah Ditemukan Ini, Ungkap Bahan Pembentuk Komet

Komet Terbesar yang Pernah Ditemukan Ini, Ungkap Bahan Pembentuk Komet

Fenomena
5 Hewan Darat yang Pandai Berenang

5 Hewan Darat yang Pandai Berenang

Oh Begitu
Studi Ungkap Pohon di Perkotaan Turunkan Suhu Permukaan Tanah hingga 12 Derajat Celcius

Studi Ungkap Pohon di Perkotaan Turunkan Suhu Permukaan Tanah hingga 12 Derajat Celcius

Oh Begitu
Dokter Anak Tegaskan Pentingnya Melengkapi Imunisasi Dasar Sebelum Vaksin Covid-19

Dokter Anak Tegaskan Pentingnya Melengkapi Imunisasi Dasar Sebelum Vaksin Covid-19

Oh Begitu
10 Varian Covid-19 Beserta Gejalanya, dari Alpha hingga Omicron

10 Varian Covid-19 Beserta Gejalanya, dari Alpha hingga Omicron

Oh Begitu
Makan Buah Alpukat Lebih dari Satu, Studi Temukan Manfaatnya untuk Kesehatan

Makan Buah Alpukat Lebih dari Satu, Studi Temukan Manfaatnya untuk Kesehatan

Oh Begitu
Misterius, Ahli Temukan Mumi Terikat Tali dengan Tangan Menutupi Wajah

Misterius, Ahli Temukan Mumi Terikat Tali dengan Tangan Menutupi Wajah

Oh Begitu
Update Siklon Tropis Nyatoh, Bibit Siklon Tropis 94W dan 92S Beserta Dampaknya

Update Siklon Tropis Nyatoh, Bibit Siklon Tropis 94W dan 92S Beserta Dampaknya

Fenomena
Perbedaan Kupu-kupu dan Ngengat

Perbedaan Kupu-kupu dan Ngengat

Oh Begitu
Nama Varian Omicron, Mengapa WHO Melewatkan Dua Alfabet Yunani untuk Menamainya?

Nama Varian Omicron, Mengapa WHO Melewatkan Dua Alfabet Yunani untuk Menamainya?

Oh Begitu
Waspada Dampak Bibit Siklon Tropis 94W, dari Cuaca Ekstrem hingga Wilayah Berisiko Banjir

Waspada Dampak Bibit Siklon Tropis 94W, dari Cuaca Ekstrem hingga Wilayah Berisiko Banjir

Fenomena
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.