Kompas.com - 14/05/2021, 09:00 WIB
Umat Muslim melaksanakan shalat Idul Fitri di Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (13/5/2021). Pelaksanaan shalat Idul Fitri 1442 hijriah dilakukan dengan protokol kesehatan pencegahan COVID-19 dengan menampung 7.000 jemaah atau 50 persen dari total kapasitas di area lapangan. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGUmat Muslim melaksanakan shalat Idul Fitri di Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (13/5/2021). Pelaksanaan shalat Idul Fitri 1442 hijriah dilakukan dengan protokol kesehatan pencegahan COVID-19 dengan menampung 7.000 jemaah atau 50 persen dari total kapasitas di area lapangan.

KOMPAS.com - Masih di momen lebaran Idul Fitri, semua orang bersuka cita. Meski tak bisa pulang kampung, kita masih bisa bersilahturahmi dengan keluarga secara virtual.

Menurut psikolog, hal ini tak akan menghilangkan makna dari bermaaf-maafan.

Kemarin bukan hanya lebaran idul fitri bagi umat Muslim. Di hari yang sama, umat Kristiani juga memperingati hari kenaikan Isa Almasih.

Ini adalah peristiwa langka yang jarang terjadi. Jika penentuan tanggal Idul Fitri dilakukan dengan metode rukyat dan hisab, bagaimana dengan perayaan Kenaikan Isa Almasih?

Peristiwa langka terkait Idul Fitri juga akan kita alami pada 2030 nanti. Di mana tahun itu akan ada dua kali bulan Ramadhan dan Idul Fitri.

Ini artinya, dalam satu tahun ada tiga perayaan penting yakni dua kali bulan Ramadhan dan Idul Fitri serta satu kali Idul Adha.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Terlepas dari perayaan Idul Fitri dan Kenaikan Isa Almasih, kemarin WHO mengumumkan bahwa varian B.1.617 yang pertama kali terdeteksi di India dan memicu tsunami corona di negara itu telah terdeteksi di 49 negara lainnya.

Baca juga: [POPULER SAINS] Bahaya Mandi Kotoran Sapi di India | Kalap Makan Saat Lebaran, Cara Turunkan Kolesterol

Berikut artikel populer Sains sepanjang Kamis (13/5/2021).

1. Bermaafan Lebaran secara virtual tak hilangkan makna

Silahturahmi merayakan lebaran Idul Fitri dengan video call.SHUTTERSTOCK/Gatot Adri Silahturahmi merayakan lebaran Idul Fitri dengan video call.

Merayakan hari raya Idul Fitri tak akan lepas dari yang namanya tradisi maaf-maafan. Kendati tidak bisa bersalaman langsung karena kondisi pandemi Covid-19 yang membatasi gerak kita, meminta maaf dan silahturahmi kepada keluarga dan orang terkasih masih bisa dilakukan via daring.

Hal ini pun disampaikan oleh psikolog asal Solo, Hening Widyastuti. Dia berkata, kita tetap bisa meminta maaf secara daring dan tidak menghilangkan fungsinya.

Apalagi, mengingat situasi pandemi Covid-19 yang akhirnya melahirkan new normal, kebiasaan baru seperti tidak bisa mudik saat lebaran hingga bermaaf-maafan secara virtual.

"Solusinya salah satunya bertemu lewat daring. Entah lewat Zoom, video call, dan sebagainya. Itu jelas bisa kita ketemu, fungsinya tetap ada," imbuh dia.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X