Kompas.com - 05/05/2021, 20:30 WIB
Cumi-cumi raksasa Architeuthis dux ditemukan dalam kondisi mati di pantai Golden Mile di Britannia Bay, Afrika Selatan, tahun 2020.

Adéle Grosse via LIVE SCIENCECumi-cumi raksasa Architeuthis dux ditemukan dalam kondisi mati di pantai Golden Mile di Britannia Bay, Afrika Selatan, tahun 2020.


KOMPAS.com- Legenda Kraken dikisahkan sebagai makhluk mengerikan dengan tubuh sebesar pulau yang mengintai pelaut di samudera yang luas. Mungkin tak banyak yang tahu bahwa legenda yang diceritakan selama ribuan tahun itu ternyata terinspirasi oleh spesies cumi-cumi raksasa.

Mengutip Live Science, Rabu (5/5/2021) meski digambarkan sebagai makhluk raksasa, kenyataannya Architeuthis dux memiliki ukuran tubuh lebih kecil dibandingkan penggambaran mitologi Kraken.

Sebab, di dunia nyata, A.dux, cumi-cumi terbesar di dunia ini mampu tumbuh dengan panjang sekitar 14 meter.

Terlepas dari ukuran jumbonya itu, cephalopoda ini memang merupakan makhluk laut yang misterius karena hampir tak pernah terlihat.

Baca juga: Peneliti Ungkap Gumpalan Misterius Penuh Embrio Cumi-cumi di Norwegia

 

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

 

Sebagian besar pengamatan berasal ketika cumi-cumi raksasa ini mati atau sekarat di pantai.

Namun satu dokumentasi berhasil dibuat pada 2012 saat tim ilmuwan kelautan memfilmkan A.dux muda di habitat aslinya, sekitar 630 meter di bawah laut selatan Jepang.

Setelah itu, cumi-cumi raksasa kembali dapat tertangkap kamera di habitat alaminya pada 2019 di Teluk Meksiko.

Dan sekarang sebuah penelitian yang dipublikasikan secara daring di jurnal Deep Sea Research Part 1: Oceanographic Research Papers melakukan analisi mengapa raksasa itu begitu sulit temui.

Baca juga: Hilang Selama Revolusi Hongaria, Fosil Cumi-cumi Vampir Ditemukan

 

Peneliti menyebut jika penyebabnya adalah lantaran matanya yang sangat besar.

Cumi-cumi raksasa dapat hidup ribuan kaki di bawah permukaan laut. Sangat sedikit sinar matahari yang dapat menembus kedalaman itu.

Untuk beradaptasi, cumi-cumi raksasa mengembangkan mata terbesar di dunia hewan. Masing-masing mata cephalopoda itu sebesar bola basket, kira-kira tiga kali diameter hewan lain.

Mata besar tak hanya membantu cumi-cumi raksasa berjalan di sekitar laut yang dalam dan gelap tetapi juga membuatnya sangat sensitif terhadap cahaya terang yang dipasang peneliti kelautan di kapal selam dan kamera bawah air mereka.

Kepekaaan tersebut dapat menjelaskan mengapa cumi-cumi raksasa sangat sulit ditemukan di habitat aslinya.

Baca juga: Temuan Langka, Cumi-Cumi Raksasa Terdampar di Pantai Afrika Selatan

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Erick Thohir Sebut Akan Produksi 4 Juta Ivermectin Per Bulan, Bagaimana Potensinya untuk Covid?

Erick Thohir Sebut Akan Produksi 4 Juta Ivermectin Per Bulan, Bagaimana Potensinya untuk Covid?

Oh Begitu
Mengenal Psoriasis, Penyakit Kulit Kering dan Menebal

Mengenal Psoriasis, Penyakit Kulit Kering dan Menebal

Kita
Ini Kata Ahli tentang Minum Obat untuk Cegah Efek Samping Vaksin

Ini Kata Ahli tentang Minum Obat untuk Cegah Efek Samping Vaksin

Kita
Hewan Ini Diprediksi Bakal Selamat dari Perubahan Iklim, Kok Bisa?

Hewan Ini Diprediksi Bakal Selamat dari Perubahan Iklim, Kok Bisa?

Fenomena
6 Manfaat Brokoli, Sayur yang Termasuk Super Food

6 Manfaat Brokoli, Sayur yang Termasuk Super Food

Oh Begitu
Tak Hanya Varian Delta, Mutasi Virus Corona Lain Juga Mengkhawatirkan

Tak Hanya Varian Delta, Mutasi Virus Corona Lain Juga Mengkhawatirkan

Oh Begitu
Epidemiolog Tegaskan Indonesia Butuh PSBB Ketat, Bukan PPKM Mikro

Epidemiolog Tegaskan Indonesia Butuh PSBB Ketat, Bukan PPKM Mikro

Kita
Hiu Terus Berenang Sepanjang Hidup, Begini Cara Mereka Istirahat

Hiu Terus Berenang Sepanjang Hidup, Begini Cara Mereka Istirahat

Oh Begitu
Studi: Varian Alpha dan Beta Tidak Sebabkan Viral Load Virus Corona Tinggi

Studi: Varian Alpha dan Beta Tidak Sebabkan Viral Load Virus Corona Tinggi

Fenomena
Bumi Terjebak Panas pada Tingkat Mengkhawatirkan, Studi Ini Jelaskan

Bumi Terjebak Panas pada Tingkat Mengkhawatirkan, Studi Ini Jelaskan

Fenomena
LIPI Deteksi 44 Kasus Covid-19 Varian Delta dari Sampel Karawang

LIPI Deteksi 44 Kasus Covid-19 Varian Delta dari Sampel Karawang

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Tercapainya Herd Immunity di Indonesia Masih Sangat Jauh | Cara Membersihkan Ginjal

[POPULER SAINS] Tercapainya Herd Immunity di Indonesia Masih Sangat Jauh | Cara Membersihkan Ginjal

Oh Begitu
Meski Jarang Terjadi, Sindrom Peradangan Bisa Menyerang Orang Dewasa Pasca Covid-19

Meski Jarang Terjadi, Sindrom Peradangan Bisa Menyerang Orang Dewasa Pasca Covid-19

Oh Begitu
Bahan Alami untuk Mengembalikan Indera Penciuman

Bahan Alami untuk Mengembalikan Indera Penciuman

Oh Begitu
Peneliti Sebut Pola Makan Bisa Pengaruhi Risiko Covd-19 Gejala Parah

Peneliti Sebut Pola Makan Bisa Pengaruhi Risiko Covd-19 Gejala Parah

Oh Begitu
komentar
Close Ads X