Kompas.com - 04/05/2021, 06:02 WIB
Di Gua Wonderwerk ditemukan peralatan kuno dari batu seperti kapak tangan, dan bukti manusia purba di gua ini sudah menggunakan api sekitar satu juta tahun yang lalu. Michael Chazan via BBC IndonesiaDi Gua Wonderwerk ditemukan peralatan kuno dari batu seperti kapak tangan, dan bukti manusia purba di gua ini sudah menggunakan api sekitar satu juta tahun yang lalu.

KOMPAS.com - Temuan rumah tertua di dunia yang berusia 2 juta tahun menarik pembaca Sains Kompas.com pada Senin (3/5/2021).

Tak hanya tentang temuan rumah tertua di dunia saja yang menarik. Mungkin sebagian dari kita ada yang bertanya-tanya, bagaimana jika astronot meninggal di luar angkasa?

Nah, NASA saat ini sedang berusaha untuk menciptakan pemakaman di luar angkasa yang sesuai etika. Bagaimana pun, PBB melarang pembuangan jenazah di luar angkasa.

Itu adalah dua berita populer Sains Kompas.com. Berita yang tak kalah menariknya, riset menemukan bahwa bakteri tempe dapat meningkatkan kesehatan dan cegah diare; hingga penyebab gusi berdarah saat sikat gigi.

Baca juga: [POPULER SAINS] Internal Solitary Wave, Dikaitkan dengan KRI Nanggala-402 | Temuan Mutasi Covid-19 India

Berikut ulasan berita populer Sains Kompas.com edisi Senin hingga Selasa (3-4 Mei 2021).

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

1. Rumah tertua di dunia ditemukan

Sejumlah arkeolog mengatakan tempat hunian di Gua Wonderwerk di Gurun Kalahari, Afrika Selatan, adalah rumah bagi manusia purba dua juta tahun lalu.

Ini menjadikannya rumah tertua dalam sejarah manusia.

Dalam artikel ilmiah di Quaternary Science Reviews, tim dari Universitas Toronto, Kanada, dan Universitas Hebrew di Yerusalem, menentukan umur tempat hunian dengan menguji sedimen di dalam gua.

Penulis utama di jurnal tersebut, Profesor Ron Shaar, menjelaskan menentukan umur hunian di dalam gua adalah kerja paling menantang tim arkeolog ini.

Solusinya, kata Shaar, tim menganalisis lapisan sedimen setebal 2,5 meter yang mengandung alat-alat batu, sisa-sisa binatang, dan jejak-jejak api dengan menggunakan dua metode: paleomagnetisme dan burial dating.

Untuk mengetahui bagaimana para peneliti melakukan penanggalan rumah tertua itu, baca selengkapnya di sini:

Berusia 2 Juta Tahun, Inilah Rumah Hunian Tertua di Dunia

2. NASA siapkan pemakaman luar angkasa jika ada astronot meninggal

Ilustrasi astronot melakukan spacewalk Ilustrasi astronot melakukan spacewalk

Mengutip IFL Science, Senin (3/5/2021) hal tersebut membuat Badan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) kemudian berusaha untuk berinisiatif untuk menciptakan ide pemakaman di luar angkasa yang sesuai etika.

NASA kemudian meminta beberapa kelompok penelitian untuk merancang ide yang layak untuk pemakaman di luar angkasa.

Bekerja sama dengan perusahaan pemakaman ekologi Promessa, salah satu kelompok mengusulkan gagasan bernama Body Back.

Ide pemakaman di luar angkasa, untuk astronot yang meninggal dunia di sana, terinspirasi dari perjalanan yang akan dilakukan manusia ke Mars.

Apa itu Body Back dan bagaimana memakamkan astronot di antariksa? Baca di sini:

Astronot Meninggal di Luar Angkasa, NASA Rencanakan Pemakaman Ekologis untuk Astronot

3. Kebaikan yang disimpan bakteri tempe

Ilustrasi tempe dibungkus daun pisang. SHUTTERSTOCK/HABIB FARINDRA Ilustrasi tempe dibungkus daun pisang.

Tempe salah satu produk makanan super (superfood) lokal yang murah dan jadi makanan sehari-hari orang Indonesia menarik minat peneliti internasional.

Beberapa riset menunjukkan bahwa mengkonsumsi tempe secara rutin mungkin dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan melindungi sistem pencernaan sehingga bisa mencegah diare.

Riset Theodorus Eko Pramudito menemukan bahwa jumlah bakteri pada tempe berkorelasi positif dengan kemampuan tempe dalam mencegah diare.

Bakteri pada tempe, dengan jumlah dan kondisi tertentu memberikan manfaat kesehatan pada tempe.

Apa saja kebaikan tempe yang ditemukan Eko? Baca di sini:

Riset Temukan, Bakteri di Tempe Tingkatkan Kesehatan dan Cegah Diare

4. Penyebab gusi berdarah saat sikat gigi

Sikat gigi siswa dan siswi SDN Negeri Gunung 01, Jakarta Selatan.KOMPAS.com/Nabilla Tashandra Sikat gigi siswa dan siswi SDN Negeri Gunung 01, Jakarta Selatan.

Gusi berdarah merupakan satu tanda adanya peradangan pada gusi. Kondisi ini dikenal juga dengan gingivitis.

Gingivitis adalah kondisi jaringan gusi yang mengalami peradangan ringan. Karakteristik utama yang tampak jelas biasanya jaringan gusi yang meradang akan terlihat membesar dan warnanya lebih merah.

Selain itu, ditandai pula dengan mudahnya gusi berdarah saat menyikat gigi atau jika memakan makanan yang keras.

Terkadang, pasien yang mengalami gingivitis juga mengeluhkan bau mulut.

Dilansir dari NCBI (13/2/2021), terdapat 5 penyebab gusi berdarah atau gingivitis. Berikut penjelasannya.

  • Plak
  • Infeksi rongga mulut
  • Nutrisi
  • Hormon
  • Konsumsi obat-obatan

Penjelasan selengkapnya, bisa dibaca di sini:

5 Penyebab Gusi Berdarah Saat Menyikat Gigi



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

6 Cara Mengatasi Tubuh Lemas dan Mudah Lelah, Energi Kembali Pulih

6 Cara Mengatasi Tubuh Lemas dan Mudah Lelah, Energi Kembali Pulih

Kita
Cara Mengatasi Demam pada Anak dan Orang Dewasa

Cara Mengatasi Demam pada Anak dan Orang Dewasa

Kita
Gletser Kiamat Terbesar di Antartika Ini Diprediksi Segera Runtuh, Studi Jelaskan

Gletser Kiamat Terbesar di Antartika Ini Diprediksi Segera Runtuh, Studi Jelaskan

Oh Begitu
Ketahui Apa Saja Pemicu Serangan Jantung saat Olahraga dan Ciri-cirinya

Ketahui Apa Saja Pemicu Serangan Jantung saat Olahraga dan Ciri-cirinya

Oh Begitu
Peringatan Dini Gelombang Tinggi di Perairan Aceh hingga Laut Flores

Peringatan Dini Gelombang Tinggi di Perairan Aceh hingga Laut Flores

Fenomena
Potensi Hujan Lebat Disertai Angin Kencang di Yogyakarta hingga Kalimantan Tengah

Potensi Hujan Lebat Disertai Angin Kencang di Yogyakarta hingga Kalimantan Tengah

Fenomena
IDAI: Sekolah Tatap Muka Boleh Kalau Infeksi Covid-19 pada Anak di Bawah 5 Persen

IDAI: Sekolah Tatap Muka Boleh Kalau Infeksi Covid-19 pada Anak di Bawah 5 Persen

Oh Begitu
Ada yang Harum dan Ada yang Busuk, Mengapa Bunga-bunga Berbau?

Ada yang Harum dan Ada yang Busuk, Mengapa Bunga-bunga Berbau?

Prof Cilik
Pertolongan Pertama yang Benar untuk Pasien Henti Jantung

Pertolongan Pertama yang Benar untuk Pasien Henti Jantung

Oh Begitu
3 Dosis Vaksin Covid-19 Tingkatkan Kekebalan Penerima Transplantasi Organ, Studi Jelaskan

3 Dosis Vaksin Covid-19 Tingkatkan Kekebalan Penerima Transplantasi Organ, Studi Jelaskan

Fenomena
Robot Ini Diluncurkan untuk Selidiki Kehidupan Misterius Laut Dalam

Robot Ini Diluncurkan untuk Selidiki Kehidupan Misterius Laut Dalam

Fenomena
T-rex Remaja Disebut Jadi Penyebab Punahnya Dinosaurus Ukuran Sedang

T-rex Remaja Disebut Jadi Penyebab Punahnya Dinosaurus Ukuran Sedang

Fenomena
Banyak Anak Usia 0-18 Tahun di Indonesia Tertular Covid-19, Begini Saran IDAI

Banyak Anak Usia 0-18 Tahun di Indonesia Tertular Covid-19, Begini Saran IDAI

Oh Begitu
7 Makanan Terbaik untuk Kesehatan Paru-paru, Bit hingga Tomat

7 Makanan Terbaik untuk Kesehatan Paru-paru, Bit hingga Tomat

Oh Begitu
Efektivitas Vaksin Covid-19 Melawan Virus Corona Varian Delta

Efektivitas Vaksin Covid-19 Melawan Virus Corona Varian Delta

Oh Begitu
komentar
Close Ads X