Kompas.com - 07/05/2021, 17:05 WIB
Ilustrasi makanan nitrubIlustrasi makanan

KOMPAS.com - Makan terlalu banyak garam telah sejak lama dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan, seperti tekanan darah tinggi dan risiko stroke yang lebih tinggi, gagal jantung, osteoporosis, penyakit ginjal hingga kanker perut.

Sementara itu, penelitian baru mengungkap makan terlalu banyak garam dapat mengurangi jumlah energi yang dapat dihasilkan sel imun atau sistem kekebalan dan mencegahnya bekerja secara normal.

Markus Kleinewietfeld, seorang profesor di Universitas Hasselt di Belgia mengatakan, banyak orang hanya mengetahui tentang risiko penyakit kardiovaskular, tetapi banyak penelitian telah menunjukkan bahwa makanan tinggi garam dapat mempengaruhi sel imun dengan berbagai cara.

Baca juga: Terbukti, Konsumsi Tinggi Garam Perbesar Risiko Kematian Pengidap Hipertensi

“Jika asupan tinggi garam mengganggu sistem imun dalam jangka waktu yang lama, hal itu berpotensi mendorong penyakit inflamasi atau autoimun dalam tubuh,” ujarnya dalam sebuah pernyataan.

Beberapa tahun yang lalu, sekelompok peneliti di Jerman menemukan bahwa konsentrasi garam yang tinggi dalam darah dapat secara langsung memengaruhi fungsi sekelompok sel imun yang dikenal sebagai monosit, yang merupakan prekursor dari sel mirip Pac Man yang disebut fagosit yang mengidentifikasi dan melahap patogen dan sel yang terinfeksi atau mati di dalam tubuh.

Respons kekebalan dan risiko penyakit jantung meningkat

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dalam studi baru yang telah dipublikasikan di jurnal Circulation akhir April lalu, Kleinewietfeld dan rekan-rekannya melakukan serangkaian eksperimen untuk mencari tahu caranya.

Pertama, mereka memperbesar tautan itu di lab menggunakan tikus dan monosit manusia. Mereka menemukan bahwa dalam tiga jam setelah terpapar konsentrasi tinggi garam, sel kekebalan menghasilkan lebih sedikit energi, atau adenosin trifosfat (ATP).

Mitokondria, pembangkit tenaga sel, menghasilkan ATP dari energi yang ditemukan dalam makanan menggunakan serangkaian reaksi biokimia.

ATP kemudian memicu banyak proses seluler yang berbeda, seperti memperkuat otot atau mengatur metabolisme.

Secara khusus, para peneliti menemukan bahwa konsentrasi garam yang tinggi menghambat sekelompok enzim yang dikenal sebagai kompleks II dalam reaksi berantai yang menghasilkan ATP, yang menyebabkan mitokondria menghasilkan lebih sedikit ATP.

Dengan lebih sedikit ATP (lebih sedikit energi), monosit matang menjadi fagosit yang tampak abnormal.

Para peneliti menemukan bahwa fagosit yang tidak biasa ini lebih efektif dalam melawan infeksi.

Sayangnya, hal itu belum tentu baik, karena peningkatan respons kekebalan dapat menyebabkan lebih banyak peradangan dalam tubuh, yang pada gilirannya dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.

Baca juga: Banyak Konsumsi Makanan Asin Berbahaya untuk Jantung, Kok Bisa?

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X