Kompas.com - 08/05/2021, 16:33 WIB
Roket China Long March-5B yang diluncurkan pada Selasa (5/5/2020). Roket ini diduga pecah saat masuk kembali ke Bumi, dan puing-puingnya berjatuhan di Afrika. STR/AFPRoket China Long March-5B yang diluncurkan pada Selasa (5/5/2020). Roket ini diduga pecah saat masuk kembali ke Bumi, dan puing-puingnya berjatuhan di Afrika.


KOMPAS.com- Pekan ini, diperkirakan roket Long March milik China akan jatuh ke Bumi. Puing-puing roket China akan jatuh ke Bumi diprediksi terjadi pada hari Sabtu atau Minggu ini, lantas apakah berbahaya?

Roket setinggi 100 kaki, dengan berat 22 metrik ton, diluncurkan pada akhir April lalu dalam misi meluncurkan potongan pertama stasiun luar angkasa baru, Beijing, China.

Dilansir dari The Verge, Sabtu (8/5/2021), kembalinya puing-puing roket Long March 5B China ini, sepertinya tidak perlu dikhawatirkan oleh para penduduk Bumi.

Bangkai roket itu pun diperkirakan akan jatuh ke laut, menurut para analisis.

"Sebagian besar Bumi tertutup air, jadi hampir tidak ada risiko," kata Dan Oltrogge, pendiri Koalisi Keamanan Luar Angkasa.

Baca juga: Roket Long March China Diperkirakan akan Jatuh ke Bumi Pekan Ini

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

 

Oltrogge yang juga pakar kebijakan terkemuka di Pusat Operasi Luar Angkasa Komersial, perusahaan yang membantu perusahaan melacak lalu lintas luar angkasa, menambahkan bahwa risiko dari jatuhnya roket itu bagi publik tidaklah nol.

"Tetapi (dampak jatuhnya roket China) jauh lebih sedikit, jika menuju lautan," kata dia.

Komando Luar Angkasa AS, yang membantu melacak sekitar 27.000 potongan sampah buatan manusia di orbit, sedang melacak lokasi tahap roket Long March.

"Tetapi, titik masuk yang tepat ke atmosfer Bumi tidak dapat ditentukan sampai beberapa jam setelah masuk kembali," katanya dalam keterangannya, memperkirakan roket akan masuk kembali pada Sabtu, 8 Mei ini.

Baca juga: Sampah Roket China Jatuh di Kalteng, Kenapa Lapan Tak Beri Peringatan?

 

Misi stasiun luar angkasa China

Potensi manusia mendapat dampak dari jatuhnya roket ini, kata Komando Luar Angkasa AS, sangat rendah. Sebab, kebanyakan tahap inti roket ini tidak memasuki orbit Bumi. Biasanya puing-puing roket tersebut akan jatuh ke laut, tepat setelah peluncuran.

Akan tetapi, roket Long March 5B milik China, memiliki desain yang unik yang menempatkan seluruh tahap pertama ke orbit rendah Bumi untuk mengirimkan muatannya.

Muatan yang dibawa roket Long March China yang diluncurkan pada 29 April lalu itu adalah modul Tianhe seberat 22,5 metrik ton.

Modul yang diluncurkan menggunakan roket China Long March 5B ini nantinya akan berfungsi sebagai tempat tinggal untuk stasiun luar angkasa baru China dalam beberapa tahun ke depan. 

Baca juga: Sedang Wabah Virus Corona, China Tetap Luncurkan Roket ke Luar Angkasa

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Sumber The Verge
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X