Kompas.com - 15/05/2021, 10:02 WIB
Zona Outer rise, megathrust, dan kerak dangkal. Zona outer rise seperti gempa Nias Barat, Jumat (14/5/2021) tidak bisa diabaikan karena bisa memicu tsunami. BMKG/DaryonoZona Outer rise, megathrust, dan kerak dangkal. Zona outer rise seperti gempa Nias Barat, Jumat (14/5/2021) tidak bisa diabaikan karena bisa memicu tsunami.

KOMPAS.com - Jumat (14/5/2021) siang pukul 13.33 WIB, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa kuat M 7,2 mengguncang wilayah Nias Barat, Sumatera Utara.

Hasil analisis BMKG menunjukkan informasi awal gempa bumi ini berkekuatan M 7,2 yang selanjutnya dilakukan pemutakhiran menjadi M 6,7.

"Jumat, 14 Mei 2021 pukul 13.33.09 WIB di Samudera Hindia Pantai Barat Sumatera diguncang gempa tektonik. Kekuatan Magnitudo 7,2 yang selanjutnya dilakukan pemutakhiran menjadi 6,7," kata Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Dwikorita Karnawati dalam jumpa persnya di Jakarta, Jumat.

Hasil monitoring BMKG menunjukkan gempa tidak berpotensi menimbulkan tsunami, tetapi guncangannya dirasakan oleh masyarakat sekitar dengan intensitas yang bervariasi.

Baca juga: Tidak Berpotensi Tsunami, Getaran Gempa Nias Barat Terasa Hingga Aceh

Menurut Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, gempa ini tidak berpotensi tsunami karena dengan kekuatan M 6,7 belum cukup kuat untuk menimbulkan deformasi dasar laut hingga mengganggu kolom air laut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pusat gempa (episenter) terletak pada koordinat 0,2 derajat Lintang Utara dan 96,69 derajat Bujur Timur atau berada di laut pada jarak 125 kilometer arah barat daya Kota Lahomi, Kabupaten Nias Barat, Sumatera Utara, dengan kedalaman pusat gempa (hiposenter) 10 kilometer.

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal yang berada di zona outer-rise atau di luar zona subduksi lempeng.

Lantas, apa yang dimaksud dengan zona outer rise?

Gempa dahsyat yang memicu tsunami umumnya disebabkan oleh adanya deformasi batuan pada sistem subduksi dangkal, tepatnya di bidang kontak antar lempeng, yang disebut zona megathrust.

Di zona ini energi elastik dapat terakumulasi maksimum akibat adanya pertemuan atau tumbukan antar lempeng yang kemudian dilepaskan secara tiba-tiba saat terjadi gempa.

Nah, pada episenter gempa barat daya Nias di peta tampak berada di luar zona subduksi. Inilah yang menjadi ciri sumber gempa outer rise.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Masturbasi Tidak Dapat Mencegah Infeksi Virus, Ini Penjelas Ahli

Masturbasi Tidak Dapat Mencegah Infeksi Virus, Ini Penjelas Ahli

Kita
Vaknus, Harapan Sungguhan atau PHP? Simak di Chatting Kompas.com Ini

Vaknus, Harapan Sungguhan atau PHP? Simak di Chatting Kompas.com Ini

Oh Begitu
Ilmuwan: Varian Virus Corona yang Bisa Kalahkan Vaksin Saat Ini Akan Muncul

Ilmuwan: Varian Virus Corona yang Bisa Kalahkan Vaksin Saat Ini Akan Muncul

Fenomena
Gempa Hari Ini: M 5,9 Guncang Kaimana Papua Barat Akibat Deformasi Batuan

Gempa Hari Ini: M 5,9 Guncang Kaimana Papua Barat Akibat Deformasi Batuan

Fenomena
Benarkah Mi Instan Mengadung Lilin?

Benarkah Mi Instan Mengadung Lilin?

Oh Begitu
Tempe VS Tahu, Mana yang Lebih Kaya Protein?

Tempe VS Tahu, Mana yang Lebih Kaya Protein?

Oh Begitu
WHO: Kesehatan Mental Bisa Jadi Dampak Covid-19 Jangka Panjang

WHO: Kesehatan Mental Bisa Jadi Dampak Covid-19 Jangka Panjang

Oh Begitu
Perbedaan Masker N95, KF95 dan KF94, Mana yang Lebih Efektif Cegah Covid-19?

Perbedaan Masker N95, KF95 dan KF94, Mana yang Lebih Efektif Cegah Covid-19?

Oh Begitu
Vaksinasi Saja Tidak Cukup untuk Hentikan Pandemi Covid-19

Vaksinasi Saja Tidak Cukup untuk Hentikan Pandemi Covid-19

Oh Begitu
Masker KN95 Sebaiknya Tidak Dipakai Berulang, Ini Penjelasan Peneliti LIPI

Masker KN95 Sebaiknya Tidak Dipakai Berulang, Ini Penjelasan Peneliti LIPI

Oh Begitu
Hasil Uji Coba Vaksin Covid-19 untuk Anak di Bawah 12 Tahun dari Berbagai Negara

Hasil Uji Coba Vaksin Covid-19 untuk Anak di Bawah 12 Tahun dari Berbagai Negara

Oh Begitu
Apa Itu Regdanvimab, Terapi Antibodi Monoklonal untuk Covid-19 yang Kantungi EUA BPOM?

Apa Itu Regdanvimab, Terapi Antibodi Monoklonal untuk Covid-19 yang Kantungi EUA BPOM?

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Saran Peneliti Vaksin AstraZeneca untuk Vaksin Merah Putih | Fenomena Langit Agustus 2021

[POPULER SAINS] Saran Peneliti Vaksin AstraZeneca untuk Vaksin Merah Putih | Fenomena Langit Agustus 2021

Oh Begitu
4 Jenis Roti yang Paling Sehat untuk Dikonsumsi

4 Jenis Roti yang Paling Sehat untuk Dikonsumsi

Oh Begitu
Mengenal Flavonoid pada Buah dan Sayuran, yang Dapat Mencegah Demensia

Mengenal Flavonoid pada Buah dan Sayuran, yang Dapat Mencegah Demensia

Oh Begitu
komentar
Close Ads X