Kompas.com - 07/05/2021, 18:45 WIB
Pekerja kesehatan menangani eorang pasien di Rumah Sakit Jumbo Covid-19 di Mumbai, India, pada 26 April 2021. Infeksi baru membuat negara itu kelimpungan karena jumlah kasus yang terus meningkat. AP PHOTO/Rafiq MaqboolPekerja kesehatan menangani eorang pasien di Rumah Sakit Jumbo Covid-19 di Mumbai, India, pada 26 April 2021. Infeksi baru membuat negara itu kelimpungan karena jumlah kasus yang terus meningkat.

KOMPAS.com - Para pakar epidemiologi Indonesia khawatir kondisi pandemi Covid-19 di tanah air berpotensi menjadi lebih buruk. Jika tidak terkendali, maka angka kasus dapat meningkat seperti yang terjadi di India dan beberapa negara lain.

Epidemiolog dari Universitas Airlangga, Dr Windhu Purnomo mengingatkan bahwa jika pemerintah Indonesia tidak bertindak dengan baik, maka apa yang terjadi di India juga mungkin akan terjadi di negara ini.

"Apa yang terjadi di India, Malaysia dan beberapa negara lain juga bisa terjadi di Indonesia kalau kita tidak mau belajar dari pengalaman buruk negara lain itu," kata Windhu kepada Kompas.com, Selasa (4/5/2021).

Baca juga: Angka Kasus Sempat Turun, Mengapa Tsunami Covid-19 Bisa Terjadi di India?

Dua alasan utama pernyataan Windhu tersebut adalah angka kasus yang stagnan dan tidak mengalami penurunan dalam beberapa minggu terakhir, serta lemahnya pengawasan di wilayah perbatasan negara tetangga, terutama karantina bagi WNI ataupun WNA yang masuk ke tanah air.

Potensi risiko memburuknya kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia juga disampaikan oleh Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman.

Saat dihubungi terpisah, Dicky mengatakan, Indonesia sebagai bagian dari negara di ASEAN dianggap rawan mengalami peningkatan kasus baru maupun kasus kematian.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Indonesia dianggap rawan, karena memiliki wilayah teritorial perbatasan yang cukup dekat. Selain itu, akses keluar dan masuk wilayah Indonesia di pintu perbatasan relatif lemah.

Termasuk di pintu-pintu perbatasan dekat dengan negara Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Timor Leste, dan Papua Nugini.

Menurut Dicky, pintu-pintu perbatasan itu sangat mudah dimasuki kasus-kasus impor maupun ekspor Covid-19 yang berat.

"Nah oleh karena itu, apa yang terjadi di negara tetangga juga ancaman untuk perburukan situasi di dalam negeri, yang jelas saat ini kita belum dalam status terkendali," tegasnya.

Lantas, apa yang bisa dilakukan untuk menghindari potensi risiko kondisi terburuk akibat pandemi Covid-19 di Indonesia ini?

Menjawab persoalan tersebut, Dicky menyarankan dua hal yang penting dilakukan dalam menghadapi pandemi Covid-19.

1. Kolaborasi strategi

Pertama, Dicky menegaskan dalam upaya menghindari peningkatan kasus seperti yang terjadi di India, negara-negara kawasan ASEAN harus melakukan strategi kolaborasi yang bisa dimulai dari skala regional.

Mekanisme dan skema penanganan pandemi yang berkolaborasi dalam strategi, serta target menuntaskan Covid-19 ini adalah contoh keberhasilan yang diperlihatkan di benua Afrika dan Eropa.

"Mereka (Afrika dan Eropa) berhasil menekan dan mengendalikan Pandemi Covid-19 karena memiliki satu kesatuan goals dan strategi yang dijadikan rujukan yang sama oleh setiap negara anggotanya. Ini yang jadi catatan saya untuk wilayah ASEAN ini," kata Dicky kepada Kompas.com, Selasa (4/5/2021).

Kolaborasi strategi melawan pandemi ini, menurut Dicky penting karena negara-negara di ASEAN termasuk Indonesia merupakan negara yang dikategorikan rawan terjadi perburukan kondisi pandemi.

Hal ini dikarenakan, dengan jumlah populasi masyarakat di negara ASEAN yang cukup besar, sistem kesehatan yang ada relatif sama atau tidak cukup kuat dalam merespons pandemi sebesar ini. 

Terlebih, negara-negara di ASEAN memiliki perbatasan teritorial antar negara yang cukup dekat dan beberapa titik perbatasan memiliki peraturan keluar-masuk yang relatif lemah, termasuk dalam hal testing dan karantina Covid-19.

"Nah oleh karena itu, apa yang terjadi di negara tetangga adalah juga ancaman untuk perburukan situasi di dalam negeri, yang jelas saat ini kita belum dalam status terkendali," tegasnya.

"Kita (negara-negara ASEAN) tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, meski strategi kita baik, tetapi negara tetangga kondisinya tidak baik, potensi (perburukan) itu masih ada," imbuhnya.

Baca juga: Belajar dari Lonjakan Kasus Covid-19 di India dan Thailand, Epidemiolog: Jangan Beri Celah Masyarakat Berpergian

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X