Kompas.com - 05/05/2021, 17:29 WIB
Sejumlah warga memadati Blok B Pusat Grosir Pasar Tanah Abang untuk berbelanja pakaian di Jakarta Pusat, Minggu (2/5/2021). Gubernur DKI Anies mengakui adanya lonjakan pengunjung di pusat tekstil terbesar se-Asia Tenggara tersebut, dari sekitar 35.000 pengunjung pada hari biasa menjadi sekitar 87.000 orang pada akhir pekan ini sehingga pihaknya menyiagakan sekitar 750 petugas untuk menjaga kedisiplinan protokol kesehatan untuk mencegah penularan COVID-19. ANTARA FOTO/ADITYA PRADANA PUTRASejumlah warga memadati Blok B Pusat Grosir Pasar Tanah Abang untuk berbelanja pakaian di Jakarta Pusat, Minggu (2/5/2021). Gubernur DKI Anies mengakui adanya lonjakan pengunjung di pusat tekstil terbesar se-Asia Tenggara tersebut, dari sekitar 35.000 pengunjung pada hari biasa menjadi sekitar 87.000 orang pada akhir pekan ini sehingga pihaknya menyiagakan sekitar 750 petugas untuk menjaga kedisiplinan protokol kesehatan untuk mencegah penularan COVID-19.

KOMPAS.com - Epidemiolog mengingatkan, jika tidak bertindak dengan baik, apa yang terjadi di India juga mungkin akan terjadi di Indonesia. Saat ini, pandemi Covid-19 menjadi sangat mengerikan di India.

"Apa yang terjadi di India, Malaysia, dan beberapa negara lain juga bisa terjadi di Indonesia kalau kita tidak mau belajar dari pengalaman buruk negara lain itu," kata Dr Windhu Purnomo, Pakar Epidemiologi (Epidemiolog) Universitas Airlangga, kepada Kompas.com, Selasa (4/5/2021).

Mengapa demikian dan apa faktor risiko yang dapat memperbesar kemungkinan terburuk dari akibat pandemi Covid-19 di Indonesia?

Berikut beberapa faktor risiko yang meningkatkan potensi berbahaya dan kondisi yang mengancam kejadian kasus pandemi Covid-19 di Indonesia bisa seperti di India dan negara lainnya.

Baca juga: Indonesia dan ASEAN Kawasan Rawan Perburukan Covid-19, Epidemiolog Jelaskan

 

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

1. Angka kasus baru stagnan (tidak menurun)

Windhu mengatakan, kemungkinan terburuk ini bisa terjadi melihat saat ini kondisi kasus baru Covid-19 masih stagnan dan tidak terjadi penurunan dalam beberapa waktu terakhir.

"Situasi Indonesia saat ini ada tanda-tanda tidak bagus, karena sudah sekitar satu bulan ini mengalami stagnan," ujarnya.

Hal ini dianggap mengkhawatirkan dan cenderung berpotensi buruk karena sebelumnya ada penurunan kasus setelah mencapai puncak gelombang pertama pada akhir Januari yang per hari bahkan mencapai 14.000 kasus Covid-19 baru.

Windu menjelaskan, sudah sekitar sebulan kasus stagnan atau flat dan tidak turun lagi, bergerak fluktuatif ringan antara 4.000-6.000 kasus per hari dengan kecenderungan akhir-akhir ini meningkat.

"Pola yang stagan seperti ini kalau kita belajar dari pola yang terjadi di banyak negara, juga yang pernah terjadi di beberapa provinsi seperti Jawa Timur, harus diwaspadai karena dikhawatirkan akan bisa kembali terjadi peningkatan tajam," jelasnya.

Baca juga: Varian Covid-19 India Masuk Indonesia, Kenapa Epidemiolog Khawatir?

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X